Lombok Post
Ekonomi Bisnis

Kredit Produktif Menurun

Yusri Kepala OJK NTB. Ferial/Lombok Post

MATARAM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit produktif di NTB tahun ini menurun pada angka 49 persen. Padahal tahun lalu sempat meningkat menjadi 53 persen dari sebelumnya sebesar 47,48 persen.

a�?Berdasarkan data terakhir Januari 2017 lalu, porsi kredit produktif kembali turun ke angka 49 persen,a�? jelas Kepala OJK NTB Yusri.

Ia mengakui, pertumbuhan kredit produktif negatif pada triwulan pertama. Baik itu berupa aset, kredit maupun dana. Hal ini dinilai biasa terjadi pada awal tahun. Namun akan kembali meningkat setelah triwulan pertama berakhir.

Yusri menuturkan, berdasarkan data OJK, penyaluran pembiayaan sektor pariwisata pada 2016 sebesar 2,94 persen dari total Rp 29 triliun yang dianggarkan. Sementara pada 2015 sebesar 2,95 persen, dan 2,76 persen pada 2014.

Sementara untuk sektor pertanian, penyaluran kredit pada 2016 tercatat sebesar 1,48 persen. Jumlah tersebut meningkat dibanding 2015 lalu yang sebesar 1,22 persen. Menurutnya, angka tersebut masih relatif rendah. Hal ini mengingat besarnya potensi pertanian yang ada di NTB.

A�”Sektor kelautan lebih miris lagi, 2016 lalu hanya sebesar 0,21 persen,” sambungnya.

Meski begitu, ia berharap penyaluran pembiayaan bagi sektor pertanian dan pariwisata dapat lebih meningkat pada tahun ini. Terlebih lagi adanya rencana megaproyek pembangunan kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika yang akan mulai dibangun.A� Kondisi ini diharapkan dapat menyerap anggaran karena memiliki aliran dana yang besar.

“Ini juga melibatkan banyak pekerja, sehingga diharapkan juga dapat menimbulkan efek domino,” pungkasnya.

Yusri melanjutkan, untuk hal ini sangat diperlukan perlu inklusi keuangan. Ia mendorong penyaluran dana untuk industri Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Terutama di sektor Pariwisata yang memiliki multiplayer efek besar.

a�?Tidak ada batasan untuk alokasi budget,a�? pungkasnya.

UMKM dinilai memberi nilai tambah besar. Sebab perputaran uang pengusaha besar berlaku di luar NTB. Sementara UMKM cenderung bisa berputar di daerah sendiri. Sebab itu ia menghimbau inklusi keuangan memberi perhatian lebih pada UMKM.

a�?Sekarang bukan soal budget, tapi bagaimana inklusi keuangan bisa dilaksanakan,a�? tegasnya.

Ia menambahkan, semakin banyak pengusaha UMKM yang disentuh maka inklusi keuangan juga dapat meningkat. Sebab itu, pihaknya mengutamakan untuk debitur baru. Namun tidak menutup kemungkinan bagi debitur lama yang ingin mengembangkan usaha.

Yusri A�juga tidak menampik ada risiko besar bagi perbankan. Namun hal bisa diantisipasi dengan menyiapkan karakter dari para pelaku usaha yang bergerak di bidang itu. Sebab itu pentingnya penyiapan data mengenai pelaku UMKM di sektor tersebut yang cukup dan valid. (fer/r3)

Berita Lainnya

ILBB-Ancora Foundation Bantu Korban Gempa Lombok

Redaksi Lombok Post

Bank Mandiri-Hiswana Migas-Pertamina Jalin Kerjasama

Redaksi Lombok Post

Soft Opening Jannah Tour and Travel Meriah

Redaksi LombokPost

Masyarakat Didorong Gunakan Produk Lokal

Redaksi LombokPost

FWD Life Resmi Hadir di Lombok

Redaksi Lombok Post

Golden Palace Hotel Dikunjungi Wakil Duta Besar Australia

Redaksi Lombok Post

BI Sosialisasi Kartu GPN di Kota Bima

Redaksi Lombok Post

Distribusi Kartu Berlogo GPN Dekati Target

Redaksi LombokPost

Avian Brands Peduli Bangun Kembali Lombok

Redaksi Lombok Post