Lombok Post
Metropolis

Halte BRT Itu Mubazir!

MUBAZIR: Halte BRT di Malomba yang kini sepi aktivitas karena bus yang tak lagi melintas, kemarin. Hal serupa juga terjadi pada seluruh halte lain di Mataram. Ivan/Lombok Post

MATARAM – Halte-halte BRT yang ada di berbagai penjuru Kota Mataram kini mubazir. Tak ada bus yang beroperasi membuat banyak halte yang dibangun dengan dana rakyat yang tak sedikit itu hanya seperti onggokan besi.

“Kalau yang kami bangun total ada tujuh halte,” ujar Kadis Perhubungan Kota Mataram melalui Sekdisnya Cukup Wibowo, kemarin (28/2).

Dijelaskan, pada 2015 lalu, dua halte dibangun di Jalan Saleh Sungkar. Selanjutnya 2016 dibangun lima halte lagi, masing-masing di depan Malomba, Bea Cukai, BNI, Mayura, dan Safari. Masing-masing menghabiskan anggaran Rp 37 juta.

Jumlah tersebut belum termasuk yang dibangun Pemerintah Provinsi NTB. Terkait bus yang tak lagi melintas, sehingga halte yang ada hanya menjadi onggokan besi tak terpakai, ia enggan menjawabnya. “Kalau bus tanyakan ke damri dan provinsi,” ujar Cukup.

Namun ia meyakini halte yang sudah terbangun tak ada yang sia-sia. “Halte itu tetap saja bisa sebagai tempat menunggu,” imbuhnya.

Halte yang dibangun degan sifat bisa dibongkar pasang juga menjadi alasannya. Jika nanti sudah ada solusi dan rute yang pas, halte-halte itu bisa saja dipindah sewaktu-waktu.

Lantas apa ini artinya jalur bus akan dipindah? Terkait itu ia tak bisa memastikannya. Butuh duduk bersama sejumlah pihak terkait mulai dari organda, Pemprov NTB, Pemkab Lobar, Damri, termasuk Bemo Kuning. “Masalah ini tak bisa kami sendiri yang menyelesaikannya,” ujar Cukup.

BRT yang tak lagi melintas diawali demo para sopir awal tahun ini. Setelah itu, sebuah insiden antara BRT dan bemo kuning terjadi. Setelahnya BRT yang sempat dirasakan masyarakat, tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi.

Terkait itu, GM Damri Mataram Nur Syamsu menjanjikan memberi penjelasan Kamis besok. “Sekarang saya sedang tugas di luar Lombok, nanti Kamis saja,” bunyi jawabannya melalui pesan singkat.

Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram Gde Wiska meminta dinas perhubnngan segera menyelesaikan pangkal masalah. Mengatur rute bemo kuning agar tak bersenggolan dengan BRT dikatakannya menjadi opsi yang harus diseriusi. “Jangan dibiarkan berlarut-larut,” ucapnya.

Keberadaan BRT yang terbukti diterima masyarakat menurutnya harus dijaga. Jangan sampai hanya menjadi program angin lalu yang menandakan kegagalan pengaturan. Terlebih halte-halte sudah dibangun di sana-sini dengan uang rakyat yang tak sedikit.

“Harusnya dari awal bemo kuning itu dicarikan solusi,” sindirnya.

Menurutnya Mataram yang sudah tumbuh dan berkembang sebagai sebuah kota harusnya mulai fokus pada angkutan masal. Pengurangan kendaraan pribadi dan mendorong transportasi publik adalah hal yang diseriusi banyak kota besar saat ini.

Sehingga membiarkan BRT tak berfungsi maksimal adalah langkah mundur. “Harus ada win-win solution untuk semua pihak termasuk bemo,” tegasnya.

Dia mendesak semua pihak terkait mau segera mencarikan jalan keluar atasa masalah tersebut. Membiarkannya berlarut-larut menurut Wiska bukanlah langkah bijak. “Pemkot Mataram harus carikan solusi supaya halte-halte itu tak mubazir,” pungkasnya. (yuk/r5)

Berita Lainnya

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost

Ayo, Keruk Sungai Ancar!

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Harus Nabung Stok Sabar

Redaksi LombokPost

Pol PP Mengeluh Lagi

Redaksi LombokPost

Evi: Kasihan Pak Sudenom

Redaksi LombokPost

Yang Lolos TKD Jangan Senang Dulu!

Redaksi LombokPost

Sekolah Sesak, ABK Terdesak

Redaksi LombokPost

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost