Lombok Post
NASIONAL

Calon Besan pun Tidak Dimenangkan

DARI SAHABAT UNTUK DAHLAN: Para sahabat Dahlan Iskan saat menghadiri acara testimoni “Dari sahabat untuk Dahlan” di Warung Daun Jakarta, Jumat (24/2), di antaranya Margarito Kamis, Erman Rajagukguk, Yusril Ihza Mahendra, Jaya Suprana, Rhenald Kasali, dan Teguh Santosa. Acara ini bertujuan untuk memberikan dukungan moral kepada Dahlan Iskan yang tengah ditimpa ujian besar berupa kasus hukum yang diarahkan kepada dirinya. MIFTAHUL HAYAT/JAWA POS

SURABAYAA�a�� Tuduhan permainan dalam penjualan aset PT Panca Wira Usaha (PWU) Jatim sangat berlebihan. Sebab, calon besan Dirut PWU Dahlan Iskan yang saat itu mengajukan penawaran pun tidak dimenangkan.

Hal tersebut terungkap dalam sidang di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Surabaya kemarin (24/2). Jaksa menghadirkan dua saksi. Mereka adalah Rinto Harno dan Sri Areni.

Rinto Harno dihadirkan sebagai saksi karena ikut mengajukan penawaran pembelian tanah di Jalan Hasanudin, Kediri. Pria yang pada 2003 menjadi general manager Hotel Merdeka Kediri itu ingin memperluas hotel yang dikelolanya.

Hotel tersebut bersebelahan dengan tanah milik PT PWU Jatim. Rinto mewakili perusahaannya, lantas mengajukan penawaran untuk membelinya. Dia mendatangi kantor PT PWU Jatim di Jalan Basuki Rahmat, Surabaya. a��a��Ketika itu saya ditemui Pak Wisnu (Wisnu Wardhana/WW, Red),a��a�� katanya.

Dari WW, Rinto mendengar bahwa PWU memang berniat menjual tanah tersebut. Karena itulah, dia mengajukan penawaran. Surat penawaran tersebut dikirim anak buahnya ke kantor PWU di Surabaya. Dalam surat itu, dia menawar tanah tersebut dengan harga Rp 300 ribu per meter persegi. Di objek tersebut ada bangunan, tetapi sudah tidak bisa dipakai.

a��a��Saya riset di sekitar lokasi yang baru saja dijual,a��a�� ucap Rinto.

Dalam perkembangannya, tawaran Rinto ternyata kalah oleh calon pembeli lain.

Hakim dan seisi ruang sidang sempat tertawa ketika mendengar cerita Rinto. Dia bercerita bahwa saat ini dirinya merupakan besan Dahlan. Putrinya dinikahi putra Dahlan. Dengan kata lain, kemarin dia menjadi saksi untuk besannya sendiri. a��a��Pada 2003 belum besanan. Tepatnya 25 Januari 2005 besanan,a��a�� ungkapnya.

Meski begitu, sebelum itu dia sudah mengetahui bahwa anaknya dan anak Dahlan berpacaran. Dalam sidang, Rinto mengungkapkan, dirinya sempat berharap penawaran tanah di Kediri akan diterima lantaran anak mereka berpacaran. a��a��Tapi, ternyata tidak,a��a�� ujarnya disambut tawa seisi ruang sidang.

Sementara itu, dakwaan jaksa untuk menjerat Dahlan Iskan dalam pelepasan tanah bekas pabrik keramik di Tulungagung terbantahkan. Sebab, penyerahan lahan sebelum pembuatan akta jual beli (AJB) tidak melanggar aturan.

Hal itu diungkapkan Sri Areni, notaris dan pejabat pembuat akta tanah (PPAT) yang membuat AJB lahan bekas pabrik keramik di Tulungagung. Kepada saksi tersebut, jaksa menanyakan penyerahan lahan dari PT PWU Jatim kepada PT Sempulur Adi Mandiri (SAM) selaku pembeli sebelum pembuatan AJB.

Notaris yang berpraktik sejak 1992 tersebut menyatakan, ikatan jual beli (IJB) tanah bekas pabrik keramik itu dibuat di depan notaris pada 22 November 2003 di Kediri. IJB tersebut baru ditindaklanjuti dengan pembuatan AJB pada 11 Agustus 2004. a��a��Yang mengajukan Sukartini. Dia menerima kuasa dari penjual dan pembeli,a��a�� katanya.

Sebelum AJB, tanah tersebut diserahkan Wisnu Wardhana (WW) kepada pembeli. Hal itu terungkap dalam berita acara penyerahan yang diteken WW. Saat menyerahkan tanah itu, dia berstatus direktur pabrik keramik.

Agus Dwiwarsono, pengacara Dahlan, menanyakan apakah penyerahan sebelum pembuatan AJB melanggar prosedur atau tidak. Sri menegaskan bahwa dalam praktik dimungkinkan penyerahan tanah sebelum pembuatan akta jual beli. a��a��Dibolehkan. Tidak melanggar hukum,a��a�� tegas Sri.

Dia juga menegaskan bahwa satu orang dibolehkan menerima kuasa untuk menjual dan membeli satu objek. Itulah yang juga dilakukan Sukartini yang mendapat kuasa untuk menjual dan membeli lahan bekas pabrik keramik Tulungagung.

Sementara itu, dalam waktu berbeda, WW menjalani sidang lanjutan. Agendanya adalah pemeriksaan saksi ahli. Dia adalah Siswo Sujanto. Saat ini Siswo menjabat direktur Pusat Keuangan Negara/Daerah pada Universitas Patria Artha, Makassar.

Dalam sidang, dia menjelaskan seputar keuangan negara. Siswo sempat menolak menjawab pertanyaan jaksa karena langsung menyentuh materi perkara yang sedang disidangkan. Dia juga menolak pertanyaan jaksa yang jawabannya diarahkan untuk menyimpulkan adanya kesalahan atau tidak. (eko/c5/ang/JPG/r8)

Berita Lainnya

Lion Air JT 610 Bermasalah di Bali, Jatuh di Karawang

Redaksi LombokPost

16 Instansi Belum Umumkan Seleksi Administrasi CPNS

Redaksi Lombok Post

Jokowi Beri Sinyal Subsidi BPJS Kesehatan

Redaksi LombokPost

Tes CPNS Baru untuk Instansi Pusat

Redaksi LombokPost

Pendaftar CPNS Segera Lapor Dukcapil Kalau Data NIK Tidak Muncul Saat Daftar

Redaksi Lombok Post

Separo Kuota CPNS untuk Pendidik

Redaksi Lombok Post

Sampai Jumpa di Guangzhou 2022

Redaksi Lombok Post

Tiga Jamaah Haji NTB Meninggal di Tanah Suci

Redaksi Lombok Post

Busana Adat Warnai Peringatan HUT RI di Istana

Redaksi Lombok Post