Metropolis

Polak Senduk Jadi Isyarat Makanan Penutup

Seusai menyantap makanan ringan dan semua undangan hadir, para tamu selanjutnya disuguhi makanan utama. Lantas apa saja tata tertib yang tidak diterapkan lagi saat ini? Berikut laporannya.

***

MENUNGGU matahari tergelincir ke arah barat, tentu saja menyenangkan. Banyaknya menu makanan ringan dan tidak ada tamu yang terburu-buru ingin pulang, membuat gawe dulu berjalan khidmat. Sampai akhirnya, waktu petang mulai tiba. Saat ternak dan piaraan masuk kandang, tibalah waktu untuk santap istimewa.

a�?Bawa dulang tidak boleh sembarangan, para ancangin berjalan beriringan,a�? ujar Muksin.

Paling depan adalah pria yang membawa pengwajik (mangkok berisi air cuci tangan, Red). Lalu disusul dengan dulang berisi air minum, disusul lauk-pauk dan garam. Jumlahnya disesuaikan dengan jumlah tamu dalam satu bilik di bawah tetaring (tenda terop dari daun kelapa yg dianyam, Red).

Biasanya satu bilik berisi empat sampai lima orang. Tamu pria dan wanita di pisah. “Baru di paling belakang ada ajengan atau nasi,a�? ujarnya.

Ada beberapa daerah kata Muksin yang masih mencoba mempertahankan tradisi ini. Tetapi ada pula yang sudah tidak peduli. Antara dulang berisi makanan dengan dengan pengwajik seakan berlomba-lomba segera diantar ke tamu oleh ancangin.

a�?Kalau dulu, bisa dilempar ancanginnya kalau tidak tertib, tapi sekarang mulai luntur,a�? tuturnya.

Sesampai di bilik, pe-nyilaq (pengundang, Red) yang sudah berubah tugas menjadi pe-nemin (menemani, Red) tamu, harus sigap langsung mengambil dulang dari para ancangin.

Uniknya adalah selalu ada dulang yang biasanya dipersiapkan untuk pe-nemin. Di sinilah perbedaan tradisi besatuq dulu dan saat ini.

a�?Kalau dulu, juru temin harus ikut makan dengan tamu-tamu yang diundangnya. Entah peneminnya lapar atau sudah kenyang, pokoknya harus ikut makan. Kalau sekarang kan nggak. Dulang diserahkan, tamu ditinggalkan,a�? ujarnya lalu terkekeh.

Dulu, sesi makan di gawe, bisa berlangsung sangat lama. Di sini, para tamu dibuat kenyang dan benar-benar puas. Nasi tidak hanya disiapkan satu piring, tetapi di dulang terakhir biasanya ada bakul nasi yang disiapkan untuk para tamu.

Begitu juga dengan lauk-pauknya. Ada sesi-sesi bertahap dimana ancangin kembali datang membawa dulang berisi lauk-pauk.

a�?Habis lauk di dulang pertama, datang lagi ancangin bawa dulang baru berisi lauk pauk, begitu seterusnya sampai dua sampai tiga kali ancangin datang bawa dulang,a�? ujarnya.

Sampai akhirnya, ada istilah polak senduk (gayung patah, Red) untuk menandakan itu adalah lauk terakhir. Petugas yang diminta untuk menyampaikan istilah polak senduk ini adalah pe-nemin.

Dengan sendirinya, tamu-tamu yang datang pun paham, bahwa itu adalah lauk yang terakhir yang disuguhkan untuk para tamu. “Biasanya lauk polak senduk, menunya sendiri. Dikerjakan juga oleh penggarap (Koki, Red) sendiri,a�? terangnya.

Kenapa harus dikerjakan oleh penggarap yang berbeda dengan penggarap lauk-pauk lainnya? Rupanya karena bumbu untuk masakan terakhir ini dibuat beda. Masakan ini, ditambahi dengan kancuwali (bratawali, Red) atau empedu. Praktis, masakan pun jadi terasa pahit, getir!

a�?Tapi ada juga yang suka (meski pahit), tamu biasanya paham ini jadi makanan penutup,a�? jelasnya.

Untuk menu polak senduk, ada juga yang menggunakan masakan bebalung. Tetapi yang paling sering digunakan adalah masakan yang terasa pahit. Ini tujuannya untuk menutup selera makan para tamu. Sehingga tidak ingin nambah lagi.

a�?Orang-orang dulu makannya banyak, beda dengan sekarang, bahkan terlihat takut ambil nasi. Mungkin antara gengsi atau takut kolesterol,a�? ujarnya lalu terkekeh.

Muksin lalu membandingkan dengan cara besatuq saat ini. Ia mengatakan jauh berbeda saat ia masih muda.A� Bapak berusia 65 tahun ini kadang merasa miris dengan a�?tata tertiba�� besatuq yang sudah mulai luntur.

a�?Sekarang ancangin saja ada yang pakai celana panjang, bawa dulang, ada yang di atas kepala, ada pula di sebelah kiri,a�? ujarnya.

Tetapi sekali lagi, ia mengaku tidak bisa berbuat banyak. Sekali waktu, saat ada gawe lalu ada remaja yang hanya pakai celana jins, bawa nasi di sebelah kiri, atau iringan ancangin lebih dahulu nasi dari pada pengwajik, Muksin hanya bisa menegur. Lalu menata agar sesuai dengan tradisi dan etika dahulu.

a�?Sebab, tidak semua tamu juga siap dengan cara besatuq yang semau gue itu,a�? ujarnya.

Terutama tamu dari kalangan menak (darah biru, Red), raden, atau datu yang masih berusaha mempertahankan kelestarian budaya. Ia menegaskan, ini bukan semata-mata, dirinya dan beberapa pemerhati budaya lain gila hormat. Bukan, bukan begitu!

a�?Kalau anda bisa bangga dengan budaya barat dan apa yang anda anggap modern saat ini, lalu apa salah kami bangga dengan budaya kami sendiri?a�? tutupnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r5)

Related posts

Cuaca Bikin Nelayan Galau Lagi

Redaksi Lombok Post

Kasihan, Warga Pesongoran Terpaksa Mengungsi

Iklan Lombok Post

Mohan Jabat Plt Ketua Golkar Mataram

Iklan Lombok Post