Lombok Post
Metropolis

Telepon Koin Mau Diapakan?

KENANGAN: Boks telepon koin di depan SDN 2 Cakranegara terlihat sudah usang, sementara tak jauh dari tempat itu seorang pengendara motor asyik memainkan telepon genggam, kemarin (26/2). Lalu Mohammad/Lombok Post

Pernah booming hingga awal tahun 2000-an, telepon koin kini tinggal cerita.A� Perkembangan teknologi menggilas tanpa ampun, hingga hanya menyisakan rangka-rangka boks yang mencoba bertahan melawan zaman. Tidak jelas, difungsikan, dimuseumkan, atau dibiarkan teronggok begitu saja.

***

BAGI mereka yang telah melewati masa-masa remaja hingga awal tahun 2000-an, telepon koin atau lazim disebut telepon umum boleh jadi merupakan benda yang sangat dibutuhkan. Melalui boks telepon ini, mereka bisa menghubungi siapa saja.

Saat itu, telepon genggam hanya milik kalangan tertentu. Tetapi bagi ekonomi menengah ke bawah, telepon koin boleh jadi benda yang sangat populer.

Bagi mahasiswa, konsultasi dengan dosen, telepon umum bisa jadi media terbaik selain langsung bertatap muka. Hingga, ada banyak keluarga, sahabat hingga kekasih yang tertolong, berkomunikasi melalui boks identik warna biru langit ini.

a�?Dari dapat tugas, sampai diomel dosen, saya pernah alami dengan telepon koin itu,a�? tutur Irawan Hadi, salah satu pegawai perusahaan swasta jasa finance di Kota Mataram.

Bahkan ada cerita menarik. Saat ia ada masalah dengan pacarnya sekitar tahun 2002. Di tengah seru-serunya bertengkar, koin di kantong celananya ternyata sudah habis. Padahal ia berharap setelah bertengkar dan meluapkan kekesalan hati melalui sambungan telepon, hubungan mereka bisa kembali harmonis lagi.

a�?Saya masih mau ngomong, tapi dari gagang telepon sudah terdengar tuta�� tuta�� tuta�� peringatan waktu mau habis,a�? tuturnya sembari terkekeh. Sejak itu, hubungan ia dengan pacarnya tidak pernah baik lagi. Sampai, ia akhirnya menikah dengan orang lain.

Dan pasti, masih banyak cerita yang dialami orang-orang yang pernah hidup di zaman itu. Tetapi perkembangan teknologi selalu membawa orang lebih maju. Namun di sisi lain, meninggalkan satu jejak teknologi di belakang.

Seperti cerita telepon koin itu, banyak anak yang ternyata tidak tahu fungsinya. Fina, salah satu murid SDN 2 Mataram misalnya, terdengar ragu menjawab benda apa di depan sekolahnya itu. a�?Itu telepon. Eh telepon ya?a�? kata Fina, terlihat ragu lalu meminta pendapat rekan-rekan di sampingnya.

Berbeda dengan Fina, Nana, siswi MTsN 1 Mataram mengaku tahu fungsi telepon koin itu. Di depan sekolahnya, ada satu unit telepon koin.

Padahal dia mengaku sangat membutuhkan telepon koin ini. Misalnya untuk menghubungi orang tuanya untuk menjemput saat dia pulang sekolah. Memang, sekolah melarang siswanya membawa handphone sendiri. a�?Biasanya saya pinjam handphone pedagang gorengan untuk SMS minta dijemput,a�? tuturnya.

Kenyataannya memang, saat jam pulang sekolah, sejumlah PKL yang mangkal di depan sekolah tersebut langsung diserbu sejumlah siswa. Mereka meminjam handphone para PKL ini untuk menghubungi orang tuanya. a�?Lumayan hilang pulsa, tapi kasihan kalau tidak dikasih,a�? kata seorang PKL.

Jika saja telepon koin di depan MTsN 1 Mataram itu berfungsi, tentu para siswa ini tidak kelabakan. Sayang, telepon koin tersebut sudah rusak, kalau tidak mau disebut hancur.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Mataram Herman memberi saran sebaiknya bekas telepon koin itu kembali difungsikan. Telkom sebagai salah satu perusahaan BUMN yang concern dengan teknologi komunikasi, bisa mengakselerasi telepon koin supaya bisa digunakan kembali.

Menurutnya, alat itu memang sayang jika dibongkar atau dibiarkan hingga lapuk tertelan zaman. Langkah-langkah pemugaran bisa dilakukan. Apalagi, mengingat alat komunikasi yang pernah tren sampai awal tahun 2000-an pernah sangat berjasa menghubungkan banyak orang, tentu layak untuk dipugar. a�?Sayang kalau dibongkar. Tetapi kalau dibiarkan begitu saja sepertinya tidak bagus juga,a�? kata Herman.

Menurut Herman, alat itu masih sangat dibutuhkan saat ini. Terutama bagi anak-anak sekolah. Sejumlah lembaga pendidikan, juga tengah gencar mengampanyekan penggunaan positif alat komunikasi. Dengan mengaktifkan kembali telepon koin, akses mereka pada konten-konten negatif bisa dibatasi. Sementara untuk kebutuhan komunikasi, bisa menggunakan telepon koin. a�?Tetapi tetap dengan menambah fiture teknologinya,a�? imbuhnya.

Fiture teknologi yang dimaksud Herman yakni dengan menambah monitor informasi. Konten bisa diisi dengan pengetahuan seputar kekayaan budaya dan tempat wisata di Kota Mataram. Seperti wisata pantai, wisata religi, bangunan-bangunan bersejarah hingga kuliner Mataram.

a�?Kompensasinya, Telkom bisa berpromo di LCD itu. Saya fikir ini, sangat baik memanfaatkan boks-boks telepon koin yang tersebar di berbagai titik Kota Mataram. Daripada dibiarkan begitu saja,a�? ujarnya.

Layanan telepon koin juga bisa di upgrade, tidak hanya untuk koin atau urang receh saja. tetapi bisa dikembangkan ke voucher. Sehingga penggunaanya bisa lebih fleksibel dan leluasa bagi masyarakat. Herman yakin di tengah gempuran teknologi ponsel yang sangat memanjakan umat manusia berkomunikasi, ruang telepon koin masih terbuka lebar untuk menjadi alternatif masyarakat umum.

a�?Setidaknya, ini masih layak untuk anak didik kita. Kita juga sering dapat uang koin, tapi kebanyakan digunakan untuk bayar parkir. Nah, kalau telepon umum ini aktif lagi, saya pikir uang koin akan semakin berharga,a�? harapnya.

Jika ini sulit terealisasi, maka ia menyarankan pemerintah mengambil sikap. Setidaknya untuk melakukan pemugaran alat komunikasi. Bahwa, alat ini pernah jadi jejak-jejak sejarah perkembangan teknologi, yang kelak harus diketahui anak cucu. Bagaimanapun, teknologi selalu menghadirkan inovasi mudah, simpel dan semakin efektif penggunaanya. Sehingga apa yang dinilai modern saat ini, suatu ketika bisa terlihat sangat primitif dan bernilai sejarah. a�?Setidaknya untuk tetap dilestarikan dan dijaga keorisinilannya,a�? tandasnya.

Terpisah, sumber internal Telkom yang enggan ditulis namanya, menceritakan jika boks-boks telepon koin itu, masih terdata sebagai aset Telkom. Namun hingga saat ini, belum ada program untuk pengembangan sisa-sisa kejayaan alat komunikasi itu. A�a�?Tapi kalau ada yang memang dinilai membahayakan atau mengganggu, tinggal bersurat pada kami. Nanti ada tim yang akan membongkar,a�? kata sumber ini.

Terkait berapa jumlah titik yang masih ada, sumber ini mengaku tidak mengetahui pasti. Ia hanya mengatakan, jika pemerintah kota berencana mempertahankan itu sebagai salah satu aksesoris sejarah kota, Telkom tentu sangat terbuka. Selama mekanisme pengajuan untuk kepemilikan melalui proses administrasi yang jelas.

a�?Teknologinya juga sudah ketinggalan zaman. Malah rencananya akan dimusnahkan. Tetapi untuk lebih jelasnya, bisa tanyakan pada pimpinan kami di kantor,a�? tutupnya.

Berbeda halnya dengan Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram Abdul Latif Nadjib. Dia justru berharap Telkom mengaktifkan telepon umum. Hanya memang tempatnya perlu disesuaikan, sehingga manfaatnya benar-benar bisa dirasakan masyarakat. A�a�?Kalau dimusnahkan itu hak dari Telkom, tetapi kalau boleh usul, ya sebaiknya jangan. Tetapi dipindah tempatnya di tempat-tempat wisata, seperti taman Taman Loang Baloq, lalu pasar seni dan lainnya,a�? kata Latif.

Dengan memindahkan ke tempat-tempat wisata, fungsi dan ketertarikan masyarakat menggunakan alat itu jauh lebih tinggi. Warga pasti tertarik untuk memakai alat-alat yang dinilai konvensional tetapi memiliki fungsi serupa dengan alat-alat modern saat ini. a�?Kalau ditaruh di tempat wisata, nanti warga bisa memanfaatkan untuk memberi informasi-informasi penting,a�? terangnya.

Ia mencontohkan seperti persoalan kebersihan, kenyamanan dan ketertiban bisa menggunakan telepon koin untuk memberi masukan, pada call center pariwisata. Toh juga menurutnya ini lebih menguntungkan. Karena hanya menggunakan uang receh. Dari pada telepon genggam dengan tarif lebih mahal. a�?Kalau saya lihat di negara-negara barat, sampai saat ini justru telepon umum masih dilestarikan,a�? tuturnya.

Tempatnya pun telah disesuaikan di pusat-pusat keramaian. Seperti, restoran, pusat-pusat perbelanjaan dan tempat wisata. Langkah ini bisa ditiru Telkom, sebagai kontribusi nyata juga melengkapi fasilitas pariwisata daerah.

a�?Kalau kenangan menarik tentang telepon umum itu dulu ada. Jadi, dulu saat masih sekolah kita sangat senang tekan tuas panel gagang. Biasanya kalau komunikasi ndak nyambung kan, koinnya langsung jatuh ke lubang pojok bawah. Nah saya sama teman-teman sering berburu koin itu,a�? tuturnya, sembari tertawa.

Pengalaman menarik ini lanjut Latif mungkin tidak di dapat anak-anak zaman sekarang. Tetapi, itu bisa saja dirasakan lagi anak-anak saat ini, jika Telkom punya komitmen untuk menghidupkan lagi alat komunikasi klasyik itu. (zad/r3)

Berita Lainnya

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost

BPBD Tunggu Perintah Perkim

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Sudah Lama Ambles, tapi Dicuekin!

Redaksi LombokPost

Anak Muda sampai Pengusaha Berebut Buat Karikatur

Redaksi LombokPost

Kartu Nikah Sebatas Wacana

Redaksi LombokPost

169 Formasi Gagal Terisi

Redaksi LombokPost

Sepakat, UMK Mataram Rp 2.013.000

Redaksi LombokPost

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost