Kriminal

Pabrik Makanan Ringan Digerebek

MATARAMA� -A� Rumah produksi makanan ringan di Desa Selat, Kecamatan Narmada, Lombok Barat (Lobar) digerebek polisi. Penggerebekan ini atas dugaan pelanggaran pidana, karena usaha dengan nama UD NS (inisial, red) A�dituding melakukan kegiatan produksi, mengemas, dan memperdagangkan barang tidak sesuai ketentuan.

Menurut keterangan polisi, pemilik UD NS hanya mengantongi Surat Izin Usaha Produksi (SIUP). Di mana mereka hanya diberikan kewenangan untuk melakukan pemasaran suatu barang. Namun, pemilik usaha, yakni ZM (inisial, Red) juga melakukan produksi di rumah yang ia kontrak, di Desa Selat.

Selain itu, di dalam kemasan memang tertera nomor izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Namun nomor tersebut merupakan milik perusahaan lain yang berada di Jawa Timur. Selain itu, nama perusahaan yang ditulis di kemasan juga tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.

a�?Di kemasan ditulis di Jawa Timur, padahal lokasinya dan tempat produksinya di NTB,a�? kata Kasubdit I Ditreskrimsus Polda NTB AKBP Boyke Karel Wattimena, saat pengungkapan kasus di tempat produksi UD NS, di Desa Selat, kemarin (27/2).

Karena itu, berdasarkan laporan dari masyarakat dan penyelidikan, pihaknya memutuskan untuk memproses hukum terhadap aktivitas produksi UD NS. Mereka diminta untuk tidak melanjutkan proses pembuatan makanan ringan.

a�?Sudah kita beri garis polisi, jadi sementara ini status quo,a�? katanya.

Meski telah memberi garis polisi, Boyke mengaku belum menetapkan siapa yang akan bertanggung jawab dalam kasus tersebut. Pihaknya masih akan melakukan koordinasi dengan instansi terkait, antara lain Dinas Kesehatan (Dikes), Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), serta Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM).

a�?Kita akan tetapkan (tersangka,) setelah koordinasi dengan instansi terkait,a�? kata Boyke.

Dalam penggerebekan itu, polisi mengamankan sejumlah barang bukti makanan ringan.A� Atas aktivitas produksi yang dilakukannya, ZM disangka Pasal 62 Jo pasal 8 ayat 1 huruf a Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Pasal 140 Jo Pasal 86 ayat 2 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan.

Pengungkapan kemarin, turut serta perwakilan dari Dikes Lobar, Disperindag Lobar, dan BBPOM Mataram. Mereka melakukan pengecekan terhadap proses produksi yang dilakukan di UD NS.

Dyah Hesti Nurul Huda dari Dinas Kesehatan Lobar mengatakan, dari komposisi bahan yang terkandung di makanan ringan produksi UD NS, ada beberapa yang komposisinya dapat mengganggu kesehatan.

a�?Ada yang berlebih MSG, jika dikonsumsi untuk jangka panjang, bisa mempengaruhi kecerdasan. Ini juga berbahaya bagi anak-anak,a�? kata Dyah yang bertugas di Seksi Pengawasan Obat dan Makanan serta Perbekalan Kesehatan, Dikes Lobar.

Perusahaan yang memproduksi makanan ringan untuk anak-anak ini, juga tidak mengantongi PIRT. Sehingga Dyah tidak menjamin apa yang diproduksi aman untuk dikonsumsi.

a�?PIRT belum mengajukan, ini sudah kami cek,a�? ujar dia.

Sementara itu, staf Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan BBPOM Mataram Yogi A Baso mengatakan, pihaknya melihat penyimpanan makanan di UD NS sangat buruk. Mereka menyimpan makanan secara terbuka sehingga membuka peluang masuknya bakteri

Selain itu, tidak semua bahan baku yang digunakan memiliki izin edar. Proses produksi juga tidak memilki catatan yang jelas terkait takaran setiap bahannya.

a�?Di kemasan juga tidak ada kode produksi dan tanggal kedaluwarsa, sudah jelas ini melanggar aturan,a�? kata Yogi.

Terpisah, ZM mengaku mengetahui apa yang ia lakukan melanggar aturan. Karena itu, dirinya pasrah jika tidak diperbolehkan untuk memproduksi makanan ringan.

a�?Kalau sudah begini saya ikuti proses (hukum) saja,a�? kata dia.

Meski demikian, dia menilai tindakan yang dilakukan aparat penegak hukum dan instansi terkait, terlalu terburu-buru. Seharusnya dia mendapat bimbingan terkait bagaimana cara memproduksi yang baik dan tidak membahayakan kesehatan.

a�?Selama ini belum ada dinas yang datang, kenapa saya gak dikasih arahan atau bimbingan,a�? kata pria asal Malang, Jawa Timur ini.

ZM mengklaim apa yang ia lakukan tidak memiliki niatan untuk meracuni anak-anak. Pembelian barang baku untuk produksi makanan ringan itu, pun dilakukan secara legal.

a�?Tidak ada niat sama sekali, cuma ingin berdagang,a�? tandasnya. (dit/r2)

Related posts

Kajati : Hukum Berat Predator Anak

Redaksi Lombok post

Tuntutan Jaksa Dinilai Tidak Adil

Redaksi Lombok Post

Ayo Kerja, Kami Pasti

Iklan Lombok Post