Lombok Post
Headline Jejak Langkah Metropolis

Jejak Maulanasyaikh (2) : Dianggap Tempat Susun Taktik, Madrasah Ditutup Belanda

MENJAGA :TGKH M Zainuddin Abdul Majid, Ulama dan Pejuangan Kemerdekaan Asal NTB Dan merupakan sosok ulama yang fenomenal. (2) SUMBER FOTO :DOKUMEN KELUARGA MAULANASYENKH

TGKH M Zainuddin Abdul Majid merupakan sosok ulama yang fenomenal. Semangat perjuangan terus digelorakan kepada murid-muridnya. Baik semangat perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, maupun dalam dunia pendidikan sebagai pondasi awal perjuangan kebangsaan.

***

SETELAH empat tahun berkeliling memberikan pencerahan, menyebarkan agama Islam sejak pulang dari Makkah tahun 1934, TGKH M Zainuddin Abdul Majid yang juga dikenal dengan nama Kiai Hamzanwadi ini akhirnya mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI).

Izinnya keluar tanggal 17 Agustus, dan diresmikan 22 Agustus tahun 1937. Menyusul kemudian, madrasah khusus perempuan yakni Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) 21April tahun 1943.

Madrasah inilah yang dijadikannya sebagai basis awal perjuangan melawan penjajah Jepang kala itu.

Di tengah ketatnya pengawasan dan tekanan kolonial Belanda, Kiai Hamzanwadi tidak hanya memanfaatkan madrasah sebagai tempat pengajaran ilmu pengetahuan.

Tetapi juga sebagai tempat menumbuh kembangkan semangat perjuangan, serta sikap patriotisme dalam menghadapi kesewenang-wenangan kolonial.

Aktivitas ini pun diendus kaum penjajah, mereka menilai bahwa pelajaran bahasa Arab dan Inggris yang diajarkan di madrasah NWDI dapat menjadi kunci untuk mengetahui kelemahan pihak kolonial.

Selain itu, Jepang juga menganggap madrasah dijadikan tempat menyusun strategi dan taktik melawan kolonial.

Sehingga mereka meminta agar pelajaran kedua bahasa tersebut dihapuskan, dan melakukan pengawasan yang ketat di madrasah. Tapi Kiai Hamzanwadi menolak, ia tetap mempertahankan pelajaran bahasa Arab dan Inggris.

Dengan alasan bahasa Arab adalah bahasa Alquran, dan bahasa Inggris sebagai bahasa dunia. Ia juga menjelaskan bahwa madrasah juga dijadikan tempat mendidik calon penghulu dan imam yang berfungsi mengurus peribadatan dan perkawinan umat Islam.

Mendengar penjelasan itu, pemerintah kolonial Jepang mengirim laporan ke atasannya di Singaraja, Bali. Tidak lama kemudian, terbit surat keputusan bahwa NWDI diberikan tetap buka dengan syarat nama madrasah diubah menjadi sekolah penghulu dan imam.

Namun situasi kala itu semakin genting, tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administrations) mendarat di pulau Lombok.

Kiai Hamzanwadi bersama para santri dan guru NWDI dan NBDI membentuk organisasi yang disebut gerakan Al-Mujahidin, dan bergabung dengan gerakan Banteng Hitam, gerakan bambu runcing, BKR, API di Pulau Lombok.

Mereka menyatukan langkah mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan bangsa Indonesia.Dalam sidang resminya, NICA memutuskan untuk menutup Madrasah NWDI dan NBDI.

Namun sebelum keputusan itu dilaksanakan, terjadi peristiwa 8 Juli 1946, yaitu penyerangan tangki militer NICA di Selong di bawah pimpinan adik kadung Kiai Hamzanwadi bernama TGH Muhammad Faisal Abdul Majid, yang juga menjadi guru di NWDI.

Dalam peristiwa itu, TGH Faisal bersama dua orang santrinya gugur sebagai syuhada dan kini dimakamkan di taman makam pahlawan Rinjani Selong.

Meski menghadapi berbagai rintangan, tapi TGKH M Zainuddin Abdul Majid tetap berjuang membesarkan madrasah yang kelak melahirkan banyak kiai atau tuan guru.

Nama madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah sendiri diambil dari bahasa Arab, secara etimologi berasal dari kata Nahdlah yang berarti perjuangan, kebangkitan, dan pergerakan, sedangkan Wathan berarti tanah air, bangsa dan negara. Sedangkan diniyah islamiyah sendiri berarti agama Islam.

Nama tersebut merefleksikan suasana psikologis dan kondisi sosial pada saat itu, terutama yang berkaitan dengan jargon-jargon perjuangan untuk meggelorakan semangat patriotisme melawan kolonialisme Belanda dan Jepang.

Selain itu, juga memberikan semangat untuk mencerdaskan masyarakat yang sedang terpuruk dan terbelakang melalui pendidikan.

Berdirinya NWDI di Pancor Lombok Timur pada tahun 1937 mencatatkan sejarah baru dalam perkembangan pendidikan Islam di NTB.

Paling tidak penerapan sistem pendidikan klasikal dan klasifikasi siswa berdasarkan tingkatan memperkenalkan masyarakat tentang pendidikan umum seperti Sekolah Rakyat, atau sekolah-sekolah yang didirikan Belanda.

Atas dasar inilah madrasah NWDI dipandang sebagai pelopor pendidikan modern di NTB. (bersambung/r7/SIRTUPILLAILI)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost