Lombok Post
Metropolis

RSUP NTB Undang Syak Wasangka

LEMAS: Sri Rabitah, TKI asal NTB yang kehilangan ginjal usai bekerja di Qatar duduk lemas di bed perawatan RSUP NTB. SIRTU/LOMBOK POST

MATARAMA�– Pernyataan mengejutkan dikeluarkan pihak RSUP NTB. Ginjal Sri Rabitah, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Lombok Utara dinyatakan lengkap. Bak petir di siang bolong, kabar ini membuat Sri Rabitah terkejut. Namun, yang pasti pernyataan terkini dari RSUP NTB ini telah memantik syak wasangka.

Sebab, informasi dari RSUP NTB ini bertolak belakang dengan hasil tes radiologi yang dilakukan dokter RSUP NTB sebelumnya, dimana salah ginjal kanan Sri Rabitah dinyatakan tidak terlihat.

Koordinator Badan Bantuan Hukum Buruh Migran (BBHBM) M Saleh yang sekaligus menjadi kuasa hukum korban pun mendatangi Wakil Direktur Pelayanan RSUP NTB dr Agus Rusdhy di ruangannya.A� Ia meminta kejelasan terkait perbedaan informasi tersebut, sebab hal ini menurutnya sangat berdampak secara psikologis bagi korban.

a�?Karena ini secara psikologis bagi korban dan pada publik,a�? katanya.

Dalam pertemuan itu, Wakil Direktur Bidang Pelayanan Medis RSUP NTB dr Agus Rusdhy menjelaskan, berdasarkan pemeriksaan sejak awal pihak rumah sakit tidak pernah mengatakan bahwa ginjal Rabitah tidak ada. Kemudian, dari hasil pengecekan kondisi fisik, CT scan pagi kemarin (28/2), dua ginjal korban masih ada.

a�?Saya sudah mengklarifikasi rekan-rekan sejawat saya yang melayani pasien, semua tidak pernah menyatakan tidak ada ginjalnya,a�? katanya.

Tapi saat kuasa hukum meminta bukti resume medis, pihaknya tidak bisa memberikan karena harus ada surat permintaan secara resmi. Baginya, yang jelas menurut Agus Rusdhy ginjal korban masih ada dua-duanya. Meski demikian, pihak RSUP tetap melakukan rawat inap, dan telah menjadwalkan operasi bagi Rabitah untuk mengangkat selang di dalam tubuh korban.A� Menurutnya selang yang ada di dalam tubuh korban adalah untuk memperlancar aliran dari ginjal ke saluran kencing.

a�?Mungkin, mungkin (ada operasi sebelumnya), tapi kita menemukan kedua ginjalnya masih ada dan kita temukan selangnya masih ada,a�? katanya.

Saat kuasa hukum meminta agar dipertemukan dengan dua dokter radiologi yakni dr Dwi Anjarwati dan dr Triana Dyah, ia tidak bisa mengabulkan dengan alasan saat ini pihak medis tengah melakukan pelayanan kepada pasien lain. Kemudian saat kuasa hukum meminta dilakukan pemeriksaan di radiologi kembali, pihak rumah sakit tidak memberikan, karena mereka tetap menyatakan ginjalnya utuh.

Pertemuan itu akhirnya menemui jalan buntu. Pihak rumah sakit tetap ngotot bahwa ginjalnya lengkap. Sementara kuasa hukum tidak mendapatkan bukti pemeriksaan ulang. Bagi Koordintor BBHB M Saleh, informasi yang didapatkan sangat simpang siur. Meski rumah sakit menyatakan ginjal lengkap, tapi ada selang di dalam tubuh Rabitah yang perlu diangkat melalui operasi.

a�?Tidak mungkin kan dia makan selang terus berhenti di situ,a�? katanya.

Saleh pun coba menghubungi Kepala BP3TKI Mataram MuharramA� via telepon, saat meminta bantuan agar korban dibawa ke Jakarta untuk pemeriksaan lebih lanjut. Pihak BP3TKI menyatakan tidak memiliki dana untuk itu. Muharram menyatakan, sesuai pernyataan rumah sakit, ginjal korban masih utuh.A� Saat dikonfirmasi, Muharram menjelaskan, ia sudah mendampingi Rabitah untuk melakukan pemeriksaan, dan hasilnya ginjal masih tetap ada.

Terkait ini, Saleh mengatakan, pihak korban sudah meminta izin pada suami dan keluarga, bahwa kalau mau diperiksa di tempat lain, dia akan mengikuti, yang penting menurutnya adalah bagaimana dia sehat. “Bahwa dia diperiksa di tempat lain, ada kekurangan ginjal atau lengkap itu urusan berbeda, yang terpenting kita punya gambaran dia sehat,” kata Saleh.

Saleh sangat menyesalkan informasi dari RSUP yang menurut pihaknya tidak adil bagi korban. Informasi yang sejak awal bahwa ginjal tidak nampak, tidak hanya tertulis, juga disampaikan secara lisan. Bahkan diperkuat oleh dokter di kabupaten dan dibacakan di depan publik bahwa memang ginjal sebelah kanan tidak nampak. a�?Tentu hasil pemeriksaan ini bukan pemeriksaan yang mengada-ada,a�? katanya.

Jika kemudian tanpa pemeriksaan ulang, kemudian RSUD menganulir bahwa ginjalnya ada, menurutnya hal ini patut dicurigai. Ia mempertanyakan sikap pihak RSUP, ada apa sebenarnya di balik pertanyaan rumah sakit tersebut. Sebab, berdasarkan tes radiologi, ada keterangan tertulis bahwa ginjal sebelah kanan tidak nampak, tetapi tanpa pemeriksaan ulang, tahu-tahu dinyatakan bahwa ginjalnya ada. Ia khawatir dalam hal ini ada intervensi dari pihak-pihak lain. a�?Tentu sangat kami curigai,a�? katanya.

Ia juga merasa marah karena pihak RSUP NTB tidak mau mempertemukan tim kuasa hukum dengan dokter yang memeriksa kali pertama. Sebab, masalah ini harus dipertanggungjawabkan ke publik.

Di sisi lain, pihak rumah sakit tetap akan melakukan operasi untuk mengangkat selang di dalam tubuh korban, artinya memang ada soal di ginjal korban. Informasi ini sangat bertentangan dengan informasi awal yang disampaikan rumah sakit. a�?Menurut saya yang meminta maaf bukan korban, yang harus minta maaf adalah pihak rumah sakit,a�? katanya.

Jika memang ada indikasi perdagangan organ tubuh, Saleh menambahkan, siapapun yang tidak memberikan perlindungan yang memadai perlu dicurigai. Kalau dia menghambat proses mencari keadilan, maka patut dicurigai.

Mengenai langkah selanjutnya, ia akan mempersiapkan bersama tim terlebih dahulu, termasuk pihak keluarga. Apakah pemeriksaan ada di rumah sakit Jakarta atau di rumah sakit swasta lainnya, tapi yang jelas pihaknya ingin memastikan bahwa korban tetap sehat. Secara hukum, BBHBM akan terus mengawal dan memberikan pendampingan hukum agar bisa memberikan rasa keadilan bagi korban. BBHBM juga sudah menyiapkan sembilan pengacara, baik dari NTB dan pusat.

Sri Rabitah yang terbaringA� di ranjang perawatan mengatakan, saat pemeriksaan pagi hari, ia diminta salah seorang petugas untuk meminta maaf kepada wartawan karena telah memberikan keterangan keliru. Apa yang diajarkan oleh orang tersebut dia ikuti.

a�?Saya ngomong apa yang diajari sama dia, seperti ini a�?o..ternyata ini cuma kesehatan sajaa�� saya diajar seperti itu, terus saya minta maaf sebesar-besarnya kepada wartawan tadi. Tapi wartawan tetap tegas seperti ini,a�? tutur Rabitah. (ili/r8)

Berita Lainnya

Muslim Masih Duduk Manis

Redaksi LombokPost

Bahagia Setelah Miliki Kantor Tetap

Redaksi LombokPost

Rusunawa Nelayan Terkendala Lahan

Redaksi LombokPost

Panel Limit, Risha Krodit

Redaksi LombokPost

Jabatan Muslim Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Janji Manis Jadup Bernilai Rp 4,58 M

Redaksi LombokPost

2.368 Formasi CPNS Bakal Lowong

Redaksi Lombok Post

EMAS HITAM DARI NTB

Redaksi Lombok Post

Liburan ke Pantai Penghulu Agung Ampenan Juga Asyik Loo..!!

Redaksi LombokPost