Lombok Post
Metropolis

Setahun Bekerja Delapan Bulan, Sisanya Dakwah

CARI PAHALA: Sahdi berbagi kisah selama bergabung dengan jamaah tabligh di Masjid At Taqwa Mataram, belum lama ini. Lalu Mohammad/Lombok Post

Banyak jalan menuju Roma. Banyak ragam pula, cara orang mencari keridhoan Tuhannya. Sahdi, salah satu jemaah tabligh, menuturkan suka dukanya. Berikut ceritanya!

***

BEBERAPA orang tampak berbaring santai di lantai dua Masjid At Taqwa Mataram. Mereka masih terlelap dalam tidur. Potongan-potong pakaian, tergantung di jendela-jendela masjid. Terlihat tak beraturan memang. Tempat itu, lebih mirip kos-kosan. Atau mungkin markas? Berbeda dengan di lantai satu. Lebih bersih.

Tetapi itu sudah biasa. Toh, lantai dua jarang dipakai salat. Lantainya pun terlihat tampak bedebu dan kotor. Ada genangan air juga. Entah dari mana. Tetapi pria-pria bergamis putih itu nampak betah di sana.

a�?Asalamualaikum,a�? sapa seorang pria. Jidatnya tampak menghitam.

Ia terlihat masih kedinginan. Kulitnya, memutih dan kisut. Seperti terlalu lama berendam. Suaranya juga terdengar menggigigil. Nama pria itu Sahdi. Asal Pelembak Ampenan Utara. Usinya sebentar lagi kepala empat. Persisnya 38 tahun.

Saking asyiknya ngobrol, Sahdi sampai lupa memasang gamisnya yang baru masuk hingga selengan. Pada Lombok Post, ia banyak bercerita perjalanan ia berdakwah mencari keridhoan Ilahi.

Ada yang menggelitik dari penampilannya. Tidak seperti kebanyakan jamaah lainnya yang memelihara jenggot. Sahdi lebih memilih mencukurnya. Sempat digurau, nanti tidak ada tempat bidadari bergelantungan, Sahdi menjawab sejuk.

a�?Satu helai jenggot sama dengan satu bidadari itu bukan dalam arti harfiah,a�? terangnya kemudian. Bahasanya terdengar santun, tetapi cukup oratif.

Ia lalu menjelaskan makna dari segi amalannya. Satu helai jenggot maknanya, satu semangat dan kesiapan menjaga sunnah rasul. Memegang kuat ajarannya dan mensiarkan pada orang lain. Karena itu, jenggot bukan berarti tidak boleh dipotong. Boleh saja. Tetapi semangat dan ajaran kebaikan Rasulullah harus terpelihara dengan baik dalam diri.

a�?Saya wiraswasta,a�? tuturnya kemudian.

Persisnya, Sahdi adalah tukang bangunan. Tetapi, walau menyandang status buruh bangunan lokal, pengalaman Sahdi boleh jadi lebih seru dari kebanyakan orang. Hanya dengan rajin menyisihkan rizki, ia telah berpergian ke mancanegara. Kalau cuma Malaysia dan Singapura jangan ditanya. Sudah berkali-kali dia ke sana.

a�?Sampai India dan Bangladesh,a�? tuturnya.

Ada satu anggapan keliru yang ingin diluruskan Sahdi. Jamaah Tabligh bukanlah orang yang hanya berpergian dakwah saja. Ada satu lontaran kalimat yang sering diplesetkan terlalu sadis oleh orang yang tidak suka dengan gerakan mereka.

a�?Ungkapan bahwa yang menjaga anak dan istri selama kami pergi tabligh adalah Allah SWT, ini sering disalahartikan,a�? tuturnya.

Ia kerap dicemooh. Dianggap terlalu mengartikan secara harfiah makna itu. Seolah-olah dengan mengatakan anak istri dijaga Allah SWT, lalu tidak pernah menafkahi dan bekerja. Padahal tidak seperti itu. Sahdi menuturkan dalam satu tahun, ada 12 bulan.

a�?Delapan bulan kami gunakan untuk mencari rizki, sementara empat bulan kami gunakan untuk syiar agama Islam. Itulah yang sebenarnya kami lakukan,a�? terangnya.

Tetapi oleh para pembenci, mereka selalu dituding menelantarkan anak istri. Padahal tidak demikian. Buktinya, lanjut Sahdi hanya dengan bekerja delapan bulan, ia sudah bisa menyapkan nafkah lahir bagi anak istrinya. Bahkan dia memiliki ongkos berpergian ke luar negeri.

a�?Dari bekerja delapan bulan itu. Alhamdulillah saya juga heran. Saya yakin ini ridho Allah SWT. Selalu ada rizki untuk biaya ke luar negeri,a�? tuturnya.

Di dalam Jamaah Tabligh, Sahdi ditugaskan masuk ke jamaah gerak. Mereka bertugas mendatangi rumah-rumah warga. Mengajak mereka mendatangi masjid dan meramaikannya. Menariknya, karena harus mengajak orang, tentu ia harus menguasai bahasa suatu negara jika mengajak umat Islam di sana mendatangi masjid.

a�?Alhamdullillah, bisa (bahasa India dan Bangladesh),a�? jawabnya malu-malu.

Sahdi lalu menjukan beberapa kalimat dalam bahasa India dan Bangladesh. Sebuah kalimat ajakan untuk mendatangi masjid, meramaikan dan salat berjamaah. Ia terlihat fasih. Meski di sela-sela kalimatnya, beberapa kali ia terlihat tersipu malu.

A�a�?Saya hanya lulusan SMA,a�? jawabnya.

Di penghujung perbincangan, Sahdi mengatakan, hari kiamat makin dekat. Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk memperbanyak ibadah. Mempertebal iman dan ketakwaan. Agar saat tiba hari pembalasan nanti selamat sampai surga yang dijanjikan.

a�?Kita memang telah tiba di akhir zaman. Tanda-tanda kiamat sudah banyak. Mari bertaubat,a�? ajaknya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r3)

Berita Lainnya

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost