Lombok Post
Metropolis

Tolak Jadi Target Perusahaan Rokok

TOLAK ROKOK: Salah seorang pelajar Mataram menggunakan topeng serigala saat aksi teatrikal menolak jadi sasaran industri rokok di Taman Udayana, kemarin (12/3). GAGAS FOR LOMBOK POST

MATARAMA�– Ratusan pelajar dari 30 sekolah di Kota Mataram berunjuk rasa di Taman Udayana, kemarin (12/3). Dalam aksi yang diberi judul #TolakJadiTarget ini, para pelajar mendeklarasikan diri bahwa mereka menolak menjadi target industri rokok.

Di tengah suasana Car Free Day, para pelajar ini menampilkan aksi teatrikal dengan tema a�?Serigala Berbulu Dombaa�?.

Teatrikal ini menceritakan bagaimana cara perusahaan rokok dalam membidik anak dengan meletakkan iklan di sekitar sekolah.

Pelajar digerus dengan iming-iming beasiswa, kegiatan seni, dan olahraga.

Di bagian akhir teatrikal, bercerita tentang bagaimana para pelajar menyadari bahwa mereka adalah target perusahaan rokok dan menyatakan diri melawan serta menolak menjadi target perusahaan rokok.

Melalui aksinya ini, para pelajar menyatakan dukungannya kepada Pemkot Mataram untuk mewujudkan Mataram sebagai Kota Layak Anak (KLA).

Koordinator acara Siti Syifa’un Nufus mengatakan, aksi #TolakJadiTarget merupakan kampanye serentak yang digelar di 90 sekolah di lima kota di Indonesia sejak September 2016, yakni Padang, Mataram, Bekasi, Tangerang Selatan dan Kabupaten Bogor.

Tujuannya adalah untuk menolak perusahaan rokok yang sengaja meletakkan iklan di sekitar sekolah.

Bagi perusahaan rokok, pelajar merupakan pasar potensial, karena remaja hari ini adalah calon pelanggan tetap perusahaan rokok di masa depan.

Perusahaan rokok terbesar di Indonesia yakni HM Sampoerna, PT Djarum, Gudang Garam, dan BAT terbukti meletakkan iklannya di sekitar sekolah. A�Selama kampanye ini berlangsung, ditemukan sebanyak 61 merek rokok yang beriklan di sekitar sekolah.

Selama kampanye, ditemukan perusahaan rokok memberikan sejumlah uang untuk memasang iklan rokok di warung-warung sekitar sekolah.

Pemilik warung mengakui diberi uang dalam jumlah yang beragam, mulai dari hanya tiga bungkus rokok, Rp 50 ribu per bulan, Rp 300 ribu per tiga bulan, Rp. 800 ribu per tahun, Rp 2.000.000 per tahun hingga Rp 4.000.000 per tahun.

a�?Spanduk yang diletakkan di warung sekitar sekolah tersebut diduga tidak berizin dan tidak membayar pajak reklame pada pemerintah,a�? katanya.

Kampanye yang dilakukan pelajar mendapat dukungan dari pihak sekolah, orang tua siswa, masyarakat sekitar sekolah, RT/RW, lurah, camat hingga wali kota.

Hingga saat ini, pelajar di lima kota sudah berhasil menurunkan sekitar 120 iklan rokok di sekolahnya. Aksi penurunan iklan rokok ini masih akan terus berlanjut.

Kaisar Melga Janarsyah, pelajar kelas XI MAN 2 Mataram dan Pajrul Furqan Haikal, pelajar kelas XI SMKN 2 Mataram yang ikut dalam aksi meminta pemerintah melindungi mereka dari target industri rokok. a�?Perusahaan rokok juga harus berhenti beriklan di sekitar sekolah kami,a�? katanya.

Sementara itu, Ketua Gagas Foundation Azhar zaini menambahkan, bukan suatu kebetulan jika iklan rokok banyak ditemui di sekitar sekolah. Anak-anak terpapar iklan rokok setiap hari. Saat pergi dan pulang sekolah selama 12 tahun masa sekolah.

Semakin sering anak terpapar iklan rokok akan menciptakan kesan bahwa rokok adalah sesuatu yang baik dan biasa, kemudian mendorong anak untuk mencoba merokok.

Hasil studi Komnas PA dan UHAMKA tahun 2007 menyatakan sebanyak 46,3 persen anak mengaku terpengaruh merokok karena melihat iklan rokok dan 86,7 persen anak mengaku melihat rokok di media luar ruang.

Sejak Desember 2016, pelajar dari 90 sekolah di lima kota yakni Padang, Mataram, Bekasi, Tangerang Selatan dan Kabupaten Bogor berhasil menurunkan ratusan spanduk, poster dan iklan rokok yang ada di sekitar sekolah mereka.

a�?Ini adalah cara pelajar menolak dijadikan target pemasaran perusahaan rokok,a�? tandasnya. (ili/r7)

Berita Lainnya

Kekayaan Tersembunyi Pantai Penghulu Agung Ampenan

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Jalan di Tempat

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost