Metropolis

a�?Si Meraha�? Ini Bisa Jadi Penyelamat

Mungkin ada yang tidak tahu, apa fungsi benda yang identik dengan warna merah kerap ditemui menonjol di sekitar bangunan besar. Iya, hydrant. Tapi apakah semua hydrant berfungsi? Atau hanya sekadar pelengkap properti saja?

***

GELIAT pembangunan di Kota Mataram semakin pesat. Arus investasi yang deras berbanding terbalik dengan luas lahan perkotaan yang relatif sempit. Hanya 61 kilometer pesegi. Dampaknya, bangunan-bangunan usaha dan perumahan di kota mulai berdempet-dempetan.

Memang cara ini sangat efisien mengurangi kebutuhan lahan pembangunan. Tetapi ada resiko besar mengancam di sana: Kebakaran!

Jika terjadi kebakaran, banyak bangunan sekitar berpotensi terancam ikut dilalap si jago merah. Karena itu, diperlukan sistem alat pengamanan antisipatif. Agar api tidak sempat meluas. Kususnya di gedung-gedung besar seperti hotel, pusat perbelanjaan dan perkantoran dengan lantai lebih dari dua. Semuanya diwajibkan, melengkapi diri dengan alat pengamanan untuk kebakaran.

a�?Alat pemadam kami berfungsi semua,a�? kata General Manager Hotel Lombok Raya I Gusti Lanang Patra.

Ia menjelaskan, ada beberapa alat pengaman pemadam kebakaran yang telah disiapkan pihaknya. Dari alat pemadam karbondioksida (CO2), dry chemical powder dan hydrant. Alat yang terakhir ini, Lanang jamin berfungsi. Terbagi dalam dua titik. Ada yang diindor dan otudor.

a�?Kami chek alat-alat ini dengan cara dipakai untuk nyiram. Dari situ kita tahu hydrantnya masih berfungsi atau tidak,a�? tuturnya.

Memanfaatkan hydrant untuk menyiram, selain memastikan alatnya masih berfungsi juga dapat menghindari tumbuhnya lumut di dalam selang-selang. Inilah yang kerap membuat aliran air jadi tersumbat. Apalagi air hiydrat memang tidak harus berupa air bersih. Sebab, fungsinya memang hanya untuk mematikan api saat terjadi kebakaran.

a�?Tetapi kami upayakan tetap bersih. Supaya airnya bisa di pakai dari menyiram sampai mencuci alat-alat dapur. Ini juga untuk memastikan alatnya berfungsi dengan baik,a�? terangnya.

Sistem hydrant terintegrasi dengan tabung atau ground tank. Air di dalam tabung tidak boleh kosong. Harus terisi penuh. Tetapi seperti di Hotel Lombok Raya, Lanang menuturkan jika tabung terintegrasi dengan kolam renang. Sehingga sewaktu-waktu jika air di dalam tabung habis, maka tinggal membuka kran kolam renang untuk mengisi dengan cepat.

a�?Kami juga rutin menggelar latihan pemadam kebakaran setiap tiga bulan sekali,a�? tambanya.

Latihan ini dalam bentuk simulasi. Jika terjadi kebakaran, para karyawan hotel bisa langsung tahu apa yang harus dilakukan. Lanang menjelaskan, jika terjadi kebakaran maka yang mengambil alih komando keamanan adalah tim enginering dan scurity.

a�?Merekalah yang jadi komandan keamanan kami. Bukan lagi pimpinan,a�? ujarnya.

Para komando akan mengambil semua peralatan pemadam. Dari karbondioksida sampai mengoperasikan hydrant. Alat-alat itu adalah yang telah lulus uji tera ulang dan dinyatakan siap difungsikan. Terutama saat terjadi kondisi darurat sewaktu-waktu.

a�?Alat-alat itu ada masa kedaluwarsanya. Biasanya dulu ada dari pihak Disnaker yang melakukan pengechekan untuk alat-alat ini,a�? terangnya.

Lanang yang juga menjadi Dewan Pembina Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengatakan, memang ada penekan terutama pada hotel-hotel yang tergabung di dalam PHRI untuk memiliki memiliki peralatan pemadam kebakaran dan hydrant. Namun ada fakta menarik yang disampaikan Lanang jika ternyata ada juga hotel yang belum punya. Hanya saja data persisnya diketahui Disnaker.

a�?Ada juga yang tidak punya. Seharusnya semua hotel minimal kalau sudah dua lantai harus punya itu. Bahkan hotel-hotel melati ada yang tidak punya dry chemical powder,a�? ungkapnya.

Disdamkar Siap Turun

Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Disdamkar) Kota Mataram Ki Agus M Idrus belum bisa memberikan data pasti apakah hydrant di hotel, gedung dan perkantoran masih berfungsi atau tidak. Ia beralasan baru saja masuk di dinas ini dan perlu mempelajari data-data yang ada dan berkoordinasi dengan dinas yang menangani terkait hydrant selama ini.

a�?Kita baru masuk bekerja di Disdamkar beberapa minggu ini,a�? kelit Agus.

Rencananya, ia ingin mengecek kesiapan hydrant di berbagai kantor apakah masih berfungsi dengan baik atau sudah rusak. Langkah ini penting agar ke depan pihaknya bisa memangkas waktu pelayanan. Jika terjadi kebakaran, timnya bisa begerak cepat dengan hanya membawa selang saja ke tempat kejadian. Sementara mobil tanki damkar bisa menyusul.

a�?Iya kalau itu berfungsi dengan baik, kita bisa tangani cepat pasang selang di hydrant,a�? terangnya.

Jika diamanti, penanganan kebakaran selama ini memang kerap terkendala stok air yang dibawa mobil tanki. Pada saat air habis maka mereka harus berputar mencari stok air di lokasi terdekat. Padahal api bisa lebih cepat menjalar.

a�?Saya belum berani mengatakan (berapa hydrant) yang tidak berfungsi (di kota). Karena kami belum turun untuk mengechek,a�? ujarnya.

Jika mengacu pada Undang-undang nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung Hydrant memang dinilai wajib dimiliki. Agus pun berniat membentuk tim lintas sektoral. Di antaranya Disnaker dan Perizinan untuk mengawasi agar setiap hotel, pusat perbelanjaan dan perkantoran agar memiliki hydrant ini.

a�?Kalau sudah berlantai dua ya kita harapkan punya ini,a�? tandasnya.

Sementara itu, anggota Komisi III DPRD Kota Mataram I Ketut Sugiartha menilai sudah seharusnya bangunan-bangunan besar di kota dilengkapi dengan hydrant. Tidak hanya sebagai aksesoris dan hanya sekedar melengkapi persyaratan bangunan besar, tetapi juga harus dijamin berfungsi dengan baik.

a�?Makanya, kami rasa perlu untuk mulai fokus mengawasi ini juga,a�? Kata Sugiartha.

Apalagi di tengah gencar dan masifnya pembangunan di ibu kota provinsi ini. Jumlah bangunan yang berdempet-dempetan dengan lantai lebih dari dua tentu harus memenuhi standar keamanan. Termasuk dari ancaman kebakaran.

Bagaimanapun lanjut dia, sudah banyak bukti perencanaan yang kurang baik dan sistem pengendali kebakaran yang tidak disiapkan dengan matang, terbukti membawa kerugian tyang sangat besar. Terutama di daerah dengan intensitas bangunan yang sangat padat.

a�?Hotel, gedung, perkantoran bahkan pasar tradisional sebenarnya harus dilengkapi dengan hydrant,a�? terangnya.

Tetapi persoalannya, saat ini khususnya pasar tradisional memang tidak memiliki hydrant. Padahal kawasan ini termasuk rentan dengan kebakaran. Begitu juga dengan di hotel dan perkantoran. Pengawasan terhadap properti pengaman kebakaran ini memang perlu ditingkatkan.

a�?Iya kalau dulu kan ada Disnaker yang fokus mengawasi ini,a�? ujarnya.

Disnaker yang secara periodik melakukan pengawasan dan pengecekan terhadap peralatan-peralatan pemadam kebakaran. Selain itu memberi pelatihan juga pada karyawan yang bekerja di tempat itu, bagaimana menggunakan alat-alat yang ada. Sembari menunggu bantuan dari Damkar.

a�?Tapi saya rasa, pengawasan ini perlu diperketat lagi. Terutama pada gedung-gedung tinggi. Begitu juga aturan yang mengharuskan area pasar tradisional memiliki hydrant,a�? terangnya.

Pengecekan sistem sensorik yang memicu bunyi alarm, deteksi asap harus juga dipastikan bekerja dengan baik. Bagaimanapun lanjut dia, sistem keamanan kebakaran yang baik, akan memunculkan rasa tenang dan nyaman para karyawan hingga tamu yang hadir.

a�?Semuanya tentu untuk kebaikan bersama juga. Kalau hotel sistem pengaman kebakarannya bekerja, tentu tamu-tamu hotel bisa istirahat dengan nyaman. Itu bisa meningkatkan kepercayaan mereka,a�? ulasnya.

Bagaimana bagi hotel yang belum punya hydrant? a�?Harus punya. Hotel melati juga penting. Minimal alat semprot pemadam karbodioksida. In sudah standar baku dan sudah saatnya kita penuhi,a�? tegasnya. (zad/r3)

Related posts

Kisruh Toko di Cakranegara, Pedangang Tolak Negosiasi

Redaksi Lombok Post

Makin Bandel, Satpol PP Mataram Ancam Penjarakan Para Penjual Tuak

Redaksi Lombok Post

Jantung Koroner Mulai Suka a�?Daun Mudaa�?

Redaksi Lombok Post