Selong

Pecahkan Batu-batu Raksasa Libur Kalau Ada Orang Meninggal Saja

Di salah di Pringgabaya Lombok Timur (Lotim) ada kawasan a�?hutan batu raksasaa�?. Hamparan tanah luas yang tak ditumbuhi pepohonan, melainkan batuan berukuran besar yang menjulang dari dalam bumi. Belakangan muncul kelompok yang mencari nafkah dari batu tersebut.

***

SIANG kemarin panas terasa begitu menyengat. Saat matahari tepat berada di ubun-ubun, sejumlah orang di pinggiran jalan lintas Pringgabaya menuju Labuhan Lombok, Kayangan tampak tak terpengaruh kondisi cuaca. Orang-orang berperawakan kekar itu justru menantang siang di tanah lapang. Mereka seperti enggan menepi meski matahari terus membakar.

Ahmad salah satunya. Sedari pagi buta ia dan kawan-kawannya bekerja di sana. Bermodalkan sebuah palu besar (Hamer), mereka memukul-mukul batu raksasa untuk menghancurkannya menjadi bagian yang lebih kecil.

Denting palu bersahutan ketika membentur bebatuan yang tak bergeming. Butuh pukulan berulang-ulang agar retakan batu terlihat.a�?Panas ya mas, baru juga 10 menit di sini,a�? katanya lantas menertawai Lombok Post yang mencoba berteduh.

Kendati waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 Wita siang, mereka belum hendak beristirahat. Alasannya masih banyak batu menunggu dan harus segera dipecahkan. Mereka harus lekas bekerja karena truk-truk pengangkut segera tiba.

Karena itu jikapun harus beristirahat, hanya untuk makan, minum, dan salat saja. Tak ada waktu untuk berleha-leha apa lagi sampai bisa menikmati tidur siang. Itulah yang mereka lakukan setiap hari sepanjang tahun.

a�?Liburnya itu kalau ada orang meninggal atau keluarga roah,a�? katanya.Telah lama batu-batu raksasa ada di kawasan tersebut. Aktivitas vulkanis Rinjani berabad silam telah memuntahkan material keras ini ke daratan ini. Belakangan warga mulai memanfaatkannya sebagai bahan bangunan.

Batu itu dijual untuk pondasi rumah. Namun karena ukurannya yang sangat besar, jelas harus dipecah terlebih dulu. Betapa tidak, satu batu umumnya bisa berukuran sebuah mobil, bahkan tak sedikit yang berukuran lebih dari besar satu kamar kos.a�?Sepertinya batu ini meluncur dari Rinjani waktu meletus dulu,a�? katanya coba menerka-nerka.

Karena ukuran batu yang ekstra besar, pekerjaan mereka benar-benar tak mudah. Butuh puluhan bahkan ratusan kali dihantam palu raksasa barulah satu batu bisa pecah menjadi beberapa bagian. Bahkan tak jarang, sepanjang hari bekerja satu batu tak kunjung pecah.a�?Saya pernah sampai dua hari baru pecah, batunya sudah keras sekali seperti fosil,a�? ucapnya.

Untuk pekerjaan melelahkan itu, mereka hanya mendapat pemasukan seadanya. Bekerja dalam kelompok-kelompok kecil, satu orang biasnaya hanya mendapat Rp 20 hingga Rp 40 ribu dalam sehari. a�?Ya, cukuplah untuk sesuap nasi,a�? kata Ridwan menimpali.

Kendati tak seberapa, mereka tetap bersyukur. Keberadaan batu raksasa itu telah membuka lapangan kerja bagi orang tak berpendidikan macam mereka. a�?Kami hanya bisa andalkan tenaga,a�? pungkasnya. (WAHYU PRIHADI/r2)

Related posts

Dewan Persilakan Kepala SKPD Mundur

Iklan Lombok Post

Terkait Izin Galian C di Lotim, Ali BD : Pemprov NTB Salah Besar

Redaksi Lombok Post

Bantuan RTLH Dinilai Setengah Hati

Redaksi Lombok Post