Lombok Post
Metropolis

Persoalannya Sangat Komplit!

DARI ATAS: Pembangunan semakin pesat di Kota Mataram. Seperti yang terlihat di kawasan simpang Empat Cakranegara ini, Senin (20/2). Ivan/Lombok Post

MATARAM – Pembahasan revisi perda RTRW, masih berlanjut. Sempat ditargetkan bisa tuntas pada akhir tahun 2016 lalu, ternyata persoalan yang ditemukan di lapangan sangat komplit.

Pansus pun enggan berjanji bisa menuntaskan dalam waktu dekat. Karena ternyata tidak semudah yang dibayangkan. “Jadi bukan hanya sekedar ganti-ganti aturan,a�? kata Wakil Ketua Pansus Revisi Perda RTRW Kota Mataram I Gede Wiska.

Wiska lalu membeberkan temuan-temuan mereka di lapangan. Pertama, terkait PLTGU Lombok Peaker di Gerisak, Sekarbela. Wiska mengatakan pelanggaran yang dilakukan pihak PLN termasuk pelanggaran berat. Karena membangun di atas kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

a�?Mereka sudah menawarkan solusi, mengganti lahan seluas 9,7 ha, dengan luasan yang sama di tempat lain,a�? tutur Wiska.

Hanya saja, jika menilik acuan terkait amanat undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, jelas sekali melarang revisi RTRW ditujukan untuk melakukan pemutihan.

Sementara di sisi lain, lanjut Wiska kebutuhan energi listrik memang sudah pada tahap mendesak di NTB, begitu juga di Mataram. Beberapa rekomendasi yang keluar untuk pembangunan PLTGU itu, ternyata mengacu pada Perpres, Pergub dan rekomendasi dari Kepala Bappeda Kota Mataram.

“Jadi undang-undang berhadapan dengan Perpres dan Pergub serta kebutuhan riil kita dilapangan memang untuk pasokan energi listrik daerah,a�? ungkapnya.

Karena itulah, Pansus mengaku sangat berhati-hati untuk membahas dan menyerap masukan di lapangan terkait hal ini. Jangan sampai hanya karena kesalahan sedikit lalu berakibat fatal yang memungkinkan pansus harus berhadapan dengan hukum.

Karena itu, Pansus juga telah konsultasi dengan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (Depkumham). “Sebenarnya PLN sudah menyatakan kesanggupan untuk mengganti lahan itu. Sekarang memang menyisakan sisi Yuridisnya,a�? terangnya.

Alasan lain, sehingga kawasan Geriak memang sangat strategis untuk dibangun PLTGU adalah kedekatan dengan laut. Seperti diketahui suplai gas dilakukan melalui bahwa laut. Selain itu, pemerintah pusat juga saat ini tengah gencar berupaya meningkatkan pasokan energi di daerah.

“Di satu sisi pelanggaran tetapi sisi lain ini juga kebutuhan. Kami harus hati-hati jangan sampai terjerat karena salah langkah,a�? cetusnya.

Jika dari segi yuridis sudah tidak ada masalah, maka lahan 9,7 hektare (ha) yang akan diberikan PLN nanti bisa digunakan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).

Tetapi bisa juga dalam bentuk yang lain. Tergantung sepeti apa hasil MoU antara Pemerintah Kota Mataram dengan PLN.

“Bisa dalam bentuk taman, hutan kota atau apa. Yang penting dulu tidak ada masalah dengan penggunaan lahan yang saat ini dipakai PLN untuk membangun PLTGU,a�? terangnya.

Tidak hanya soal PLTGU, Wiska juga membeberkan terkait lahan KFC di jalan Pejanggik saat ini. Sebelumnya dari sisi izin, bangunan itu peruntukannya sebagai kantor. Ternyata realitanya di lapangan malah dibangun untuk maksud lain. a�?Malah jadi restoran kan,a�? imbuhnya.

Belum lagi, penataan ruang untuk maksud penanganan sampah. Lalu pembukaan akses jalan. Baik akses di dalam kota dan lintas daerah. Dan masih banyak persoalan lain yang membuat pansus masih mengkaji dengan hati-hati dan mendalam.

a�?Intinya kami tidak mau tergesa-gesa, (kapan tuntas) mungkin butuh 2-3 kali masa sidang,a�? tandasnya.

Sementara itu, Kepala Bappeda Kota Mataram Amiruddin, mengaku perlu mempelajari dulu apa saja yang membuat revisi perda RTRW ini molor hingga saat ini. Hanya saja, ia menjanjikan revisi perda bisa tutas dalam waktu dekat. Setelah berhasil menginventarisir persoalannya.

“Makanya ini harus saya pelajari dulu apa persoalannya. Saya ingin revisi ini bisa tuntas dalam minggu-minggu ini,a�? tandasnya. (zad/r5)

Berita Lainnya

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost