Lombok Post
Praya

Hidup Seorang Diri Inaq Itah Minta Perhatian Pemerintah

P MISKIN: Inaq Itah warga Dusun Bunsibah Desa Gemel, Jonggat Lombok Tengah yang hidup dalam kemiskinan, Sabtu (11/3). dedi/Lombok Post

Hiruk pikuk jelang pemilihan gubernur seolah membuat pemerintah lupa pada warganya yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Di Lombok Tengah (Loteng) misalnya masih banyak warga miskin.

***

Inaq Itah, warga Dusun Bunsibah Desa Gemel, Jonggat merupakan satu dari sekian banyak warga miskin di Gumi Tatas Tuhu Trasna. Ia mengaku menerima jatah beras rakyat miskin (raskin) setiap bulannya. Namun bukan 10-15 kilogram (kg) seperti warga miskin pada umumnya.

Ia mengaku hanya mendapat 5 kg saja, bahkan pernah di bawah itu. Namun kemiskinan yang membelitnya sering kali membuat Inaq Itah tak mampu menebus jatah raskin tersebut. Meski hanya Rp 9 ribu.A� Kejadiannya pun tidak sekali atau dua kali, tapi berkali-kali.

Selain itu, ia mengaku tidak menerima kartu BPJS kesehatan, PKH atau bantuan sosial lainnya. A�A�A� Padahal, sudah beberapa kali aparatur pemerintah desa dan dinas teknis, turun meninjau. Dari pengakuan nenek yang hidup sebatang kara itu, mereka sempat memotret kondisi rumahnya yang dibangun dari bedek beratapkan seng tersebut. Kemudian, mereka berjanji akan memperbaiki. Sayangnya, hingga kini janji itu tak kunjung terbukti.

Dalam bahasa Sasak, ia mengaku tinggal di rumah mungilnya itu, sejak enam tahun silam. Jika dilihat dari luas fisik bangunannya, bisa dikatakan tidak layak huni, kekuatan bangunan rumahnya pun diragukan, kalau angin keras saja datang, rumahnya pasti roboh.

a�?Dari pada tidak ada,a�? ujar nenek berambut putih ini.

Di rumah mungilnya itu, ia hidup seorang diri. Untuk penerangan rumah, aliran listriknya diambil dari keluarga terdekat, itu pun hanya satu bola lampu saja. Begitu pula kebutuhan air bersih. Ia mengatakan, suami dan lima orang anaknya, sudah lama meninggal dunia.

Awalnya, ia tinggal bersama keluarga dan kerabat terdekat lainnya, namun karena alasan tertentu, ia pun terpaksa pindah rumah dan membangun rumah sendiri. a�?Cucu-cucu saya juga, tidak ada,a�? keluhnya.

Untungnya, lahan yang dijadikan bangunan rumah mungilnya itu, berada ditanah warisan suaminya. Kini ditengah kemiskinan yang menjeratnya itu, ia hanya bisa pasrah dan berdoa, semoga pemerintah membuka mata untuk membantu, bukan sekedar janji.

Untuk menyambung hidup sehari-hari, ia mengaku menjual bambu yang tumbuh subur di dekat rumahnya. Kendati umurnya sudah lanjut, namun ia masih semangat berkerja, ia tidak mau menjadi seorang pengemis. a�?Yang penting, kita bisa bersyukur, walau ada yang menipu (menzolimi),a�? ujarnya.(Dedi Shopan Shopian/r2)

Berita Lainnya

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost

Dewan Pertanyakan Penyedia Panel RISHA

Redaksi LombokPost

Kadis Baru Ditugaskan Perangi Calo

Redaksi LombokPost

PT Angkasa Pura I Salurkan Dana Pinjaman Mitra Binaan

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Bangun Pendeteksi Tsunami

Redaksi LombokPost