Lombok Post
Feature

Warga Tak Bisa Tinggalkan Kebiasaan di Tanah Air

NGERUMPI: Ibu-ibu di Kampung Klang Lama keluar rumah bila petang tiba. Mereka menghilangkan penat setelah seharian bekerja. ANDRA NUR OKTAVIANI/JAWA POS

Kampung Baru, Kampung Pandan, Chow Kit, dan Klang Lama dikenal sebagai pusat berkumpulnya orang Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia. Makanan khas tanah air dengan mudah dapat ditemui di kampung-kampung itu.

***

MEMASUKI wilayah permukiman Taman Hock Ann di Jalan Klang Lama tidak jauh dari pusat perbelanjaan The Scott Garden, suasana Indonesia sudah terasa. Warung penjual aneka penyetan ada di sebelah kanan jalan. Sedangkan di kiri jalan terdapat warung makan yang menjual soto Madura dan bakso Solo. Samar-samar terdengar orang bercakap-cakap dalam bahasa Jawa sambil asyik menikmati hidangan di depannya.

Begitu petang tiba, sekitar pukul 18.00, warga kampung tersebut mulai keluar rumah. Mereka mencari angin segar selepas seharian bekerja. Aktivitas keluar rumah itu menjadi agenda rutin setiap hari bagi masyarakat Indonesia, kebanyakan keluarga TKI (tenaga kerja Indonesia), di Kuala Lumpur.

Layaknya di kampung-kampung di Indonesia, ibu-ibu di Klang Lama bila petang juga nongkrong bersama anak-anak mereka di luar rumah. Ada yang menyuapi anak balitanya, ada yang momong anaknya yang sedang bermain, ada juga yang ngerumpi dengan para tetangga. Sementara itu, bapak-bapak berkumpul di warung makan di kawasan tersebut. Mereka berbincang sambil menyeruput kopi atau makan.

a�?Kita biasanya berkumpul sekitar pukul 5 atau 6 sore. Pukul segitu kan di sini masih terang. Tapi sudah tidak panas. Waktu yang tepat untuk keluar rumah,a�? kata Winarty, 42, dengan logat Jawa yang masih kental kepada Jawa Pos Senin (27/2).

Tidak seperti Chow Kit yang jadi pusat perniagaan dan wisata, kampung Indonesia di Klang Lama itu merupakan kawasan permukiman yang didominasi warga Indonesia yang bekerja di Malaysia. Ada sekitar seribu warga Indonesia yang tinggal di sana. a�?Dulu banyak orang India dan China di sini. Tapi, mereka sudah banyak yang pindah dan digantikan orang-orang Indonesia,a�? kata Winarty.

Perempuan yang sudah menetap di kampung tersebut lebih dari sepuluh tahun itu mengungkapkan, puluhan rumah di kampung tersebut dihuni para TKI bersama keluarganya. Mereka hidup cukup sederhana. Satu rumah umumnya dipakai untuk tinggal beberapa keluarga. Bahkan, ada yang ditempati sebelas keluarga. Ada juga yang dihuni tiga keluarga. Bergantung besar rumah dan kamar yang tersedia di sana.

Kondisi itu sudah berlangsung cukup lama, turun-temurun. a�?Pastinya kapan, saya juga kurang paham. Tapi, sudah ada yang sampai tiga generasi di sini. Dan makin hari memang makin banyak orang Indonesia di sini,a�? ungkapnya.

Kampung yang diapit bangunan-bangunan tinggi itu dulu cukup sering dilanda banjir. Lokasi kampungnya memang tepat di sebelah Sungai Klang. Dulu Sungai Klang tidak selebar sekarang sehingga hujan sebentar saja, air sungai bisa meluap dan membanjiri permukiman warga. a�?Hujan satu jam saja, banjirnya sudah bisa membuat kulkas guling-guling,a�? ungkap Winarty.

Karena kondisi itulah, lama-kelamaan warga Tionghoa yang tinggal di kampung itu memutuskan keluar dari Taman Hock Ann. a�?Satu demi satu mereka keluar dari kampung ini. Tahu-tahu sudah tidak ada,a�? kata TKI asal Tuban, Jawa Timur, itu.

Rumah yang mereka tinggalkan kemudian disewakan kepada para TKI yang sedang menggarap proyek pembangunan gedung yang tak jauh dari kampung itu. a�?Mereka kemudian berkeluarga di sini juga. Sayangnya, karena dokumen mereka tidak lengkap, pernikahan mereka tidak dicatat negara. Hanya pernikahan secara agama,a�? jelasnya.

Uniknya, kendati sudah tiga generasi tinggal di kampung itu, orang Indonesia tidak terpapar budaya Malaysia. Mereka masih sangat Indonesia. Dari tutur kata yang masih medok hingga kebiasaan-kebiasaan di kampung halaman yang masih dipegang teguh. Misalnya, kebiasaan orang Madura. Mereka tetap berkomunikasi dengan bahasa Madura. a�?Saya yang asli Tuban saja sampai bisa fasih bahasa Madura karena mereka,a�? cerita Winarty.

Begitu pula saat Hari Raya Idul Fitri. Warga Indonesia di Klang Lama melakukan tradisi yang biasa dilakukan di Indonesia. Mulai menggelar salat Id berjamaah, bagi-bagi angpao untuk anak-anak, hingga menyantap hidangan khas Lebaran di Indonesia.

a�?Kalau Raya (sebutan Hari Raya Idul Fitri di Malaysia, Red) tiba, saya bisa bikin ketupat Lebaran lebih dari 2 ratus buah, sendirian. Mulai menganyam ketupat hingga memasaknya,a��a�� tutur dia.

Selain ketupat, hidangan yang wajib ada saat Raya adalah rendang, opor, dan tempe. Untuk rendang, mereka hanya menyediakan dua jenis. Yakni, rendang daging sapi dan rendang ayam.

a�?Karena kami juga sering mengundang majikan datang ke sini saat Raya. Ada beberapa tamu yang tidak makan daging sapi. Kami siapkan makanan yang bisa mereka santap,a�? terangnya.

Winarty mengungkapkan, perayaan Idul Fitri di kampungnya cukup membantunya mengobati rasa kangen pada tanah air. Sudah cukup lama Winarty tidak pulang kampung. Kendati begitu, dia masih tetap bisa merasakan kehangatan dan kekeluargaan dari orang-orang Indonesia di kampung tersebut.

a�?Untuk Raya tahun ini rasanya saya ingin mudik ke Indonesia,a�? kata Winarty yang mengaku kangen berat dengan kampung halamannya.

Winarty menambahkan, saat Raya, suasana Indonesia makin terasa. Warga kumpul untuk bersilaturahmi. a�?Biasanya setelah salat Id, anak-anak sudah mengantre untuk mendapatkan angpao. Bisa mengobati kangen Lebaran di Indonesia,a�? ucap Winarty. a�?Kami biasanya menyiapkan uang recehan 300 dan 200 ringgit untuk anak-anak itu,a�? tambahnya.

Selain Idul Fitri, warga kampung Indonesia di Klang Lama tetap memegang tradisi perayaan 1 Muharam alias Tahun Baru Islam. Bagi masyarakat Jawa, 1 Suro merupakan hari sakral. Tidak seperti perayaan tahun baru yang dilakukan dengan pesta pora, 1 Suro justru dirayakan dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai bentuk rasa syukur atas berkah yang telah dilimpahkan.

a�?Orang-orang di sini biasanya menggelar kenduri (selamatan). Ngaji-ngaji. Masak-masak dan makan-makan,a�? kata Winarty. a�?Itu tradisi yang Jawa banget. Di Malaysia tidak ada,a�? tandas Winarty. (ANDRA NUR OKTAVIANI, Kuala Lumpur/c10/ari/JPG/r8)

Berita Lainnya

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

Redaksi Lombok Post

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak Gempa di Gunung Rinjani (1)

Redaksi Lombok Post

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Mengunjungi Lalu Muhammad Zohri, Sang Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Melihat Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Loang Baloq

Kisah Penambang yang Lolos dari Lubang Maut Sekotong (1)

Festival Seribu Bedug di Pulau Seribu Masjid

Redaksi Lombok Post