Lombok Post
Bima - Dompu

DKP Siap Sukseskan Budaya Cera Labu

BUDAYA : Inilah salah satu kegiatan budaya yang akan meramaikan Festival Pesona Tambora. Kegiatan 'Cera Labu' yang akan digelar 2 April 2017. DOC/RADAR DOMPU

DOMPU – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Dompu siap menyukseskan kegiatan budaya Cera Labu. Prosesi ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan Festival Pesona Tambora.Kegiatan yang akan digelar di Desa Soro, Kecamatan Kempo itu, akan berlangsung 2 April 2017.

”Di tingkat lapangan kita sudah melakukan persiapan matang. Kita sudah membentuk panitia kecil bersama pemerintah kecamatan dan desa,” ungkap Plt Kadis DKP Kabupaten Dompu H Fakhruroji pada Radar Dompu (Lombok Post Group), Rabu (15/3) kemarin.

Dijelaskan, Cera Labu merupakan tradisi masyarakat yang bertempat tinggal di pinggir laut. Masyarakat pesisir pantai dengan mata pencahariannya sebagai nelayan. Kegiatan ini bentuk rasa syukur nikmat. Sehingga para nelayan yang mencari nafkah mendapat hasil yang berlipat ganda dan terhindar dari segala musibah.

A�Kegiatan Cera Labu dipimpin oleh seorang pemangku adat. Sehari sebelum Cera Labu dilaksanakan, masyarakat mengadakan malam hiburan atau pesta rakyat dengan memakai alat musik tradisional. Seperti menabuh gendang. Sebagian orang membuat rakit dan menyiapkan soji ro sangga (sesajen).

Pada saat pagi sebelum CeraLabuA� dilakukan, A�akan diadakan prosesi pomotongan hewan, kerbau jantan. Setelah dipotong, diambil beberapa bagian. Antara lain, kepala , kaki,hati, jantung, limpah, ginjal, paru-paru. Dan daging masing-masing sedikit. Umur kerbau harus 3 tahun.

A�A�A� Sebelum ritual di lepas terlebih dahulu sandro melakukan Cucubana.A� Yaitu, pemberian hadiah pada makhluk gaib yang ada di pinggir laut. Konon kepercayaan mereka hal itu dilakukan supaya tidak mengganggu masyarakat ataupun warga yang ada di sekitar pinggir laut.

A�A�A� Cucubana ini biasa dilakukan pada tigaA� titik tempat dengan jarak lebih kurang 80 meter dengan cara ditancap di pinggir laut pada malam hari.A� Sebelum dilepas bahan dimasukkan ke dalam rakit dan diiringi dengan suara gendang.

”Dan harus adaA� tenaga yang menjaga sampai pagi hari,” ungkapnya.

Sandro (dukun,) kata dia, memakai pakaian adat warna kuning dan sorban (sambolo) kuning. Kemudian, melakukan Cucubana baru menuju tempat pelepasan ritual dalam laut (Tororuma).

A�A�A� Perahu nelayan sudah dihias dengan aneka ragam. Setiap perahu nelayan tidak boleh mendahului perahu sandro yang membawa ritual.

Setelah sampai pada tempat pelepasan, sandro harus menghadap utara. Pemukiman sama denganA� kepala kerbau, kaki yang disimpan rapi dalam rakit harus menghadap utara juga barulah melepas. perahu yang sandro tumpangi haruslah memiliki sesajian yang sudah diturunkan. (di/r4)

Berita Lainnya

IKKB Papua Barat Bantu Korban Gempa

Redaksi LombokPost

Etos Kerja Harus Meningkat selama Ramadan

Pemkot Bima Lanjutkan Perbaikan Infrastruktur Sisa Banjir

Redaksi LombokPost

Miliki Sabu, IRT Diringkus

Ops Ketupat Gatarin 2018 Dimulai

Masih Ditemukan Makanan Kedaluwarsa

Penataan Ama Hami Dilanjutkan

Berkas Ketua PDIP Kota Bima Dilimpahkan ke Kejaksaan

Redaksi LombokPost

KPU Kota Bima Mulai Lipat Surat Suara