Lombok Post
Metropolis

Tukang Sayur Adukan BSK ke OJK

HARAP-HARAP CEMAS : Isnaini melaporkan Bank BSK pada Kepala OJK NTB Yusri atas tudingan penipuan pada nasabah, Jumat (17/2) lalu. Lalu Mohammad/Lombok Post

MATARAM – Seorang pedagang sayur di Pasar Mandalika, Isnaini asal Lendang Lekong, Turida Mataram melaporkan Bank Samawa Kencana (BSK) Cabang Mataram ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTB. Laporan ini berawal dari tudingan penipuan yang dilakukan pihak BSK Cabang Mataram yang diduga menggelapkan uang tabungannya.

a�?Saya nabung sedikit demi sedikit. Sejak sekitar dua tahun lalu. Sampai total tabungan saya (yang tertulis di buku tabungan) Rp 25.800.000,a�? kata Isnaini dengan wajah resah.

Ia mengaku susah payah menyisihkan uangnya dari keuntungan berdagang sayur di Pasar Mandalika, pada karyawan Bank BSK berinisial J. Awalnya, Isnaini sempat merasa janggal dengan bukti stor yang diserahkan J. Sebab, tinta bukti setor itu ternyata dalam tiga hari langsung pudar.

Tetapi ia kemudian tak menghiraukannya. Karena di buku tabungannya, tertulis dengan tinta yang tahan lama. a�?Ya namanya kita orang bodoh pak. Ndak mikir ini itu. Saya cuma mau punya tabungan,a�? tuturnya.

Ia baru menyadari ada persoalan serius dengan tabungannya saat hendak mencairkan tabungan akhir puasa tahun 2016 lalu. Saat itu Isnaini dapat kabar mengejutkan. Dari pengakuan J, tabungannya diblokir.

Ia lalu berupaya mencairkan langsung di kantor BSK Cabang Mataram beralamat di Karang Baru, Kecamatan Selaparang. Tetapi nihil. Di sistem Bank BSK, saldo yang tertera hanya Rp 10 ribu saja.

a�?Saya lalu minta pertanggung jawaban bank, tapi kata mereka karyawannya yang namanya J itu sudah berhenti,a�? tuturnya.

Menariknya dari pengakuan Isnaini, pihak bank bahkan meminta buku tabungannya. Dengan alasan untuk di laporkan pada pimpinan cabang. Bukti-bukti setoran yang menyertai pun ikut di dalam buku tabungan itu.

a�?Katanya saat itu, buku tabungan dibutuhkan untuk dilaporkan pada pimpinannya. Tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan. Bahkan saya sudah bolak-balik ke sana, tapi kata Pak Said (Wakil Pimpinan Cabang BSK Mataram, Red) minta saya sabar-sabar,a�? ungkapnya sedih.

Isnaini mengaku, bukan hanya dirinya saja yang ditipu. Bahkan ada beberapa rekan-rekannya sesama pedagang, mengalami kasus sama. Tetapi hanya dirinya yang melapor, karena saldonya cukup besar.

a�?Ada juga yang lain, tapi males (lapor) karena tabungan kecil,a�? tuturnya.

Wakil Pimpinan Cabang BSK Mataram Muhammad Said terlihat bingung menjelaskan kasus yang dialami Isnaini. Dengan suara yang sangat pelan, ia membenarkan karyawannya atas nama J telah resign.

a�?Sekitar satu tahun lalu, setelah kasus ini,a�? kata Said.

Namun menariknya, dari keterangan Said, ia mengklaim telah melaporkan persoalan ini pada polisi. Secara spesifik ia menjelaskan jika laporan dibuat pada bulan Januari 2017. Hanya saja, Said mengaku tidak hafal berapa nomer laporan, karena sudah diserahkan pada pengacara.

a�?Sudah lapor ke OJK juga,a�? tambahnya.

Namun menariknya, keterangan Said terkesan mempertanyakan juga data dan bukti laporan Isnaini. Menurutnya, karyawan BSK menggunakan sistem debt collect dengan mengeluarkan bukti tabungan.

a�?Harus lengkap (bukti-bukti). Harus diberikan nasabah,a�? terangnya.

Pengakuian ini seperti menegaskan Said tahu betul tentang persoalan bukti setor yang mudah luntur. Tetapi Said kemudian buru-buru kembali mengatakan jika ada persoalan di mesin pencetak bukti setor.

a�?Dia (J) permainkan alatnya, kayaknya dengan canggih (sehingga bisa menipu konsumen dan bank),a�? cetusnya.

Menariknya lagi, Said juga menjadikan adanya upaya penyerahan motor oleh J pada Isnaini sebagai alibi persoalan ini ada tendensi lain. Sebelumnya, motor itu disebutkan sebagai jaminan J, bahwa uang Isnaini tidak lama lagi cair.Tetapi, Isnaini menolak.

a�?Kita ndak tahu secara pribadi ya. Dia urusan pribadi secara pribadi (penyerahan motor itu),a�? kelitnya.

Setelah di desak beberapa kali, Said menjanjikan persoalan ini akan segera selesai dalam waktu satu bulan. Saat ini pihaknya belum bisa mengambil keputusan karena harus menunggu hasil tindak lanjut laporan yang dibuat ke polisi.

a�?Kita sudah buat laporan di Polres Mataram,a�? tutupnya.

Sementara itu, Kepala OJK NTB Yusri berjanji akan segera menemui direksi bank BSK. Hanya saja, Yusri menyayangkan kenapa Isnaini menyerahkan buku tabungannya pada pihak bank. Harusnya juga, lanjut dia pihak bank tidak perlu meminta buku tabungan nasabah, karena semua sudah terekam dalam sistem.

a�?Buku tabungan itu haknya nasabah, jadi harusnya tidak diserahkan pada bank,a�? ujar Yusri.

Ia juga sempat mengerutkan dahi, terkait informasi bukti setor yang dikeluarkan ternyata tintanya mudah terhapus dalam hitungan hari. Yusri mengatakan, tidak ada alasan bagi bank menggunakan alat dan tinta seperti itu. Bukti setor harus bisa tahan lama sehingga sewaktu-waktu jika ada persoalan bisa dituntaskan.

a�?Tidak boleh menggunakan yang mudah luntur. Harus bertahun-tahun bahkan puluhan tahun,a�? tegasnya.

Yusri sempat menelpon direksi bank BSK. Agar ada klarifikasi lanjutan terkait kasus ini. Menurutnya, OJK punya kepentingan untuk melindungi, dari kasus-kasus yang merugikan nasabah.

a�?Kami akan segera kabarkan perkembangan selanjutnya setelah kami melakukan pertemuan dengan direksinya,a�? tutupnya. (zad/r3)

Berita Lainnya

Kekayaan Tersembunyi Pantai Penghulu Agung Ampenan

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Jalan di Tempat

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost