Feature

Disiksa sebelum dan setelah Operasi

Sri Rabitah tidak pernah mengira, kepergiannya menjadi tenaga kerja wanita (TKW) ke Qatar tiga tahun lalu akan mengubah hidupnya. Wanita 25 tahun itu kini hidup hanya dengan satu ginjal. Berikut kesaksiannya.

***

Secara kasat mata, kondisi fisik Sri Rabitah, warga Dusun Lokok Ara, Desa Sesait, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU) terlihat seperti orang normal. Siapa yang menyangka, organ di dalam tubuh Sri rupanya sudah tidak lengkap lagi. Ya, satu ginjalnya sudah hilang.

Mirisnya, ginjal Sri ini hilang bukan karena menderita penyakit atau bawaan lahir. Tapi diambil diam-diam oleh majikannya saat Sri bekerja di Qatar, sekitar 2014 lalu.

Siang itu, Sri terlihat sedang duduk di berugak didampingi Kadus Lokok Ara dan Kades Sesait. Kepada Koran ini, Sri mulai menceritakan awal mula dia memilih bekerja di luar negeri sebagai pembantu rumah tangga.

a�?Sebelum ke Qatar itu saya pernah jadi tenaga kerja ke Malaysia juga,a�? ujarnya, kemarin.

Setelah bekerja di Malaysia, Sri sempat pulang ke kampung halamannya di Lombok Utara. Tak berselang lama, Sri ditawari kembali menjadi TKW. Kali ini, tujuannya ke Qatar.

Sri saat itu ditawari seorang perempuan bernama Ulfa yang beralamat di Batu Keruk, Desa Akar-Akar. Sebelum berangkat ke Qatar, Sri pun menjalani rangkaian tes kesehatan dan akhirnya lolos. Setelah itu baru diberangkatkan ke Qatar melalui PT BLK-LN Falah Rima Hudaity Bersaudara.

Sekitar Juni 2014, Sri tiba di Qatar dan ditempatkan di rumah majikan yang bernama Madam Gada yang tinggal di Doha, Qatar. Di rumah majikannya ini, Sri mengaku kerap mendapat perlakuan kasar. Dia harus bekerja sejak jam lima pagi hingga jam tiga dinihari.

a�?Dikasih makan saat magrib, itu pun hanya semenit. Kalau belum adzan magrib, tidak akan dikasih makan,a�? ungkapnya.

Menurut Sri, dia tidak lama bekerja di rumah majikan pertamanya ini. Sri pun dipindah oleh majikannya untuk bekerja di rumah ibu dari majikannya ini. a�?Seminggu kemudian saya dipindah. Katanya saya harus kerja di rumah ibu majikan saya ini,a�? bebernya.

Majikan baru Sri dalam kondisi sakit. Saat berjalan kakinya pincang. Sri pun sempat menanyakan riwayat penyakit majikan barunya. Tapi sang majikan tidak mau bercerita. a�?Karena saya pembantu, saya tidak tanya-tanya lagi,a�? katanya.

Masih di bulan Juni 2014, setelah Sri bekerja membersihkan rumah majikannya yang berlantai empat itu, dirinya diajak majikannya dan seorang anak perempuannya ke rumah sakit. Alasannya saat itu untuk mengecek kesehatan Sri. a�?Padahal saya tidak sakit apa-apa. Saya disuruh ganti baju mau ke rumah sakit, katanya untuk medical check up,a�? tuturnya.

Sampai di rumah sakit, pemeriksaan pun dilakukan. Mulai dari cek darah hingga yang lain-lain. Saat pemeriksaan itu, Sri sempat mendengar perawat berbicara pelan dengan perawat lainnya. a�?Perawatnya bilang, kondisi kesehatan saya normal,a�? terangnya.

Tetapi tidak lama kemudian Sri dipasangi selang infus. a�?Saya sempat tanya kenapa dipasang infus. Katanya kondisi saya lemas dan kurang darah. Padahal saya tidak sakit apa-apa,a�? jelasnya.

Setelah dipasangi infus, dirinya pun dibawa ke salah satu ruangan yang di dalamnya terlihat banyak pisau dan gunting untuk operasi. Sri juga melihat lampu besar di atas ranjang.

Saat masuk ke ruangan itu, dirinya masih sadar. Tetapi begitu disuntik, Sri langsung lemas dan tidak sadarkan diri. a�?Ada lima jam saya tidak sadar setelah disuntik itu,a�? cetusnya.

Saat sadar, Sri sudah berada di kamar berbeda. Bahkan peralatan medis yang ada di tubuhnya semakin banyak. Ia dipasangi infus, masker oksigen, dan selang-selang lainnya. Sri juga dibuatkan saluran kencing sendiri.

a�?Saya mau kencing tapi tidak diperbolehkan. Katanya saya sudah dibuatkan saluran kencing. Saya lihat kantong kencing itu isinya darah semua,a�? katanya.

Belum habis rasa herannya, Sri juga merasakan sakit di pinggang bagian kanan. Saat dilihat, ternyata ada bekas jahitan seperti habis dioperasi.

Sri pun sempat bertanya kepada perawat, kenapa ada bekas jahitan di tubuhnya. a�?Kata perawat, itu hanya goresan,a�? kenang Sri.

a�?Kemudian saya dibawa masuk ke ruang berbeda lagi yang ada teropong besar. Keluar dari ruangan itu, bekas jahitan tadi sudah hilang,a�? tutur ibu satu anak ini.

Sri berada di rumah sakit tersebut hanya satu hari. Anehnya begitu keluar dari rumah sakit, Sri dipulangkan majikannya ke agen tenaga kerjanya yang berada di Qatar. Baju-baju Sri beserta dokumen pun sudah dikemas dan dibawa ke agen.

a�?Keluar dari rumah sakit, saya tidak pulang ke rumah majikan, langsung dibawa ke agen. Hasil pemeriksaan di rumah sakit juga tidak diberikan, semua dibawa majikan,a�? katanya.

Setelah dikembalikan ke agen, kondisi fisik Sri menurun drastis. Dia sering sakit-sakitan. Bahkan darah sering keluar dari mulut, hidung, dan saluran kencing. Tetapi dua orang yang ada di agen tersebut, yakni Umar dan Yanti asal Sukabumi tidak percaya dengan keterangan Sri, dan menganggap Sri hanya akting saja agar dipulangkan ke Indonesia.

a�?Saya sudah cerita, bahwa saya sempat dioperasi, tetapi agen gak percaya,a�? ujarnya.

Perlakuan yang diterima Sri bahkan lebih parah dari majikannya terdahulu. Di sini, Sri kerap dipukuli menggunakan balok dan papan kayu. Hal ini dilakukan karena Sri dianggap tidak bisa bekerja. Sri pun kembali disuruh bekerja ke majikan lain.

a�?Saya bekerja di tiga majikan tetapi hanya satu hari semua. Yang pertama majikan baru saya namanya Masri, Sudani, dan yang terakhir Khalid. Saya dipulangkan ke agen lagi karena sakit-sakitan,a�? akunya.

Beruntung majikan Sri yang ketiga yakni pasangan Khalid dan Haya adalah orang yang baik. Melihat kondisinya yang sakit-sakitan karena kerap mengeluarkan darah dari mulut, hidung, dan saluran kencing, pasangan ini membawa Sri ke kantor polisi. Kemudian dari kantor polisi Sri pun dipulangkan ke agen.

Bahkan majikan terakhirnya ini, sempat mengancam agen jika tidak memulangkan Sri ke Indonesia akan dituntut. Agen pun akhirnya memindahkan Sri ke tempat penampungan sementara yang berada di Qatar.

Di tempat penampungan ini, kondisi Sri semakin parah karena sering sakit-sakitan. a�?Saya sempat minta dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa lagi, tapi tidak diperbolehkan. Malah saya dipukul lagi,a�? katanya.

Sebulan kemudian Sri pun dipulangkan agen, tetapi hanya sampai di Surabaya. Di Surabaya, Sri tidak membawa uang sepeser pun. Dia pun sempat ingin mencari kerja di bandara Surabaya tersebut agar punya ongkos untuk pulang ke Lombok. a�?Ada seseorang yang lihat saya kasihan karena mondar-mandir. Saya akhirnya dibawa ke kantor polisi, kemudian polisi yang memulangkan saya ke sini,a�? paparnya.

Sampai di Lombok, Sri belum mengetahui kalau ternyata satu ginjalnya sudah lenyap. Sri pun beraktivitas biasa tetapi sudah tidak bisa normal lagi. Karena kondisinya sakit-sakitan. Sri sempat memeriksakan diri ke Puskesmas setempat, tetapi tidak ada penyakit apa-apa.

Sri bahkan sempat ingin kembali menjadi tenaga kerja ke Singapura. Tetapi tidak terlaksana. Karena saat berada di penampungan di Jakarta, dirinya kembali sakit dan harus dipulangkan ke Lombok.

Gara-gara dipulangkan ini, Sri pun hampir masuk penjara karena dilaporkan tekong yang memberangkatkannya. a�?Waktu itu saya di suruh ganti uang Rp 15 juta. Tetapi saya tidak punya, akhirnya diberikan uang Rp 2,5 juta. Paspor saya masih ditahan sama tekong itu,a�? katanya.

Setelah kembali ke Lombok, Sri dinikahiA� Harpan Jaya. Kepada suaminya, Sri sempat bercerita kondisinya yang sakit-sakitan dan tidak bisa bekerja. Sekarang suami Sri pun sedang bekerja di Malaysia. Sri bersama anaknya sementara tinggal di rumah mertuanya.

Saat mengandung anak pertamanya, sakit yang dirasakan Sri semakin parah. Apalagi ketika usia kandungan berumur tiga bulan, Sri merasakan sakit di pinggang sebelah kanan seperti ditusuk-tusuk. Sri pun sempat memeriksakan kondisinya ke Puskesmas dan RSUD Tanjung. Tetapi saat itu tidak ditemukan penyakit.

Saat itu, Sri tidak diperbolehkan menjalani rontgen karena sedang mengandung. a�?Saya boleh dirontgen kalau sudah melahirkan,a�? katanya.

Setelah anaknya lahir dan berusia empat bulan, Sri kembali memeriksakan dirinya ke RSUD Tanjung tepatnya 22 Februari 2017. Di rumah sakit, Sri mendapatkan pemeriksaan rontgen dan hasilnya satu ginjal, Sri sudah tidak ada dan terdapat selang di dalam perut Sri.

a�?Dokter yang meriksa bilang kamu pernah jual ginjal ya. Saya sampai bersumpah kalau tidak pernah jual ginjal,a�? tuturnya.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, Sri dirujuk ke RSUP NTB untuk diperiksa kembali. Dan di RSUP NTB hasil pemeriksaan menyatakan hal yang sama. Sri sudah kehilangan satu ginjal dan harus menjalani operasi karena di dalam perut Sri terdapat selang yang melingkar.

SelainA� selang, dokter juga menyatakan banyak batu di saluran kencing Sri. Sehingga harus dikeluarkan. a�?Kata dokter kalau batu-batu dan selang tidak dikeluarkan bisa berbahaya. Saya disuruh balik lagi untuk operasi 2 Maret nanti,a�? akunya.

Mengetahui kondisinya saat ini, Sri pun mengaku pasrah. Dirinya juga ikhlas ginjalnya hilang. Sekarang Sri hanya memohon doa agar operasinya bisa berjalan lancar.

a�?Saya sudah ikhlas. Tapi saya kepikiran anak saya, gimana kalau operasinya tidak lancar. Siapa yang merawat anak saya, kasihan mertua saya juga sakit-sakitan dan sudah tua,a�? katanya sambil berurai air mata.

Sementara itu, Amaq Karya, mertua Sri berharap pemerintah bisa memberikan perhatian kepada Sri dengan membantu proses operasi hingga tuntas. (PUJO NUGROHO, Tanjung/r5)

Related posts

Suka Duka Driver Gojek Melayani Pelanggan

Redaksi Lombok Post

Modifikasi Kapal Bekas Jadi Pembangkit Terapung

Redaksi Lombok post

Puasa di Australia ala Mahasiswa NTB (2-Habis) : Restoran Halal Sumbang Menu Berbuka

Redaksi Lombok Post