Lombok Post
Metropolis

Harga Cabai “Gila” Lagi

MASIH MAHAL: Salah satu pedagang cabai di Pasar Kebon Roeq H Ismawati, menunggu pembeli hingga siang hari, Minggu (19/2). Lalu Mohammad/Lombok Post

MATARAM – Sejak mengalami gejolak harga awal Januari 2017 lalu, harga cabai nyaris tak pernah turun. Malah justru semakin menggila.

Buktinya, kini harga cabai di sejumlah pasar tradisional menembus Rp 150 ribu perkilo gram (Kg). Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram H Mutawalli, mengatakan gejolak harga cabai ini sudah menasional.

“Bapak Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, awal Februari lalu datang ke sini untuk meminta stok cabai NTB agar disuplai penuh ke wilayah Jawa. Karena perintahnya seperti itu, ya terpaksa kita mengalah,a�? kata Mutawalli.

Ia juga membenarkan adanya kemungkinan mafia yang bermain di balik harga cabai yang makin menggila hingga saat ini. Bahkan, dengan adanya ketetapan untuk mengamankan kebutuhan nasional terutama di daerah Jawa, harga cabai di Mataram diprediksi bisa menembus Rp 160 ribu.

a�?Ini juga mau naik lagi, bisa jadi Rp 160 ribu,a�? ungkapnya.

Dari informasi yang diperoleh Mutawalli, para mafia disebut bermain di balik harga gila-gilaan ini. Stok cabai dibuat kolaps. Sehingga, ada peluang membuka kran impor dari negara luar seperti Thailand dan Vietnam.

Cara-cara ini, lanjut dia, memang sudah bisa dibaca pemerintah. Sehingga, perlunya melakukan jaring pengaman terlebih dahulu.

a�?Kita juga tidak tahu ini mau sampai kapan. Kita juga belum menentukan langkah apa yang baik untuk mengamankan pasar lokal,a�? terangnya.

Mutawalli yakin, adanya bencana di beberapa daerah, seperti Lombok Timur, Sumbawa dan Kota Bima beberapa waktu lalu bukan penyebab di balik kenaikan harga. Ia lebih yakin ada spekulan dan mafia yang bermain di balik harga yang sulit turun dalam dua bulan terakhir.

a�?Seperti di Lombok Timur misalnya, bencana kan di Sambelia sedangkan petani cabai di Aikmel dan sekitarnya. Jadi saya rasa bukan karena bencana atau cuaca,a�? tandasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram Lalu Alwan Basri, sudah turun untuk melihat gejolak harga di pasar tradisional. Alwan terus berupaya agar distribusi cabai tetap lancar. Sehingga harga tidak melonjak lebih gila lagi.

“Kami terus pantau agar distribusi cabai tetap bisa masuk ke kota,a�? terangnya.

Hanya saja, Alwan menambahkan, dampak dari cuaca ekstrem sampai tibanya musim panen cabai masih terasa sampai saat ini. Dalam waktu dekat, dirinya juga merasa perlu untuk melakukan koordinasi dengan pihak-pihak yang memiliki konsern terhadap pemenuhan kebutuhan cabai daerah.

“Kami memang perlu melakukan koordinasi lagi, terutama dengan Dinas Pertanian,a�? tandasnya.

Di pasar Kebon Roek, salah satu pedagang Cabai Hj Ismawati mengaku bingung dengan harga cabai yang tidak turun-turun. Sudah dua bulan lamanya, harga ini membuat pedagang dan pembeli kelimpungan.

a�?Saya beli di bertais harganya Rp 140 ribu pak, terus saya jual Rp 150 ribu,a�? kata Isma.

Dengan kenaikan harga ini, ia mengaku sudah tidak berani lagi menjual cabai seharga Rp 2 ribu. Sebab dirinya takut rugi. Ia hanya berani menjual jika pembeli menyodorkan uang Rp 5 ribu. a�?Dapat 10 biji,a�? cetusnya. (zad/r5)

Berita Lainnya

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost