Lombok Post
Dialog Jum'at

KH Hasyim Muzadi

TGH Safwan Hakim

Assalamua��alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT atas semua karuniaNya, shalawat salam kepada baginda Nabi Muhammad SAW-juga kepada semua keluarga dan sahabat-sahabat beliau.

Pembaca Rahimakumullah

Inna lillah wa inna ilaihi raajia��un. a�?Sesungguhnya kita milik Allah dan (pasti) kembali kepada-Nyaa�?. Salah seorang ulama besar telah meninggalkan kita selamanya untuk menghadap Sang Khalik, yaitu bapak KH. Hasyim Muzadi. a�?Mautul a�?aalim, Mautul a��aalama�?, meninggalnya seorang yang Alim, alam ini ikut mati.

Dunia ini tidak boleh sunyi atau kosong oleh ulama, karena apabila ulama tidak ada, maka kegelapan, kejahilan, merambat ke mana-mana. Dan bila kejahilan meluas, maka keonaran dan kejahatan akan jaya, Naudzubillah.

Karenanya, dengan wafatnya beliau, sebenarnya tidak hanya keluarga yang kehilangan orang yang paling dicintainya, tapi umat kehilangan panutannya, juga kehilangan sumber ilmu, dimana umat selalu meminta fatwa kepada beliau, beliau pun tanpa henti-hentinya menuntun mereka. Dan tentu saja yang paling merasa kehilangan adalah keluarga Nahdlatul Ulama (NU).

Namun kita yakin, bahwa ulama muda maupun yang seangkatan dengan beliau sangat siap untuk menggantikan peran beliau di tengah-tengah masyarakat, mengingat sekian ribu pesantren di Indonesia dibangun oleh para ulama, justru salah satu misinya adalah menyiapkan ulama.

Memang kita sadar, bahwa untuk menggantikan beliau itu tidaklah mudah. Seperti apabila seorang pejabat meninggal dimana calon penggantinya sudah antre dan siap untuk menggantikannya. Di sinilah kita rasakan perbedaan antara meninggalnya seorang ulama dan pejabat.

Pembaca rahimakumullah

Dalam sebuah hadits baginda Nabi Muhammad SAW bersabda, artinya: a�?Sesungguhnya Allah tidak mencabut Ilmu itu begitu saja, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mematikan para ulama, sehingga (suatu saat) tidak ada seorang ulama pun yang masih hidup. Orang-orang pun mengangkat orang-orang yang jahil (tidak mengerti agama) menjadi pemimpinnya, dan tatkala mereka ditanya merekapun berfatwa tanpa ilmu, merekapun sesat dan menyesatkan oranga�?.

Namun, kekhawatiran tersebut akan segera sirna mengingat keberadaan pesantren yang begitu banyak seperti yang kita singgung di atas. Demikian pula dengan keberadaan perguruan-perguruan tinggi islam, baik yang negeri maupun yang swasta. Namun perlu diingat, bahwa perguruan tinggi yang kita harapkan melahirkan ulama itu ialah perguruan tinggi yang menjadikan kitab kuning sebagai salah satu literatur utamanya, sehingga para mahasiswanya memahami kitab kuning dengan baik.

Dan di antara misi penting almarhum ialah bagaimana NU dapat menjadi Rahmatan Lil a�?alamin; sesuai dengan tujuan Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah Azza wa jalla. Salah satu jasa besar almarhum adalah membuka pesantren mahasiswa, dimana beliau memberikan pengajian terutama untuk kitab Al-hikam. Dan di antara peran yang beliau tekankan adalah memperkokoh ukhuwah islamiyah, serta bagaimana agar islam menjadi Rahmatan Lila��alamin.

Beliau mengadakan pertemuan setiap 3 bulan sekali, dimana beliau bertemu dengan kiai-kiai muda agar mereka membangun keserasian dimana mereka berada. Adapun almarhum berwasiat agar dimakamkan di dekat pondok beliau, agar selalu mendengar santri-santrinya mengaji.

Semoga bapak Kiai kembali kehadirat Allah SWT dalam keadaan ridho dan diridhoi oleh Allah Azza wa jalla, dan dimasukkan oleh Allah SWT ke dalam syurgaNya. Aamin. (r8)

Berita Lainnya

Nyantri di Ponpes

Redaksi Lombok Post

Selamat Anis-Sandi

Redaksi Lombok Post

Merasa Kurang

Redaksi Lombok post

Komitmen pada Diri Sendiri

Redaksi Lombok post

Pasca-Kunjungan Raja

Redaksi Lombok post

Menjaga Kesucian Alquran

Redaksi Lombok post

Kunjungan Raja Saudi

Redaksi Lombok post

Kriteria dan Hakikat Pemimpin dalam Islam

Redaksi Lombok post

Ikhtiar Tepat Waktu

Redaksi Lombok post