Lombok Post
Praya

Tujuh Tahun Pemekaran Desa Statuta

MEGAH: Suasana kantor Desa Setuta, Janapria Lombok Tengah (Loteng), Sabtu (4/3). dedi/Lombok Post

Desa Setuta merupakan, desa hasil pemekaran dari Desa Janapria di Lombok Tengah (Loteng). Di umurnya yang baru tujuh tahun berjalan, desa yang satu ini, patut dijadikan contoh bagi 15 desa persiapan di Loteng yang kini tengah dimatangkan.

***

MungkinA� karena baru beberapa tahun saja pemekaran, nama Desa Setuta, tidak begitu banyak dikenal masyarakat di Gumi Tatas Tuhu Trasna. Kendati demikian, desa yang bertetangga dengan Desa Janapria dan Desa Langko ini, ternyata setidaknya mampu mengejar ketertinggalan dari desa induk dan desa lainnya yang lebih dulu ada di Kecamatan Janapria.

Kepala Lombok Post, Kepala Desa (Kades) Setuta Awaludin Afandi pun menceritakan perjalanan desanya. Ia menerangkan, Desa Setuta mekar dari Desa Janapria sejak awal tahun 2011 silam. Setelah ditetapkan sebagai desa persiapan Desa Setuta menjadi desa definitif beberapa bulan kemudian.

Padahal, untuk menjadi desa definitif, menurut Afandi-panggilan akrabnya- membutuhkan persiapan teknis dan non teknis selama dua tahun. Namun, berbekal semangat dan tekat, Desa Setuta berdiri. Ia pun terpilih menjadi kades pertama, setelah melalui proses pemilihan. Oktober 2011, ia dilantik dan menerima surat keputusan (SK) penetapan kades terpilih dari bupati kala itu.

a�?Begitu saya menjabat sebagai kades, saya bingung mau mengerjaan apa. Maklum saja, desa dan aparatur pemerintah desanya masih baru semua,a�? ujar Afandi sembari tersenyum.

Kendati demikian, berbekal pengalaman organisasinya di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Afandi terus memutar otak untuk membangkitkan potensi yang adaA� di desanya. Pembangunan mulai digerakkan.A� Diantaranya Membangun kantor desa, membuka akses jalan dusun, membangun irigasi pertanian, pos keamanan, lapangan olahraga, jaringan listrik, fasilitas, sarana dan prasarana pendukung lainnya. A�A� Hingga kini pembangunannya tetap berlanjut. Salah satu pembangunan yang diberikan jempol bagi Pemkab dan provinsi yaitu, kantor desanya. Selain megah dan besar, kantor desa di Setuta menerapkan aturan khusus a�?awiq-awiqa�? yang cukup menarik. Setiap tamu yang datang ke tempat itu, wajib membuka alas kaki.

Alhasil kini seluruh ruangan kantor desa itu relatif bersih, sehingga dimana pun bisa digunakan untuk melaksanakan ibadah salat.

a�?Setiap pejabat Pemkab, atau provinsi dan pusat yang datang berkunjung, Alhamdulillah mereka memaklumi,a�? ujarnya.

Oktober tahun ini, ia pun akan meninggalkan jabatan kadesnya. Ia optimis, disisa beberapa bulan ini, pembangunan desa harus dirampungkan. Harapannya, begitu kades lain memimpin, Desa Setuta sudah setara dengan desa-desa lain. a�?Insya Allah,a�? kata Afandi.(Dedi Shopan Shopian a�� PRAYAr2)

 

Berita Lainnya

Bangun Mandalika, ITDC Pinjam Rp 3,6 Triliun ke AIIB

Redaksi LombokPost

Penjualan Songket Sukarara Anjlok

Redaksi LombokPost

Warga Merasa Bayar Angin, Bukan Air PDAM

Redaksi LombokPost

150 Pendaki Jajal Jalur Aik Berik

Redaksi LombokPost

BPK Periksa 10 Desa di Loteng

Redaksi LombokPost

Suhaili Tagih Komitmen Pusat

Redaksi LombokPost

Loteng Kembali Raih WTP?

Redaksi LombokPost

2.500 Sertifikat Gratis Dibagikan

Redaksi LombokPost

Segel Kantor Desa Lajut Dibuka

Redaksi LombokPost