Lombok Post
Sudut Pandang

Melawan Musuh Bangsa

sudut pandang

KEHEBATAN suatu bangsa antara lain bila mampu mengidentifikasi sekaligus menyingkirkan musuh yang terus merongrong eksistensinya. Musuh bagi bangsa tidak selamanya berasal dari luar dirinya tetapi acapkali bersumber dari internal seperti warganya sendiri. Paling tidak ada lima karakter warga negara yang teridentifikasi sebagai musuh bangsa yaitu; kebodohan, mental inlander, kerakusan dan korupsi, sifat dan perilaku malas, dan aktor konflik.

Tentu diyakini masih banyak sifat dan perilaku tidak terpuji lainnya yang dapat dikategorikan sebagai musuh bangsa. Disebut musuh bangsa karena berkontribusi menghambat kemajuan bangsa, dan apabila terus dipelihara akan mengancam eksistensi negara secara pelan tapi pasti. Melawan musuh internal seperti di atas tidak cukup dengan berikrar untuk membasminya tetapi juga brsedia untuk tidak mengambil bagian dari sifat dan karakter tersebut.

Pertama, kebodohan. Dalam sejarah penjajahan, kebodohan diidentifikasi sebagai salah satu penyebab. Pendidikan yang tidak ideal dan masih diskriminatif saat itu juga merupakan factor pemicu banyaknya warga negara yang belum pintar. Kesempatan untuk mengeyam pendidikan masih hanya menjadi hak kaum bangsawan sehingga pendidikan untuk semua belum diterapkan. Penjajah sangat senang dengan kondisi ini sehingga mereka dapat dengan leluasa menggeruk hasil bumi bangsa Indonesia yang subur. Pendidikan yang baik dan berkualitas mesti menjadi perhatian untuk bisa menjamin anak bangsa cerdas sehingga ruang penjajah (dalam pelbagai jenis) tertutup.

Kebodohan tidak hanya disebabkan oleh faktor internal individu seperti rendahnya motivasi belajar tetapi juga banyak dilatari kebijakan pendidikan yang belum adil atau kualitas pengajaran yang tidak maksimal. Pada dasarnya setiap individu memiliki potensi, pengajar dan pendekatan pengajarannyalah yang membuat anak makin cerdas atau justru tidak pintar-pintar.

Pemerintah mestinya memaksimalkan kesadaranya untuk menjadikan pendidikan berkualitas sebagai instrumentA� penting untuk melawan musuh bangsa yang bernama kebodohan. Kita tidak ingin kebodohan menjadi musuh internal bangsa yang bisa memberi ruang bagi musuh ekternal bangsa untuk a�?menjajaha�?.

Kedua, mental inlander. Ketergantungan berlebihan pada negara lain akan berpotensi untuk terpengaruhnya kita pada mereka. Hal yang sama juga dapat mempengaruhi mental inlander anak bangsa. Generasi bangsa menjadi anak yang tidak percaya diri sembari menggantungkan harapan kepada bangsa lain.

Jajahan yang dialami bangsa ini antara lain karena kurang imunnya bangsa kita dari pengaruh kepentingan asing. Terpengaruh oleh kepentingan asing bisa disebabkan oleh beberapa hal, seperti ketidakberdayaan (kebodohan dan kemeskinan) kita atau karena ada di antara pejabat atau pemangku kepentingan yang bermental inlander.

Mental-mental seperti ini (inlander) harus dijauhi oleh siapa pun di republik ini untuk memastikan bahwa kemandirian mendapat ruang di hati dan jiwa anak bangsa. Kita harus yakinkan diri masing-masing untuk tidak menjadi anak bangsa yang inlander karena kita tidak ingin menjadi salah satu musuh internal bangsa.

Ketiga, kerakusan dan korupsi. Sikap rakus oleh oknum tertentu membuka peluang banyaknya harta negara dimanfaatkan secara tidak benar atau diperuntukkan bagiA� oknum atau kelompok tertentu. Pada saat yang bersamaan masyarakat yang sudah miskin makin terpuruk. Kemiskinan membuat seseorang tidak berkualitas dalam banyak hal sehingga sangat rentan untuk a�?dijajaha�?. Negara yang praktik korupsinya merajalela akan susah menggerakkan pembangunan sehingga ancaman kemiskinan sangat mungkin terjadi. Negara yang miskin sangat rentang untuk a�?dijajaha�?, karena warga negara yang miskin adalah orang yang lemah dalam banyak hal.

Oknum yang rakus dan korup tidak boleh dibiarkan hidup enak di republik ini bila tidak ingin melihat bangsa ini bangkrut. Warga negara sejatinya memberi support bagi setiap upaya hukum oleh pihak terkait dalam memberantas korupsi. Untuk melawan musuh bernama rakus dan korup tidak cukup dengan pendekatan hukum tetapi dibutuhkan pendekatan kultural yang masif, terutama lewat pendidikan karakter di usia dini. Bangsa dan rakyatnya harus memiliki kepedulian dalam membangun generasi masa depan yang antikorupsi.

Keempat, sifat dan perilaku malas. Sifat ini menjadi trigger penting hadirnya a�?penjajaha�? di suatu negara. Bila penghuni republik diisi oleh para pemalas maka bisa dipastikan negeri tersebut mengalami kemunduran. Sebagian orang mengklaim bahwa orang malas di dalam suatu negara menjadi penghambat kemajuan. Negara dengan potensi sumber daya alam yang melimpah tidak sepantasnya memiliki penduduk miskin, bila semua anak bangsa rajin dan giat bekerja.

Bukan pemandangan yang asing di republik ini bila menemukan sekelompok anak muda dengan usia produktif bersantai-ria di hadapan lahan subur. Atau sangat mudah ditemui anak muda (termasuk mahasiswa) yang sibuk mengisi waktu luangnya dengan bermain ponsel, padahal bila dimanfaatkan untuk membaca buku akan lebih produktif. Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) harusnya disadari sebagai kebijakan yang merangsang kompetisi di satu kawasan. Sikap malas sudah pasti membuat pelakunya tersingkir dari arena kompetisi sehingga tidak heran bila banyak warga Negara menjadi penonton dan penganggur di negeri sendiri di kala tenaga kerja berkompeten lintas negara terus menyerbu pasar dan lapangan kerja potensial di Indonesia.

Kelima, aktor konflik. Konflik bukan merupakan aksi baru di Indonesia. Konflik antar kelompok atau suku sebelum dan saat penjajahan telah menjadi pemandangan masa lalu. Munculnya semboyang a�?Bhinneka Tunggal Ikaa�? terinsprirasi dari kenyataan konflik antarkelompok yang tidak berkesudahan saat itu. Bagi penjajah, konflik seperti ini justru diinginkan agar mereka bisa terus menjajah. Bahkan Belanda menjalankan politik adu domba (devide et impera) agar di antara kelompok masyarakat yang ada bisa terus berkonflik.

Konflik antarkelompok akhir-akhir ini menjadi pemandangan yang tidak asing di beberapa daerah. Konflik horizontal merupakan cermin masyarakat tidak beradab. Nilai-nilai persatuan yang menjadi salah satu butir dari dasar negara Pancasila tidak berefek apa-apa bagi mereka yang terlibat dalam konflik. Nilai agama pun yang mengajarkan kasih sayang tidak lagi diindahkan.

Konflik yang terus-menerus bisa menjadi alarm runtuhnya sendi persatuan bangsa, yang apabila terus terakumulasi akan sangat mungkin mengancam eksistensi negara sehingga ruang a�?penjajaha�? untuk masuk sangat terbuka. Diperlukan solusi yang jitu untuk menghabisi musuh bangsa seperti ini. Tapi cara paling sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan mempraktikkan hidup damai dan bersahabat sebagai aktivitas rutin seluruh anak bangsa. Semogaa�� (r8)

Berita Lainnya

Sudah Ikhlaskah Nonpribumi Berindonesia?

Redaksi Lombok Post

Universitas Islam Negeri (UIN) dan Spirit a�?DNAa�? Baru

Redaksi Lombok Post

Selamat Jalan Pengawal Budaya Mbojo

Redaksi Lombok post

Media Sosial dan Ruang Publik

Redaksi Lombok post

Makna Simbolik Kunjungan Raja Salman

Redaksi Lombok post

Pendidikan Nirkekerasan

Redaksi Lombok post

Kasih Sayang yang Tidak Mengenal Hari

Redaksi Lombok post

Habib Rizieq: Antara Benci dan Rindu

Redaksi Lombok post

Negeri Para Penyandera

Redaksi Lombok post