Lombok Post
Sudut Pandang

Media Sosial dan Ruang Publik

sudut pandang

EKSISTENSI media sosial terus mengalami evolusi dari waktu ke waktu. Perkembangan tidak hanya bersifat kualitas tetapi juga kuantitas (jumlah) sehingga masyarakat sebagai user memiliki banyak alternatif pilihan media sosial yang ingin dimanfaatkannya.

Data dari Asosiasi Jasa Pengguna Internet Indonesia (APJII) tahun 2016 menunjukkan jumlah pengguna internet di Indonesia telah menembus angka 132,7 juta. Padahal pada tahun 2014 APJII mencatat 88 juta pengguna internet. Artinya ada peningkatan atau kenaikan 51,8 persen dibandingkan jumlah pengguna internet hingga tahun 2016.

Masih menurut APJII, facebook menjadi media sosial yang banyak diminati orang Indonesia (71,6 juta pengguna), disusul instagram (19,9 juta), dan Youtube (14,5 juta). Indonesia termasuk Negara dengan pengguna facebook urutan keempat setelah Amerika Serikat, India, dan Brasil.

Dilihat dari usia penggunaA� facebook di Indonesia, berdasarkan data dari wearesosial.org.sg diketahui bahwa 33 % berusia 13 a�� 19 tahun, 44 % berusia 20-29 tahun, 15 % berusia 30-39 tahun, dan sisanya 5 % (usia 40-49 tahun), dan 3 % untuk pengguna yang berusia 50 tahun ke atas.

Data di atas menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sudah sah disebut sebagai masyarakat cyber (cyber community) yang sebagian waktunya dihabiskan untuk berinteraksi atau beraktivitas lewat media sosial. Data dari wearesosial.org.sg menghitung rata-rata lama penggunaan media sosial oleh masyarakat Indonesia lebih kurang 2 jam 45 menit.

Waktu selama atau sebanyak ini bukanlah waktu yang pendek untuk penggunaan media sosial, apalagi dominasi user media sosial berusia remaja dan dewasa serta usia produktif. Artinya bila waktu tersebut dimanfaatkan untuk mengakses hal-hal yang tidak berguna bagi masa depan atau hanya sebagai media untuk ber-katarsis (penyaluran emosi yang terpendam), maka bangsa ini banyak diisi oleh warga pemalas dan tidak produktif sehingga diprediksi akan berpengaruh pada tingkat daya saing daerah dan bangsa.

Tapi bila media sosial dimanfaatkan untuk mensupport tugas dan profesi masing-masing, maka waktu yang dihabiskan untuk media sosial adalah waktu yang kontributif. Teknologi adalah barang netral yang memberi otoritas pada usernya untuk dimanfaatkan sebagai alat untuk ke a�?surgaa�? atau ke a�?nerakaa�?.

Terlepas dari kontributif atau tidaknya media sosial bagi aktivitas individu dan kelompok, pemanfaatan media sosial bagi kepentingan personal dan group telah menjadi gaya hidup baru masyarakat modern. Teknologi komunikasi yang telah melahirkan berbagai jenis media sosial telah dikreasikan oleh para pengguna sebagai sarana komunikasi sosial baru. Berbagai group media sosial seperti WhatsApp (WA), facebook group, BBM group, dan lainnya telah mampu menjadi wadah diskusi bagi kelompok dengan multi segmen.

Kenyataan ini sekaligus mereduksi tradisi dan wadah komunikasi konvensional yang selama ini dilakukan. Artinya, kesempatan untuk bertatap muka, bercengkrama, dan saling membagi perasaan dan persoalan secara langsung antarwarga dalam simpul kelompok telah diganti dengan komunikasi di dunia maya.

Media sosial telah menjelma sebagai ruang publik baru bagi masyarakat karena di media sosial-lah mereka bisa bercengkrama dan saling bertukar pikiran secara online maupun offline. Atau lewat media sosial pula masyarakat bisa menshare sekaligus mengakses informasi pada dan dari yang lain. Fenomena ini bukan tanpa permasalahan karena kebebasan informasi lewat media sosial membuat masyarakat pengguna diserang oleh beragam informasi yang tidak dijamin kebenarannya. Dalam konteks inilah media sosial sebagai ruang publik baru menjadi ajang untuk menyebar kebencian dan menabur informasi hoax kepada orang atau kelompok lain dengan motif-motif subjektif yang situasional.

Tumbuh suburnya media sosial sebagai ruang publik baru paling tidak disebabkan oleh dua hal. Pertama, keterbatasan waktu. Kesibukan masyarakat modern telah membuat waktu mereka untuk berkumpul dan berinteraksi langsung dengan anggota masyarakat lainnya sangat terbatas. Menghadiri rapat dan forum bersama komunitas tidak lagi sempat dihadiri karena agenda-agenda personal dan institusi padat tidak karuan.

Atau waktu mengejar kehidupan dan rezeki duniawi yang maksimal tidak lagi menyisahkan kesempatan untuk menghadiri gawe-gawe sosial di ruang publik. Dalam konteks keagamaan, pengajian-pengajian di ruang publik sering kali berbenturan dengan agenda duniawi masyarakat modern, sehingga belajar agama lewat media sosial menjadi alternatif pilihan.

Tradisi dan kondisi seperti ini telah memaksa masyarakat ber-asosial. Ikatan-ikatan kekerabatan dan rasa senasib-sepenanggungan antarwarga dalam satu lingkungan terasa dangkal. Interaksi dengan cara face to face tentu beda dengan via media sosial. Cita rasa kebersamaan saat berkumpul fisik tidak tergantikan dengan cara apapun, apa lagi hanya lewat media sosial. Maka tidak heran bila warga dalam satu lingkungan atau kompleks berbudaya individualis. Padahal acap kali fakta menunjukkan bahwa tumbuhsuburnya aksi kriminal seperti teroris antara lain disebabkan oleh tidak adanya komunikasi sosial antarwarga di ruang publik. Beberapa kali warga dalam satu kompleks baru sadar kalau hidup berdampingan dengan teroris setelah ada penggerebekan oleh pihak keamanan.

Kedua, keterbatasan ruang publik fisik. Semakin berkurangnya ruang publik yang berbentuk fisik seperti sarana olahraga, ruang ekspresi seni, dan ruang terbuka hijau serta arena bermain dan berkumpul lainnya menjadi penyebab lain dari meningkatnya jumlah pengguna media sosial. Pilihan bermedia sosial sangat mungkin merupakan a�?keterpaksaana�? situasional karena minimnya ruang publik tempat masyarakat berinteraksi. Seiring dengan terus berkembangnya pembangunan di suatu daerah, banyak ruang-ruang publik tergerus oleh bangunan ruko dan mall serta berbagai gedung yang lebih komersil lainnya.

Konflik sosial yang terjadi di suatu wilayah antara lain disebabkan oleh kurangnya ruang publik tempat warga berbeda kampung untuk berinteraksi dan bermain bersama. Minimnya ruang publik seperti ini memungkinkan frekuensi pertemuan antara warga relatif minim sehingga di antara mereka tidak saling akrab dan kenal.

Perkembangan dan pertumbuhan generasi yang tak terbendung tidak sejalan dengan tersedianya ruang publik untuk mereka bermain dan berinteraksi sehingga antaranak di satu lingkungan tidak saling mengenal, dan berujung pada tidak saling menyayangi dan mengasihi. Fenomena ini sangat rentan dengan konflik antarwarga atau antarkampung. Naudzubillahimindzalik. (r8)

Berita Lainnya

Sudah Ikhlaskah Nonpribumi Berindonesia?

Redaksi Lombok Post

Universitas Islam Negeri (UIN) dan Spirit a�?DNAa�? Baru

Redaksi Lombok Post

Selamat Jalan Pengawal Budaya Mbojo

Redaksi Lombok post

Melawan Musuh Bangsa

Redaksi Lombok post

Makna Simbolik Kunjungan Raja Salman

Redaksi Lombok post

Pendidikan Nirkekerasan

Redaksi Lombok post

Kasih Sayang yang Tidak Mengenal Hari

Redaksi Lombok post

Habib Rizieq: Antara Benci dan Rindu

Redaksi Lombok post

Negeri Para Penyandera

Redaksi Lombok post