Lombok Post
Giri Menang

Memiliki Jangkauan Tempur 5-6 Km

PENINGGALAN SEJARAH: Inilah meriam yang konon merupakan peninggalan kolonial Jepang. Meriam ini berada di bagian pesisir pantai Barat Sekotong, tepatnya di Dusun Pemalikan, Desa Batu Putih Kecamatan Sekotong.

Pesisir pantai bagian Barat Sekotong, pernah menjadi lokasi pertahanan kolonial Jepang. Adanya meriam menjadi bukti nyata. Meriam itu bahkan masih bisa dijumpai sampai sekarang.

***

GIRI MENANG -A�Indonesia menjadi salah satu negara yang pernah merasakan kekejaman militer Jepang saat penjajahan dulu. Ekspansi penjajahan Jepang hingga ke Pulau Lombok. Beberapa titik strategis di pulau yang dikenal seribu masjid ini pernah dijadikan benteng pertahanan Jepang. Salah satunya di pesisir pantai barat Sekotong. Tepatnya di Dusun Pemalikan, Desa Batu Putih.

Di sana ada jejak peninggalan berupa meriam serta gua penyimpanan makanan tentara kala itu.

Jejak-jejak tersebut masih bisa dijumpai sampai sekarang.

Di kawasan itu menurut cerita pernah ada enam senjata meriam. Namun karena termakan usia dan ulah oknum yang tidak bertanggung jawab, kini yang tersisa hanya dua unit.

a�?Ceritanya dulu memang banyak meriam sejenis,a�? terang Made Sumada, salah seorang warga Desa Pelangan desa tetangga Desa Batu Putih.

Jika dilihat dengan seksama, ternyata pada bagian dinding meriam tersebut ada tulisan yang menggambarkan indentitas meriam. Meriam itu merupakan buatan Jerman sekitar tahun 1901. Diperkirakan memiliki jarak tempur 5-6 kilometer.

Made menuturkan, meriam ini disiapkan tentara Jepang untuk menangkis serangan kapal perang sekutu. Meriam ini diperkirakan digunakan saat perang dunia II. Saat itu, meriam-meriam ini cukup ampuh menahan gempuran sekutu.

Namun kini karena sudah termakan usia meriam tersebut kemungkinan sudah tidak lagi berfungsi. Kondisinya juga sudah berkarat. Meriam-meriam tersebut kini menjadi saksi bisu keberadaan penjajah di Pulau Lombok. Karenanya warga berharap jejak peninggalan sejarah itu diperhatikan pemerintah. Bahkan bila perlu daerah sekitarnya dipugar, dan dipercantik. Sehingga bukan tidak mungkin bakal menjadi kawasan wisata sejarah.

a�?Sebab bila tidak, jejak sejarah seperti itu akan hilang termakan usia,a�? tutur Made. (M ZAINUDDIN/r3)

Berita Lainnya

Kemenag Belum Terima Edaran Terkait Kartu Nikah

Redaksi LombokPost

Harga Kedelai dan Kacang Tanah Melonjak

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Tiga Desa dan Dua Sekolah Diaudit Khusus

Redaksi LombokPost

PJU di PLTU Jeranjang Segera Dibangun

Redaksi LombokPost

Pemancing Diduga Hanyut di Perairan Labuan Poh

Redaksi LombokPost

Sinyal Mutasi Makin Menguat

Redaksi LombokPost

Sekolah Terdampak Gempa Belum Diperhatikan

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Butuh Lebih Banyak Huntara

Redaksi LombokPost