Lombok Post
Selong

Lotim Lebih Baik dari Mataram dan Lobar

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB dr. Nurhandini Eka Dewi. TONI/LOMBOK POST

SELONGA�— Selama ini jumlah kasus penyakit di Lombok Timur (Lotim) selalu yang tertinggi. Hal ini dinilai wajar mengingat jumlah penduduk Lotim yang terbesar di NTB. Namun jika melihatA� perbandingan jumlah kasus dengan jumlah penduduk ternyata Lotim lebih baik dari Mataram dan Lombok Barat.

A�”Untuk kasus demam berdarah secara prevalensi (perbandingan), Mataram lebih tinggi dibanding Lotim. Sementara kasus gizi buruk Lobar yang tertinggi diikuti Bima dan Lotim,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB dr. Nurhandini Eka Dewi.

Data Dinas Kesehatan Provinsi NTB menyebut kasus DBD di Mataram hingga Februari mencapai 111 penderita. Jumlah ini memang lebih kecil dari penderita di Lotim yang per Februari ini mencapai 191 penderita.

“Tapi harus kita lihat dulu pembanding jumlah penduduknya. Mataram pembandingnya sekitar 500 ribu penduduk, sedangkan Lotim sekitar 1,25 juta penduduk. Tentu prevalensinya lebih besar Mataram,” kata dia kepada wartawan.

Sementara untuk kasus gizi buruk, tahun 2016 lalu Lotim memang masih menjadi daerah dengan jumlah kasus gizi buruk terbesar di NTB. Namun jika melihat angka prevalensi, kasus gizi buruk di Lotim lebih kecil dibanding Lombok Barat.

A�”Kalau kasus gizi buruk Lombok Barat yang tertinggi diikuti Kabupaten Dompu dan Lotim,” terangnya.

Dari data Dinas Kesehatan Lotim, angka kasus gizi buruk di Lotim tahun 2016 mencapai 100 lebih. Meningkat dibanding tahun sebelumnya yang hanya berjumlah 75 orang. Kepala Dinas Kesehatan Lotim drg.

Asrul Sani mengungkapkan ada sejumlah faktor penyebab meningkatnya gizi buruk. Diantaranya yakni faktor ekonomi, pola asuh keluarga yang kurang tepat hingga pernikahan dini.

“Banyak kasus gizi buruk yang juga disebabkan adanya penyakit sertaan pada balita. Ini yang sulit tertangani. Karena biasanya penyakit penyerta itu menyebabkan gizi buruk atau sebaliknya gizi buruk yang menyebabkan adanya penyakit penyertanya,” terang Asrul.

A�Untuk menekan angka gizi buruk di Lotim, saat ini pihak Dikes menguatkan pemantauan terhadap balita mulai dari Puskesmas. Dimana para petugas gizi di setiap Puskesmas diminta berkoordinasi untuk terus memantau kondisi balita di masing-masing wilayah kerjanya. (ton/r2)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost

IGI Pertanyakan Kebijakan Sukiman

Redaksi LombokPost

26 Oven Untuk Petani Tembakau Lotim

Redaksi LombokPost

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

Ditilang, Siswa Madrasah Nangis Minta Pulang

Redaksi LombokPost