Lombok Post
Sudut Pandang

Kasih Sayang yang Tidak Mengenal Hari

sudut pandang

IMAGE masyarakat (terutama remaja) tentang tanggal 14 Februari masih susah di-move on-kan dari hari kasih sayang. Asumsi ini terus terbangun di benak publik seiring dengan terus terkonstruksinya event-event kreatif dan romantis menjelang dan saat tanggal 14 Februari ini tiba.

Berbagai persiapan dilakukan dan beragam acara (baik group maupun berdua bersama pasangan) dipersembahkan untuk menyambut hari yang populer dengan istilah Valentine Day tersebut. Publikasi yang masif lewat berbagai media komunikasi tentang hal ini juga telah berkontribusi untuk memopulerkan keberadaan hari kasih sayang ini di benak masyarakat.

Mengenang dan memperingati hari tertentu untuk dijadikan spirit dalam menjalani hidup sah-sah saja. Tetapi bila hari yang dikenang tersebut tidak dipahami, apalagi bertentangan dengan nilai agama dan budaya serta kearifan lokal, maka hal tersebut menjadi kontraproduktif dengan arah hidup yang hendak dituju.

Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami sejarah dan mengetahui latarbelakang penetapan hari tersebut, termasuk mengenal siapa aktor di balik peristiwa tersebut agar kita tidak menjadi orang yang taklid dalam merayakan sesuatu.

Ada banyak versi cerita tentang sejarah hari kasih sayang yang diperingati setiap 14 Februari. Banyak di antara versi tersebut mengkaitkan dengan sejarah hidup seorang pendeta Kristen bernama Santo Valentine. Konon katanya, pendeta Valentine hidup di suatu kerajaan yang dipimpin oleh Kaisar Claudius yang terkenal kasar dan kejam.

Style Kaisar Claudius sangat tidak disukai Valentine, termasuk ketika sang Kaisar mengeluarkan kebijakan untuk melarang warganya kawin karena dianggap sebagai biang penolakan rakyat untuk terlibat dalam perang. Menurut Kaisar, kecintaan warga terhadap istri dan pasangannya membuat mereka enggan meninggalkan mereka untuk bergabung dengan pasukan perang.

Atas pertimbangan inilah sang Kaisar mengeluarkan larangan pernikahan. Akan tetapi, Pendeta Valentine tetap melakukan pembaitan pernikahan walau dengan cara sembunyi. Namun akhirnya perlawanan ini ketahuan oleh Kaisar sehingga sang pendeta harus menerima hukuman mati dari kerajaan pada tanggal 14 Pebruari 269 M.

Salah satu versi sejarah hari kasih sayang di atas dan juga semua versi lainnya tentang hari kasih sayang selalu menunjukkan bahwa hari kasih sayang sebagai nilai yang universal ternyata lahir dari sejarah komunitas tertentu atau lahir dari sejarah tugas petugas agama tertentu.

Artinya sejarah tersebut tidak tepat diperingati atau diikuti untuk diperingati oleh warga yang beragama lain. Atas pertimbangan ideologis seperti ini maka cukup beralasan bila memperingati hari kasih sayang pada tanggal 14 Februari tidak pantas dilakukan oleh warga yang berbeda agama dan keyakinan dengan Pendeta Santo Valentine.

Setiap agama memiliki koleksi sejarah yang banyak tentang nilai-nilai kasih sayang, sehingga tidak mesti harus merujuk kepada sejarah kasih sayang yang subjektif dari agama lain. Ajaran Islam misalnya memiliki konsep dan ajaran kasih sayang yang luar biasa komplitnya sehingga setiap umatnya memiliki referensi yang banyak untuk mempraktikkan konsep kasih sayang dalam kehidupan.

Secara tegas Nabi Muhammad saw bersabda: a�?Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.a�? (HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan konsep kasih sayang dalam ajaran Islam sangat universal karena melintasi batas agama dan wilayah. a�?Orang-orang penyayang, pasti disayangi Allah. Maka sayangilah setiap penduduk bumi, niscaya engkau akan di sayangi oleh penghuni langit, yakni para malaikat.a�?Demikian hadits Nabi yang diriwayatkan HR. Abu Daud.

Dalam ajaran agama Hindu juga mengenal konsep kasih sayang. Misalnya tentang rasa kasih sayang atau cinta kasih yang dapat direalisasikan dalam bentuk perbuatan angawe sukanikanang won glen; mulai dari mangasihi, menyayangi, dan mencintai diri sendiri, orang tua, saudara sampai kepada Bhatara-Bhatari dan memuncak pada Hyang Widhi.

Dalam ajaran Hindu sendiri apa yang disebut dengan cinta kasih tidak lain merupakan konsep bhakti. Bhakti itu artinya luapan perasaan cinta kasih atau kasih sayang yang dilandasi kebersihan pikiran, kesucian hati dan ketulus iklasan yang tanpa pamrih. Bhakti itu dapat ditujukan kepada orang tua dengan hormat dan patuh padanya. Kepada saudara dengan menghargainya, kepada teman dengan kesetia kawanan dan kepada Bhatara-Bhatari serta Hyang Widhi melalui media persembahan dan atau persembahyangan. Kesemua wujud bhakti tersebut merupakan realisasi dari kasih sayang/cinta kasih yang hakiki. Dan itu bisa dilakukan setiap hari, kapan saja dan dimanapun berada, tanpa harus menunggu tanggal 14 Februari (desatamblang.blogspot.co.id).

Kasih sayang merupakan rasa atau perasaan yang harus selalu ada dalam setiap diri manusia sehingga tidak mesti hadir dan diekspresikan setahun sekali pada tanggal 14 Februari. Kasih sayang juga tidak mengenal usia dan identitas atau tidak hanya dialamatkan pada sepasang kekasih, karena kasih sayang adalah untuk semua sehingga perayaan hari kasih sayang yang dibatasi pada pasangan kekasih atau suami istri bertentangan dengan nilai universal kasih sayang itu sendiri.

Saatnya generasi kita sadar tentang esensi kasih sayang sekaligus melek sejarah tentang valentine day agar mereka tidak terjerumus dalam taklid buta yang menyesatkan. Generasi-generasi setiap agama tidak boleh kehilangan jati diri dan identitasnya. Mereka tidak seharusnya terjebak dan tergiring arus wacana massif perayaan hari kasih sayang pada setiap 14 Pebruari. Bila generasi di luar agama Kristen terperangkap dalam arus tersebut, maka sama halnya mereka terkooptasi oleh pemahaman dan pengamalan kasih sayang yang sempit dari satu agama (agama lain) di saat ajaran kasih sayang yang begitu banyak dari ajaran agamanya sendiri.

Generasi tua, khususnya pemangku kepentingan di bidang keagamaan dan pendidikan sudah seharusnya merapatkan barisanA� untuk membangun jati diri dan memperkuat identitas generasi muda agar bisa memahami makna kasih sayang secara komprehensif dan mengamalkannya secara konsisten sesuai dengan ajaran agama dan nilai budaya serta kearifan lokal masing-masing. Wacana dan gerakan peringatan valentine day yang kian massif mesti ditandingin dengan wacana dan event kasih sayang tandingan tanpa terjebak pada hari tertentu. Dalam konteks inilah perlunya dikampanyekan a�?kasih sayang sepanjang waktu dan setiap tempata�? serta a�?kasih sayang pada dan untuk semuaa�?. Semogaa�� (r8)

Berita Lainnya

Sudah Ikhlaskah Nonpribumi Berindonesia?

Redaksi Lombok Post

Universitas Islam Negeri (UIN) dan Spirit a�?DNAa�? Baru

Redaksi Lombok Post

Selamat Jalan Pengawal Budaya Mbojo

Redaksi Lombok post

Melawan Musuh Bangsa

Redaksi Lombok post

Media Sosial dan Ruang Publik

Redaksi Lombok post

Makna Simbolik Kunjungan Raja Salman

Redaksi Lombok post

Pendidikan Nirkekerasan

Redaksi Lombok post

Habib Rizieq: Antara Benci dan Rindu

Redaksi Lombok post

Negeri Para Penyandera

Redaksi Lombok post