Lombok Post
Metropolis

SURGA SAMPAH DI PULAU WISATA

GUNUNG SAMPAH TRAWANGAN: Sapi-sapi di Gili Trawangan memakan sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir di tengah gili, Minggu (26/2). Sampah di Gili Trawangan rupanya tak pernah diolah dan hanya ditumpuk semenjak tahun 2007. SIRTU/LOMBOK POST

Gili Trawangan menyimpan bom waktu. Tinggal menunggu picu, gunungan sampah di tengah pulau surga itu siap meledak kapan saja. Ternyata, selama ini, sampah di di sana tidak pernah diolah. Mirip aib, hanya disembunyikan dari pandangan mata turis saja. Ya, beginilah cara pemerintah kita bekerja. Meski saban tahun menikmati manisnya pendapatan miliaran rupiah dari pariwisata.

***

MATAHARI pagi mengintip dari celah awan akhir pekan lalu di Gili Trawangan. Pulau wisata bak surga itu perlahan mulai bermandi cahaya keemasan sang surya. Tapi, pulau masih enggan beringsut. Seperti biasa, pesta ingar bingar semalam memang baru kelar pada dini hari. Para wisatawan masih dibekap lelap. Hanya terlihat kapal-kapal di bibir pantai berpasir putih yang terombang ambing, mengikuti ritme ombak pagi.

Dan sepagi itu, Marsuki nampak tergesa-gesa. Tampaknya, hanya dia seorang di pulau itu sudah tergopoh-gopoh pada saat embun masih belum beranjak dari tanah. Pria paruh baya itu menyapu sampah-sampah yang terserak di jalan dan area pasar seni di Gili Trawangan. Sisa-sisa makanan, daun, plastik bungkus makanan ringan, permen, botol kaleng, hingga putung rokok dimasukkanya ke dalam tong sampah. Tangannya cepat dan cekatan.

Sesekali dia menengok pada matahari. Kian tinggi sang surya, kian gopoh pula dia. Seperti dikejar waktu, bapak lima anak ini mondar mandir memastikan setiap sampah beres segera.

Saban hari, kebersihan pasar seni itu memang tanggung jawab Marsuki. a�?Saya kelembang (kesiangan) tadi. Telat keluar nyapu,a�? katanya sambil terus bekerja. Oh, itu rupanya alasan kenapa dia begitu bergegas-gegas.

Tidak seperti biasanya, akhir pekan lalu, Marsuki tumben telat bangun. Padahal biasanya, ia sudah keluar pukul 01.00 dini hari. Selama tiga sampai empat jam ia menyapu area pasar seni sehingga ketika memasuki waktu subuh, pekerjaan sudah beres. Sampah dimasukkan ke dalam tong yang sudah tersedia. Nanti, sampah-sampah itu akan diangkut petugas kebersihan dengan cidomo tanpa atap atau dongol atau kendaraan pikap milik Pemkab Lombok Utara yang diperbantukan di Gili Trawangan tiga pekan terahkir.

Karena telat bangun itu pula, hari itu, Marsuki sial. Sampah tidak jadi terangkut mobil pikap, sebab kendaraan itu hanya beroperasi pukul 03.00 hingga 06.00 Wita. Selanjutnya sampah-sampah akan diangkut cidomo. a�?Kalau keluar jam dua saja udah pasti telat,a�? katanya.

Pasar seni Trawangan memang tak terlalu luas. Tapi, itu adalah produsen sampah saban hari. Soalnya, pada malam hari, lokasi itu dijadikan sebagai pusat kuliner, sehingga menghasilkan banyak sampah. Terutama bekas makanan. Kian ramai pengunjung, kian menumpuk pula sampah. a�?Kalau tidak disapu sehari saja, wah…baunya minta ampun,a�? kata Marsuki.

Tentu saja, di Trawangan, tak cuma Marsuki sendiri yang sibuk begitu. Ada petugas kebersihan lain yang juga sibuknya sama. Seperti Yahya, pemuda setempat yang bertugas mengangkut sampah. Pukul 6.30 Wita, ia sudah keluar dengan cidomo tanpa atap atau yang biasa disebut dongol di Gili Trawangan. Itu adalah jenis cidomo yang memang khusus untuk angkutan barang. Semacam kendaraan pikap kalau untuk mobil.

Saat bekerja, Yahya punya pakaiannya khusus lengan panjang. Dia mengenakan kacamata hitam. Lalu mengingatkan kain bandana atau sapu tangan menutupi hidung sampai mulut. Sementara kakinya dipasangkan sepatu boots.

Yahya bukan hendak bergaya. Itu dilakukan untuk melindungi diri dari bau sampah yang minta ampun. A�Lombok Post coba mengikutinya. Dia memulai pekerjaanya dari Ko-ko-mo Resort. Mengendarai dongol, satu per satu kantong sampah yang sudah berada di depan hotel diangkutnya. Soal bau jangan ditanya, sudah pasti menyiksa paru-paru.

Terutama limbah sisa masakan restoran. Meski dibungkus menggunakan plastik, tetapi tetap saja berbau busuk. Sebab, berbagai jenis makanan dicampur di dalamya, mulai bumbu-bumbu, daging, tulang ayam beserta kulit jeruk. Mudah membusuklah barang-barang tak berharga itu.

Selain itu, juga banyak sampah berupa botol kaca bekas minuman beralkohol. Juga botol minuman bersoda, minuman suplemen energi, minuman vitamin c dan sejenisnya.

Tapi untuk yang ini, tidak terlalu bau. Cuma itu. Dia berat. Pemulung bisanya enggan mengambil botol jenis ini karena tidak bisa dijual. Sementara sampah plastik seperti botol bekas air mineral juga cukup banyak, kadang Yahya memilah dan memasukkan ke karung yang dibawanya.

Baru beberapa hotel dilalui, cidomo terbuka itu sudah penuh dengan kantong sampah plastik hitam. Tapi Yahya tetap memaksakan untuk menaikkan beberapa kantong lagi. Sarat betul muatan cidomo itu. Bagian kiri dan kanan bak cidomo bahkan sudah dipasangi papan, agar bisa menampung sampah lebih banyak lagi dan sampah tetap tak jatuh di jalan.

Saat memasuki permukiman warga, Yahya berhenti di sebuah tempat. Sampah botol plastik yang tadi sudah dipilahnya diturunkan. Rupanya tempat itu adalah lokasi para pemulung biasanya menjual sampah plastiknya. Mobil pengangkut sampah juga diparkir di situ. Saking menggunungnya sampah di Gili Trawangan, seorang pemulung bisa mengantongi uang Rp 3 juta per bulan dari hasil menjual sampah.

Dari lokasi tempat penjualan sampah daur ulang itu, Yahya menghela kuda dan cidomonya menuju lokasi yang menjadi tempat pembuangan akhir (TPA) Gili Trawangan. Jaraknya sekitar 1,5 km dari pantai, atau ditempuh dalam waktu 15 menit menggunakan sepeda.

Setelah melintasi gang-gang jalan tanah, akhirnya Yahya tiba di sebuah lahan. Sebagian ditanami pohon kelapa, sebagian lain adalah hamparan rumput. Tapi tanahnya becek. Dari ujung gang orang sudah langsung tahu, kalau tempat itu adalah tempat sampah ditumpuk. Saat Lombok Post ke sana, kira-kira gunungan sampah sudah setinggi lima meter dari permukaan tanah.

Untuk mencapai gunung sampah itu, sebuah jalan khusus sepanjang 50 meter dibuat warga menggunakan bata dan semen. Tapi jalur itu sempit, hanya cukup untuk satu cidomo, tidak bisa berpapasan.

Saat menginjakkan kaki di jalan TPA itu, bau menyengat langsung menyapa. Sulit mengidentifikasi baunya. Pokoknya bau yang berasal dari campuran bau-bau yang sangat tak enak. Kami pastikan, Anda akan merasa sedang tidak berada di pulau surga dengan keindahan yang sudah kesohor ke setiap sudut dunia. Ya iyalah. Mana ada surga bau begitu.

Inilah tempat dimana semua limbah pariwisata Gili Trawangan disatukan. Ditumpuk hingga menggunung. Lahan itu memiliki luas sekitar 1 hektare, dan menjadi satu-satunya lokasi pembuangan sampah. Sehingga, jangan heran kian hari sampah terus menjulang tinggi.

Yahya dan sembilan cidomo lainnya, bisa bolak balik mengangkut sampahA� ke tempat itu. Sehari bisa enam kali rata-rata. Tapai, kala ramai, satu orang bisa mengangkut hingga sembilan kali. Kadang ia merasa lelah, tetapi apa mau dikata, jika sekali saja tidak diangkut pasti akan membuat heboh sekujur gili. a�?Kemarin saja waktu ada masalah beberapa hari, ribut tidak ada yang angkut,a�? katanya.

Masalah yang ia maksud, adalah ketika Tim Saber Pungli beraksi dengan menangkap tiga orang yang menarik dan mengelola iuran kebersihan di Gili Trawangan. Semenjak itu, tak ada lagi warga setempat yang mengurus sampah.

Meski namanya TPA, tapi sampah-sampah di tempat itu tidak diolah. Sampah di sana hanya ditumpuk. Kalaupun ada perlakuan lain, sampah itu hanya dibakar. Itu menjadikan, sampah di Gili memang hanya disembunyikan. Sekadar dijauhkan dari wisatawan.

Beruntunglah sapi-sapi milik warga Gili Trawangan yang tidak terpengaruh bau tengik, turut serta membantu. Sapi-sapilah yang kemudian mengubek-ubek sampah-sampah yang baru dibuang saban hari. Terutama sisa-sisa makanan berupa sayur-sayuran, sapi biasanya doyan.

Paling menyiksa di tempat itu kalau sudah sore. Biasanya baunya lebih parah. Sore, biasanya sampah-sampah itu dibakar. Bau tak enak biasanya bercampur dengan asap pembakaran yang menyesakkan dada. Kalau api sudah membara, suara letupan botol-botol kaca yang terbakar terdengar. Beling dan sampah plastik memang menjadi satu. Arang dari dalam tumpukan sampah ini terasa cukup panas. Sementara jika tidak pakai alas kaki, pecahan botol atau kaca siap menusuk-nusuk. Sementara sampah bekas makanan mengeluarkan ulat-ulat kecil dan bau tidak sedap. Uh, gak kuat.

Di Belakang Hotel

Lokasi TPA ini dikelilingi permukiman penduduk dan beberapa hotel. Sekitar 100 meter di sebelah barat berdiri megah hotel Ombak Sunset. Di sebelah utara tampak Hotel Aston, di sebelah timur adalah permukiman penduduk, dan di sebelah selatan juga terdapat hotel.

Hj Rumnah, salah seorang warga yang tinggal di sekitar TPA mengaku, ia sangat terganggu dengan bau sampah itu, terutama pada sore hari saat proses pembakaran. Meski tidak sampai sakit, tetapi asap sampah membuat mereka terasa sesak, bahkan salah satu anaknya harus diungsikan ke rumah saudaranya bila pembakaran mulai dilakukan lantaran punya riwayat sesak sejak kecil.

Koordinator Front Masyarakat Peduli Lingkungan (FMPL) Gili Trawangan Rahman mengatakan, setiap hari mereka mengangkut sampah sejak pukul 06.00 wita, setiap hari sekitar 13 ton diangkut ke TPA setiap hari. Meningkatnya volume sampah ini terjadi seiring dengan semakin banyaknya hotel dan restoran yang kini beroperasi di Trawangan.

Sebelum ada masalah dengan Saber Pungli, masyarakat mengangkut sampah menggunakan 12 cidomo, tapi sekarang berkurang menjadi 9 cidomo. Wilayah Gili Trawangan dibagi menjadi tiga blok untuk memudahkan pengangkutan sampah, masing-masing blok ada tiga cidomo yang dioperasikan. Semua sampah di bawa ke TPA, baru kemudian dipilah-pilah. Sampah platik dikumpulkan menjadi satu untuk dijual, kemudian botol-botol kaca dipisah untuk digiling menjadi bahan keramik.

a�?Nanti sore kalau cuacanya bagus kita bakar, itu saja prosesnya,a�? jelas Rahman.

Ia tak menampik, sejak TPA itu pertama kali beroperasi tahun 2007 lalu, pola pengolahan sampah sejauh itu hanya angkut buang. Meski sebagian dipilah tapi volumenya tidak seberapa.

Namun, meski cuma hanya disembunyikan, dia menolak kalau sampah-sampah itu menganggu wisatawan. Kata Rahman, jaraknya sudah diatur. Cuma, kalau lagi dibakar, biasanya asap mengikuti arah angin? Siapa bisa mengatur arah angin? Tak ada. Asap-asap itu kemudian menyebar kemana-mana. Termasuk ke rumah warga.

Seluruh pengelolaan sampah itu, kata Rahman ditangani warga semuanya. Pemerintah sebetulnya pernah turun tangan. Mereka merencanakan pengolahan sampah terpadu di Gili Trawangan. Tapi menjadi sangat sulit, mengingat tingginya volume sampah harian saat ini.

Sebelum dikelola warga, pemerintah daerah sudah beberapa kali mencoba mengelolanya, tetapi tidak mampu sehingga dikembalikan ke masyarakat. Kalaupun sampah akan dibawa keluar pulau, juga akan sangat sulit. Sebab, sampah harus ditumpuk di pinggir pantai terlebih dahulu. Apa jadinya sampah ditumpuk 13 ton di pinggir pantai setiap hari? Sudah pasti nggak indah banget.

a�?Di sini berbeda dengan di Gili Air, di sana masih sedikit pengusahanya, di sini sudah banyak,a�? kata Rahman. Dia mengomentari soal pengangkutan sampah ke daratan di Gili Air yang skemanya kini berjalan.

Bukannya tidak pernah dicoba. Sebelumnya, pola pengangkutan ke luar menggunakan kapal sudah pula dilakukan di Gili Trawangan. Tetapi sampah tidak habis diangkut. Yang terjadi akhirnya menumpuk di satu satu titik dan menjadi masalah. Mengganggu wisatawan yang tengah menikmati pantai. Sebab, tidak hanya sampah hotel saja, tetapi juga sampah milik warga.

Itu sebabnya, karena pengolahan sampah ini dikelola oleh masyarakat, maka masing-masing hotel diminta membayar iuran sebagai imbalan telah diangkutkan sampahnya.

Masing-masing pengusaha mengeluarkan iuran bervariasi tergantung besar dan volume sampahnya, seperti Villa Ombak yang membayar Rp 1 juta per bulan karena sampahnya banyak. Tapi banyak juga yang mengeluarkan biaya kecil seperti Rp 500 ribu. Sementara rumah tangga mengeluarkan Rp 50 ribu.

Volume sampah tiap hotel memang berbeda-beda. Ada yang sampai empat tong besar atau ada yang hanya dua sampai tiga kantong plastik saja. Namun, kalau dirata-ratakan, tiap hotel menyumbang 200-500 kg sampah per hari.

a�?Kita tidak memaksa iuran, tapi ini imbalan karena kami sudah mengelola sampah mereka,a�? katanya.

Untuk mengolah sampah ini, biaya operasional yang dibutuhkan mencapai Rp 115 juta per bulan. Biaya itu antara lain untuk gaji karyawan dan membiayai kebutuhan lainnya. Karyawan seperti tukang angkut sebulan digaji Rp 3 juta, sementara petugas yang di TPA sekitar Rp 2 juta lebih per bulan.

Saat ini ada 14 orang yang harus digaji. Belum termasuk pengurusnya, jumlah kusir cidomo sebanyak 9 orang, dan petugas di TPA lima orang.

Menurut Rahman, dengan dana Rp 115 juta, tentu sangat kurang. Bila ingin lebih maksimal, maka butuh lebih banyak tenaga dan biaya, sehingga sampah sudah bersih pada pagi hari saat wisatawan keluar. Tetapi karena tenaga kurang, maka satu kusir cidomo harus bolak balik mengangkut sampah. a�?Perjanjian kita sama pengusaha, pagi jam lima sudah diangkut di depan, jadi begitu tamu bangun sudah bersih,a�? ujarnya.

Rahman mengakui, masalah sampah menjadi masalah serius bila tidak diatasi. Bila tidak diatasi dengan baik, maka akan mengancam pariwisata Gili Trawangan. Selaku warga, mereka juga tergerak untuk mengelola kebersihan. Kalaupun ada iuran dari pengusaha, menurutnya hal itu sangat wajar karena warga juga berjibaku membersihkan sampah mereka. a�?Jangankan satu minggu, satu hari saja tidak diangkut, baunya luar biasa,a�? katanya.

Tapi kini Rahman dan rekan-rekannya mulai gelisah. Sebab, area TPA sudah hampir penuh dengan sampah. Tidak ada lagi lahan yang akan bisa digunakan untuk membuang sampah. Apalagi lahan yang digunakan juga masih berstatus sewa. Rencananya, oleh pemilik lahan, gunung sampah yang ada saat ini akan ditimbun. Tapi entah kapan rencana itu akan terealisasi.

A�Belum Ditentukan

Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) NTB Wedha Magma Ardhi mengatakan, pola pengelolaan sampah yang baik adalah diolah di tempat, tidak dibawa ke mana-mana. Tetapi harus ada mesin insenerator untuk membakar semua sampah yang ada. Hanya saja jika menggunakan insenerator maka harus didukung alat lainnya seperti loder dan eskavator. Sementara di Gili Trawangan adalah area bebas polusi yang melarang kendaraan masuk. Untuk itu, sebaiknya harus ada aturan yang membolehkan alat berat masuk ke gili.

a�?Kalau pengelolaan sampah modern, pasti harus ada alat berat di sana, tidak mungkin tidak menggunakan alat berat,a�? katanya.

Pemerintah sebetulnya sudah siap dengan insenerator tersebut. Pada 2013 lalu, bahkan sudah ada anggaran Rp 10 miliar dari Kementerian PU untuk insenerator di Gili Trawangan. Namun, anggaran itu gagal dieksekusi. Lantaran mewujudkan pengelolaan sampah di Pulau Surga itu memang tak mudah. Selain lahan yang tak tersedia permanen, keberadaan kendaraan alat berat sebagai penunjang juga jadi soal.

Sementara kata Ardhi, jika sampah dibawa keluar, menurutnya tidak akan efektif. Banyak risiko yang harus dipertimbangkan. Ia meragukan intensitas pengangkutan, bisa tidak semua sampah terangkut setiap hari ke luar pulau. Kemudian pengangkutan sampah juga berpotensi mencemari laut, bila kapal tenggelam maka sampah yang dibawa akan mengotori perairan Gili Trawangan. Disamping itu, juga harus dipikirkan di mana lokasi pelabuhan akan dibangun, dimana kapal tongkang akan bersandar? Banyak peer ternyata.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu Mohammad Faozal menampik kalau pemerintah dikatakan tak bergerak menangani sampah di Gili Trawangan. Pemprov bersama Pemkab Lombok Utara sudah membahas persoalan ini sejak lama. Untuk jangka pendek saat ini kata dia, sudah mulai dilakukan pembersihan secara masif dengan mengangkut sampah-sampah yang ada di kawasan pantai dan perhotelan. Karena volume sampah yang sempat membeludak bebrapa waktu lalu, akhirnya disepakati pemerintah mengirimkan dua unit mobil untuk mengangkut sampah.

a�?Tujuannya agar sampah yang menumpuk saat ini bisa diatasi untuk sementara,a�? katanya.

Sampah yang sebelumnya dikelola masyarakat akan diambil alih pemerintah, biayanya akan dianggarkan di ABPD Lombok Utara. Sementara untuk jangka panjang, pemerintah akan membeli kapal tongkang yang mengangkut sampah dari gili ke daratan Pulau Lombok. Harga kapal ini cukup besar yakni mencapai Rp 10 miliar.

Menurutnya, pengangkutan sampah dengan kapal ini sangat memungkinkan, bahkan perencanaan secara detail sudah dibuat dengan Pemda KLU. Untuk rencana ini, Zainal Tayib, pemilik Hotel Villa OmbakA� sudah menghibahkan lahan seluas 18 are untuk membuat Tempat Pembuangan Sementara (TPS).

Dengan sistem baru ini, sampah-sampah akan tetap diangkut ke TPS, dari sana kemudian akan diangkut ke pinggir pantai sehingga akan dilakukan dua kali angkut. Baru kemudian diangkut menggunakan kapal tongkang. Untuk tenaganya akan direkrut 30 orang dari masyarakat setempat, mereka akan digaji pemerintah daerah.

Terkait adanya kekhawatirkan sampah akan tumpah di laut saat pengangkutan baginya tidak perlu dipersoalkan. Sebab, hal itu hanya kemungkinan terburuk, pemerintah daerah pasti akan mempersiapkan skenario pengangkutan agar aman di laut.

Faozal menegaskan, pemerintah sangat menyadari masalah sampah di gili tetap akan menjadi perhatian serius. Sebab sampah menjadi salah satu faktor ketidaknyamanan para wisatawan. Untuk itu, semua kemungkinan akan dicoba agar pulau itu bisa bersih.

Kapan rencana ini akan terealisasi? Masih sumir. Pemkab Lombok Utara yang akan menjadi garda depan, rupanya masih gamang. Kenapa?

Lelet

Plt Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman, dan Lingkungan Hidup Lombok Utara I Ketut Masa mengatakan, kunci penanganan sampah di Gili Trawangan saat ini adalah tidak adanya lahan. Tapi, hingga kini, lahan permanen itu tak pernah ada.

Masa mengakui kalau kawasan wisata tiga Gili adalah lumbung pendapatan Lombok Utara. Tiap tahun, dari Gili Trawangan saja, Lombok Utara mampu mengumpulkan pundi-pundi hingga Rp 33 miliar.

Namun, setelah pendapatan dihimpun, yang terjadi adalah paradoks. Tak ada sepeserpun anggaran untuk penanganan sampah disiapkan Pemkab di APBD. a�?Kalau Gili Trawangan memang tidak dianggarkan karena dikelola oleh lembaga di sana,a�? ungkap Masa.

Saat ini kata Masa, kalaupun ada lahan tempat sampah ditumpuk di tengah Gili Trawangan, lahan tersebut pinjaman dari salah seorang pengusaha di sana. a�?Tanpa lahan sulit,a�? katanya. Sementara di sisi lain, jumlah sampah menggunung tiap hari.

Siapa yang akan menyiapkan lahan? Pemerintah sedang berupaya. Dijelaskan Masa, saat ini ada bantuan dana CSR dari Bank Mandiri yang akan dialokasikan juga untuk membangun sarana pembangunan fisik untuk penanganan sampah. a�?Kita bertahap dulu. Rencana jangka panjangnya ada lahan baru dilengkapi alat yang akan digunakan untuk mengolah sampah di sana,a�? tandasnya.

Tapi, ini masih rencana jangka panjang. Belum ada rincian, kapan bisa terealisasi.

Memang sebelumnya, sempat direncanakan pengelolaan sampah di Gili Trawangan menggunakan sistem Osamtu (olah sampah tuntas) dengan sistem pembakaran. Pemkab pun sempat menyosialisasikan rencana itu kepada pengusaha dan masyarakat. Namun, usulan penggunaan Osamtu ini ditolak. Karena pembakaran sampah yang dilakukan dikhawatirkan akan menyebabkan polusi udara dan mengganggu kenyamanan wisatawan.

Selepas itu, pemerintah pun seakan cuma bengong saja. Bahkan Masa mengakui kalau pemerintah belum punya kesimpulan apakah sampah yang dihasilkan di Gili Trawangan cukup diolah di sana atau harus dibawa ke daratan. Hal begitu baru akan dilihat oleh Pemkab Lombok Utara kalau lahan sudah ada. a�?Kita juga harus mendengar keinginan masyarakat gimana,a�? dalihnya.

Alternatif lain, diakui Masa, tidak menutup kemungkinan, pemkab juga menyediakan kapal tongkang untuk mengangkut sampah dari Gili Trawangan. Menurut Masa, ini bisa dilakukan jika memang tidak ada solusi jangka panjang yang tepat untuk menyelesaikan masalah sampah di Gili Trawangan.

a�?Kalau menurut saya ini sangat mungkin dilakukan. Karena kalau sampah tidak bisa diuraikan di sana ini wajib dibawa ke TPA yang ada di daratan,a�? katanya.

Tetapi rencana pengadaan kapal tongkang ini juga harus sama tidak jelasnya. Ini lantaran TPA milik Pemkab Lombok Utara di Dusun Jugil juga belum bisa dimanfaatkan maksimal. Lahan TPA ini belum punya jalan akses. Baru tahun ini, Pemkab menganggarkan dana Rp 900 juta yang rencananya akan dipakai membebaskan lahan untuk jalan akses.

Karena itu, jangankan ditambah sampah dari gili. Sampah di daratan Lombok Utara pun saat ini belum tertangani baik lantaran masih dibawa ke TPA yang berada di lahan sewaan.

Memang sudah ada sampah dari gili yang sudah terangkut. Sampah di sana diangkut pakai boat milik pemerintah. Cuma pola ini banyak kendala. Misalnya saja, cuaca dan gelombang serta kendala teknis jika kapal pengangkut sampah rusak. Akibatnya sampah-sampah yang dihasilkan di gili tidak bisa diangkut ke daratan dan menumpuk. Hal ini pernah beberapa kali terjadi di Gili Air. Meskipun volume sampah di Gili Air lebih sedikit dari Gili Trawangan yakni sekitar 7 hingga delapan ton per hari tetapi jika dibiarkan menumpuk karena tidak bisa diangkut, tentu menimbulkan masalah dan menggangu kenyamanan wisatawan.

Cara Pemkab Lombok Utara menangani sampah di Gili mendapat sorotan dari kalangan DPRD. Ketua Komisi II DPRD Lombok Utara Tusen Lasima menegaskan, pengelolaan sampah di tiga gili tidak bisa dianggap enteng. Sebagai kawasan penyumbang PAD seharusnya tiga gili mendapatkan prioritas lebih untuk mengatasi permasalahannya.

a�?Di Gili Trawangan ini kan hanya memindahkan masalah saja. Sampah-sampahnya hanya dipindah dari depan ke tengah pulau,a�? tandansya. Sehingga Tusen pun menyarankan agar sampah-sampah yang dihasilkan harus diangkut ke daratan.

Terpisah, Ketua Asosiasi Pengusaha Gili Trawangan (APGT) Acok Zani Bassok mengatakan pihaknya berharap pemkab segera menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan sampah di sana. Pihaknya mengakui solusi Osamtu yagn pernah ditawarkan pemkab ditolak karena ditakutkan menggangu kenyamanan wisatawan yang datang. a�?Itu kan dibakar sampahnya, otomatis ada asapnya. Ini menyebabkan polusi dan takutnya mengganggu wisatawan,a�? tandasnya.

Para pelaku berharap, segera ada formulasi mekanisme apa yang akan digunakan, apakah dibakar, dihancurkan dengan insenerator atau lainnya.

Kalau tidak? Maka penanganan sampah Gili Trawangan, hanya akan sebatas memindahkan masalah dan bukan berniat menyelesaikan masalah. (ili/puj/r8)

Berita Lainnya

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost

SPSI Usul UMK Rp 2,13 Juta

Redaksi LombokPost

Rumah Belum Jadi, Tenda Kemasukan Air

Redaksi LombokPost

Pasca Gempa, BPS Belum Keluarkan Data Kemiskinan

Redaksi LombokPost

Kalau Lagi Mood, Lima Jam Bisa Selesai

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Longsor!

Redaksi LombokPost

Taksi Online Jangan Parkir Sembarangan!

Redaksi LombokPost

Bantuan Jadup Urung Disalurkan

Redaksi LombokPost