Lombok Post
Metropolis

Pasar Gelap Picu Kelangkaan

ANGKUT LPG: Truk tampak mengangkut tabung gas LPG 3 kg kategori bersubsidi belum lama ini di Kota Mataram. Ivan/Lombok Post

MATARAM – Kelangkaan LPG 3 Kilogram (Kg) kategori subsidi di Kota Mataram menurut analisa ekonom tidak hanya disebabkan oleh stok tahun 2017 belum tersuplai. Tetapi juga ada faktor kelancaran distribusi subsidi yang tidak tepat sasaran dan pasar gelap.

Salah satu pengamat Ekonomi Universitas Mataram Sahri menilai, jika pun kuota tabung LPG 3 Kg sudah terdistribusi, ia menilai itu hanya solusi sementara.

a�?Kalau tiga persoalan ini tidak bisa diantisipasi dengan baik, kelangkaan pasti terjadi lagi suatu saat ini,a�? kata Sahri.

Ia melanjutkan, pemerintah harus punya atensi khusus pada persoalan distribusi LPG. Sebab, adanya perbedaan harga di sejumlah tempat terbukti mendorong aksi sejumlah orang untuk mengambil keuntungan dari persoalan ini.

a�?Harga di daerah A berbeda dengan di daerah B, akibatnya ada orang yang cari keuntungan dengan memanfaatkan situasi ini,a�? sambungnya.

Karena itu, pemerintah harus bisa menjamin kesamaan harga ini. Jika tidak ingin adanya pengaruh terhadap kesediaan stok di satu daerah.

Sahri meyakini, jika persoalan perbedaan harga ini terselesaikan, maka tidak akan ada lagi aksi sejumlah pedagang yang memanfaatkan momentum cari untung dari perbedaan harga.

a�?Lalu aksi cari untung ini juga sering disebut dalam hukum ekonomi sebagai pasar gelap,a�? lanjutnya.

Proses transaksi ini tidak mengikuti mekanisme yang selama ini sudah di legalkan pemerintah. Para pelaku memanfaatkan cara yang melawan kebijakan resmi pemerintah. Terutama terkait distribusi barang-barang bersubsidi.

“Stok di setiap daerah kan sudah di tetapkan kuotanya masing-masing dan jumlahnya telah disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang membutuhkan subsidi di tempat itu,a�? lanjutnya.

Harusnya, kata Sahri, kalau stok ini di gulirkan dengan benar, sebenarnya kelangkaan LPG juga tidak akan terjadi. Tetapi Sahri menyebutkan ada aksi pemicu yang akhirnya membuat stok yang ada selalu kurang. Padahal sudah disesuaikan dengan pertumbuhan penduduk kelas menengah ke bawah dan usaha kecil menengah.

“Jadi distribusi LPG tidak tepat sasaran,a�? ujarnya.

Kenyataanya, lanjut dia, tidak bisa di tutupi subsidi yang selama ini diperuntukan bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah itu juga kerap dinikmati kalangan menengah ke atas. Karena itu, tidak heran jika kelangkaan akan terus terjadi. Jika kesadaran masyarakat akan pentingnya subsidi tepat sasaran rendah.

a�?Banyak usaha yang termasuk industri menengah ke atas lalu orang yang tergolong mampu ikut menikmati LPG subsidi ini,a�? cetusnya.

Bagi Sahri, ini sangat meresahkan. Sehingga dampak perbaikan ekonomi secara menyeluruh yang merupakan semangat dari subsidi tidak pernah bisa tercapai.

Tak terkecuali di kota Mataram. Ia melihat banyak masyarakatnya yang tergolong mampu harusnya menggunakan LPG non subsidi justru berebut a�?kuea�� dengan rakyat ekonomi rendah.

a�?Saya kira mental ini yang harus dibenahi dan pemerintah bisa mengambil peran untuk mengedukasi masyarakat yang notabene adalah orang-orang yang paham dan pintar,a�? tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram Lalu Alwan Basri mengaku belum mendapat informasi dari Asisten 2 Setda Kota Mataram yang mendampingi wali kota bertemu pemerintah pusat membicarakan penambahan kuota LPG. Namun ia yakin, akan ada penambahan kuota yang diterima Kota Mataram di tahun 2017.

a�?Kan beliau (asisten 2) baru kemarin kembali (dari Kementerian ESDM),a�? ujarnya.

Namun terkait antisipasi persoalan stok dan distribusi LPG 3 Kg di Mataram, Alwan berjanji akan segera berkoordinasi dengan Pertamina. Langkah ini lanjut Alwan dalam rangka pemetaan tugas dan fungsi distributor dan pemerintah daerah untuk mengawal penjualan tepat sasaran. (zad/r5)

Berita Lainnya

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost