Lombok Post
Headline Sumbawa

Foto di Pinggir Jalan, Hitungan Sejam KTP Jadi

KORBAN : Solidaritas perempuan terkait empat TKW yang diduga menjadi korban human trafficking di salah satu hotel, Sabtu (11/3) lalu. RANDY/RADAR SUMBAWA

Empat orang tenaga kerja wanita (TKW) asal Kabupaten Sumbawa diinformasikan mendapat penyiksaan di tempatnya mereka bekerja di Arab Saudi. Mereka adalah Nora Komalasari, Lilis Sidarsyah, Lia Santya dan Etmawati. Nora berhasil dipulangkan. Sementara tiga lainnya masih dalam proses. Khusus Nora, kisahnya adalah sebuah Ironi. Karena dia adalah putri seorang aktivis perempuan Aminah Mastar. Ibunya selalu mengkampanyekan anti perdagangan anak dan perempaun. Berikut kisah Nora kepada wartawan.

***

Sekitar Juli 2016 lalu, seorang sponsor dari sebuah Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) mendatangi sebuah rumah di jalan Mawar, Kelurahan Bugis. Kepada Nora, anak si pemilik rumah, si sponsor bertanya apakah dia mau berangkat menjadi TKW. Nampaknya si sponsor ini tahu, siapa yang bisa dijadikan target untuk diberangkatkan. Nora mengatakan, dia memang ingin berangkat. Namun umurnya masih belum memenuhi syarat untuk berangkat. Lalu sponsor itu mengatakan, persoalan umur bisa diakali.

Akhirnya, tanpa sepengetahuan orang tua di rumah, Nora mengikuti si sponsor.Dia mengikuti pemeriksaan medis ke Kecamatan Alas. Setelah dilakukan pemeriksaan, hasilnya tidak diberitahukan kepada Nora. Sponsor hanya mengatakan bahwa dia lulus.

Seminggu kemudian dia dibuatkan paspor di Kantor Imigrasi Sumbawa. KTP nya pun sudah dibuat oleh sponsor tersebut. Awalnya, KTP Nora tidak diterima oleh pihak Kantor Imigrasi.

”Saya lalu disuruh foto ulang dengan latar plang tanda berhenti di luar Kantor Imigrasi. Setelah satu jam kemudian KTP yang baru langsung jadi,” ujarnya kepada wartawan.

Saat ditanya di Kantor Imigrasi, dia disuruh bilang oleh sponsornya hendak melancong ke Malaysia. Setelah seminggu, dia mendapat kabar berangkat ke Timur Tengah. Kemudian dia diberangkatkan ke Mataram menggunakan mobil pribadi. Di sana dia sempat menginap semalam, dan pagi hari diberangkatkan ke Jakarta.

Setelah 10 hari di penampungan, dia berangkat ke Timur Tengah. Kata sponsornya dia akan ditempatkan di Abu Dhabi, tapi kenyataannya dia dikirim ke Riyadh.

Setelah seminggu di penampungan, dia lalu dijemput majikan. Di majikan itu dia tidak diberi makan, tidak diizinkan mandi dan tidur di depan TV. Kemudian setelah beberapa bulan dia ganti majikan, dia dipulangkan. Di majikan ketiga dia juga tidak diberi gaji. Lalu dia dipulangkan karena alasannya keluarganya menelepon ke majikan.

Saat di agensi, dia tidak diizinkan menggunakan handphone. Kemudian dia diancam karena disangka melapor ke KBRI. Di agensi, dia diminta untuk tidak berkata apa-apa mengenai lokasi penampungan dan jumlah rekannya. Permintaan itu kemudian diiyakan saja oleh Nora. Tapi setelah perwakilan KBRI datang, dia langsung menyampaikan semuanya.

Selain itu, mereka sempat difoto dan fotonya dipajang di media sosial. Kemudian diperlihatkan kepada majikan. Kalau menolak bekerja pada majikan, ada yang dibatalkan izin kerjanya dan tidak diizinkan bekerja dan keluar selama tiga bulan. Ada juga rekannya yang dipukuli sampai sedikit mengalami gangguan kejiwaan. Mereka tidak dikirim ke rumah sakit, namun hanya dirawat di klinik saja.

Ibu Nora, Hj Aminah Mastar mengatakan, tiga rekan Nora memang berangkat atas rekomendasi Disnakertrans Sumbawa. Sementara Nora diberangkatkan tidak sesuai prosedur. Hj Aminah adalah seorang aktivis perempuan. Dia bersama aktivis-aktivis perempuan lainnya, selalu mengingatkan pemerintah agar mengantisipasi perdagangan anak alias trafficking. Karena seperti diketahui, banyak PPTKIS yang memberangkatkan TKW yang masih di bawah umur.

Sementara itu, kakak dari Lia Santya, Lina Anggraini mengatakan, adiknya direkrut untuk diberangkatkan ke Abu Dhabi. Tapi malah diberangkatkan ke Riyadh. Dia sempat mengatakan kepada adiknya bahwa ada moratorium pengiriman TKI ke Saudi Arabia. Namun ternyata dia ditampung di agensi. Untung saja adiknya medapatkan majikan tang baik. Namun yang dipersoalkan, kenapa Disnakertrans menyetujui pemberangkatan ke Riyadh. Kenapa juga perusahaan berani memberangkatkan adiknya ke Riyadh.

Selama bekerja, adiknya mengaku bahwa gajinya juga dipotong. Seharusnya dia digaji sebesar 1.200 real tapi hanya diterima 500 real. Agensi juga mengatakan agar tidak melaporkan hal ini ke keluarga atau majikan. Karena itu diharapkan adiknya bisa segera dipulangkan. Sebab adiknya juga sudah sangat was-was.

Untuk pemulangan, agensi mengatakan bahwa yang ingin pulang agar mendaftarkan namanya. Tapi perusahaan harus menebus biaya pemulangan sebesar Rp 45 juta.

Perwakilan Solidaritas Perempuan Novianti Martini mengatakan, pihaknya bersama keluarga korban sudah empat kali melakukan mediasi di Disnakertrans Sumbawa. Namun pihak perusahaan berinisial FRHB yang memberangkatkan para korban yang tidak pernah datang memenuhi panggilan.

Kasus ini juga sudah dilaporkan ke Polres Sumbawa. Keempat kasus ini memiliki pola yang sama. Dimana mereka diberangkatkan secara formal. Nantinya mereka akan ditempatkan sebagai sopir, tenaga cleaning service dan bagian kelistrika. Namun faktanya mereka dipekerjakan sebagai penata laksana rumah tangga. Mereka juga harusnya diberangkatkan ke Abu Dhabi, tapi malah dikirim ke Riyadh. (RANDY PRATAMA/r4)

 

Berita Lainnya

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost