Politika

Robiatul Adawiyah Soroti Krisis Toleransi

MATARAM – Anggota Komite I DPD RI Hj Robiatul Adawiyah menyoroti krisis toleransi yang akhir-akhir ini melanda Indonesia. Itu terjadi lantaran maraknya pemberitaannya konflik antar suku dan antar agama terutama di media sosial. Hal itu menjadi salah satu bahasannya dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama masyarakat Praya Timur, Lombok Tengah, Rabu (22/2) lalu.

Kegiatan itu melibatkan sejumlah tokoh agama, tokoh masyarakat, dan para pemuda. Termasuk melibatkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kajian Advokasi Sosial dan Transparansi Anggaran (KASTA) NTB. Pihaknya juga melibatkan Kapolsek Praya Timur Ipda Bambang Sutrisno sebagai narasumber dalam RDP dengan tema “Penegasan Bhinneka Tunggal Ika sebagai Perekat Kehidupan Masyarakat Berbangsa, dan Bernegara untuk Memperkuat Wawasan Nusantara”.

Dalam kesempatan itu Robiatul Adawiyah memaparkan pentingnya mendalami Bhinneka Tunggal Ika untuk memperluas wawasan Nusantara. Di samping itu, masyarakat harus meningkatkan rasa toleransinya baik terhadap suku dan agama yang ada di Indonesia. “Ada sekitar 1.128 suku di Indonesia sehingga dikenal sebagai bangsa multikultural. Sikap toleransi itu harus ditunjukkan dengan cara saling hormat menghormati, saling menghargai, dan tidak saling ejek,” ujarnya.

Dikatakan, masyarakat harus punya cara pandang dan sikap sebagai bangsa Indonesia yang mengutamakan persatuan dan kesatuan wilayah dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dia optimistis masyarakat NTB punya kesadaran tinggi untuk selalu menjaga kondusivitas.

Kata dia, kegiatan itu bertujuan untuk menjalankan salah satu amanat konstitusi yang diberikan kepada anggota MPR RI/DPD RI. Kegiatan ini juga sekaligus sebagai wadah untuk berdialog dengan masyarakat di dapil, agar diperoleh masukan, saran, dan pendapat dari masyarakat terkait topik yang dibahas.

Dia berharap masyarakat NTB dapat mengaktualisasikan nilai-nilai yang tersirat dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Walaupun berbeda-beda latar belakang suku, adat, ras, dan agama, tetapi semuanya tetap satu jua, bersatu sebagai bangsa Indonesia.

Kapolsek Praya Timur Ipda Bambang Sutrisno mengatakan, sikap toleransi sudah ditunjukkan masyarakatA� di Pulau Lombok. Lagipula, masyarakat tersebutA� terdiri atas beragam suku, budaya, dan agama. Dia mengimbau agarA� tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang ingin menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Dia juga memaparkan informasi tentang Aplikasi Sistem Sambung Aktif Kepolisian (SASAK) yang sedang giat disosialisasikan. Menurutnya, melalui aplikasi SASAK, masyarakat bisa juga melaporkan kasus kriminalitas via telepon, tanpa datang ke Polsek. Selain itu, aplikasi tersebut digunakan untuk memantau kinerja aparat kepolisian, khususnya Bhabinkamtibmas di setiap desa. “Masyarakat dapat memanfaatkan aplikasi SASAK agar lingkungan menjadi lebih kondusif,” tandasnya.

Dalam kegiatan itu juga, senator Robiatul Adawiyah memberikan bantuan kepada masyarakat Praya Timur. Bantuan itu diterima secara simbolis oleh H. Mulyadi Yunus selaku Camat Praya Timur. (tan/r7/*)

Related posts

SK PAW Kader Golkar Diurus Siapa?

Iklan Lombok Post

Suhaili-Amin Harap-harap Cemas

Redaksi Lombok Post

Mahal…!! Pilkada Serentak NTB 2018 Telan Rp 203 Miliar

Redaksi Lombok Post