Lombok Post
Dialog Jum'at

Kriteria dan Hakikat Pemimpin dalam Islam

TGH Safwan Hakim

Assalamua��alaikum Wr. Wb

Alhamdulillah, segala pujian hanya bagi Allah atas semua nikmat dan karunia yang tidak terbatas kepada hamba-hamba-Nya, utamanya nikmat Iman dan Islam. Selawat salam kepada yang mulia Nabi akhir zaman Nabi Muhammad saw, juga kepada keluarga dan sahabat-sahabat beliau.

Pembaca Rahimakumullah!

Salah satu unsur dalam hidup ini yang sangat mendasar adalah keberadaan pemimpin di tengah-tengah masyarakat. Jika terdapat tiga orang saja jumlah kumpulan manusia, salah satunya harus ada yang menjadi pemimpin. Jumlah yang sangat kecil saja diharuskan adanya pemimpin, karena demikian pentingnya mengangkat pemimpin dalam islam.

Secara syariat, hidup tanpa pemimpin atau Imam adalah haram atau berdosa, bagaimana dengan kumpulan orang yang lebih besar, puluhan, ribuan, ratusan, jutaan, bahkan mencapai miliaran, maka kebutuhannya terhadap keberadaan pemimpin menjadi sangat besar dan super penting.

Mengingat hal-hal di atas, ketentuan dan kriteria pemimpin dalam Islam diatur tidak semata ijtihad para ulama, atau sekedar pemikiran semata, tapi diatur secara mendasar dalam al-Quran dan hadist Rasulullah saw. Karenanya, bagi orang beriman tidak dapat menyepelekan ketentuan-ketentuan tersebut baik dalam pemilihan ketua RT, RW, Kadus, Kades, Camat, Bupati, Gubernur sampai pemilihan Presiden.

Alquran dan Hadits sebagai pedoman hidup umat Islam, sudah mengatur sejak awal bagaimana seharusnya kita memilih dan menjadi seorang pemimpin. Kepemimpinan dalam pandangan Alquran bukan sekedar kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi merupakan ikatan perjanjian antara dia dengan Allah swt.

 

Di antara ketentuan-ketentuan syaraa�� yang paling mendasar adalah ketentuan bahwa pemimpin itu harus beriman kepada Allah swt dan beriman kepada rukun-rukun Iman lainnya, sesuai dengan Alquran surat Ali Imran ayat 28, artinya : a�?Janganlah orang-orang yang beriman menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman. Barang siapa berbuat demikian, niscaya dia tidak akan memperoleh ampunan dari Allah, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)nya dan hanya kepada Allah tempat kembali.a�?

Masih banyak lagi ayat-ayat Alquran senada dengan itu, intinya selain kita dilarang menjadikan orang kafir menjadi pemimpin, juga dilarang menjadikan mereka teman akrab dan juga menjadikan mereka pelindung.

Berkaitan dengan itu, semua dapat dipahami dari ayat-ayat Alquran berikut: pada surat al-Maidah ayat 51, pada surat al-Taubah ayat 23, pada surat al-Mumtahanah ayat 9, dan masih banyak lagi ayat-ayat yang tidak dapat kami sebutkan pada tulisan yang singkat ini.

Selain Iman, maka syarat pemimpin yang beriman tersebut adalah keahlian, kemampuan, bersifat adil, sidiq, amanah, tabligh, fathanah. Secara singkat Rasulullah jelaskan dalam sabdanya yang sangat populer, artinya: a�?Apabila suatu urusan (apa saja: pemerintahan, atau lainnya) diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya (atau bidangnya), maka tunggulah kiamatnya (kehancuran, kegagalannya).a�?

Pemimpin sering disebut khadimul ummah (pelayan umat), seorang pemimpin harus menempatkan diri pada posisi sebagai pelayan masyarakat, bukan minta dilayani. Dengan demikian, hakikat pemimpin sejati adalah seorang pemimpin yang sanggup dan bersedia menjalankan amanat Allah SWT untuk mengurus dan melayani umat/masyarakat.

 

Hakikat kepemimpinan adalah amanah, titipan Allah swt, bukan sesuatu yang diminta apalagi dikejar dan diperebutkan. Sebab, kepemimpinan melahirkan kekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk memudahkan dalam menjalankan tanggung jawab melayani masyarakat.

 

Semakin tinggi kekuasaan seseorang, hendaknya semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Bukan sebaliknya, digunakan sebagai peluang untuk memperkaya diri, bertindak zalim dan sewenang-wenang.

 

Beberapa hal yang kami sampaikan di atas hendaknya menjadi acuan utama umat Islam dalam memilih pemimpin atau dalam pengelolaan apa saja dari perkara yang sekecil-kecilnya sampai urusan yang besar, urusan keluarga sampai urusan umat yang lebih besar. Demikian pula dalam urusan pengelolaan: menjaga pintu sampai mengurus pabrik-pabrik dan perusahaan-peruahaan yang besar, lebih-lebih yang berkaitan dengan teknologi tinggi.

Semoga semua urusan kita dapat terlaksana dengan baik dengan mendapatkan pertolongan dan ridho Allah swt. Amin ya Rabbal alamin. (r8)

Berita Lainnya

Nyantri di Ponpes

Redaksi Lombok Post

Selamat Anis-Sandi

Redaksi Lombok Post

Merasa Kurang

Redaksi Lombok post

Komitmen pada Diri Sendiri

Redaksi Lombok post

KH Hasyim Muzadi

Redaksi Lombok post

Pasca-Kunjungan Raja

Redaksi Lombok post

Menjaga Kesucian Alquran

Redaksi Lombok post

Kunjungan Raja Saudi

Redaksi Lombok post

Ikhtiar Tepat Waktu

Redaksi Lombok post