Lombok Post
Metropolis

DOSEN NGAKU TUHAN BIKIN a�?PUYENGa�?

Kepala Kanwil Kemenag NTB Jaelani Ibrahim. SIRTU/LOMBOK POST

MATARAMA�– Polisi bertindak cepat menangani kasus Sabar Nababan yang mengaku sebagai Tuhan dan mendeklarasikan agama baru Angkasa Nauli. Pria asal Batak itupun telah dimintai keterangan oleh Polres Mataram. Namun, memeriksa pria yang ngaku Tuhan seperti Nababan rupanya tak mudah. Nababan pun bikin a�?puyenga�? para penyidik.

a�?Apa yang kita tanya, apa yang dijawab dia (Sabar, Red), itu sudah lain-lain,a�? kata Kapolres Mataram AKBP Muhammad, kemarin (21/3).

Nababan diperiksa polisi untuk mengetahui motivasi dia mengaku dirinya sebagai Tuhan dan mendeklarasikan agama baru. Sebab, hal seperti itu tentu sensitif dan bisa bikin resah masyarakat.

Permintaan keterangan itu, kata Muhammad, hanya bersifat klarifikasi. Menanyakan tujuan Sabar memposting sejumlah status di akun facebooknya.

Dalam pemeriksaan tersebut, pihaknya kata Muhammad juga meminta Nababan menonaktifkan akun facebooknya. Namun, Nababan tak mengamini permintaan polisi tersebut. Dia tetap bersikukuh untuk mempertahankan akun facebooknya.

a�?Kita sudah mengarahkan untuk menghapus, tapi jawabannya tidak ada satupun yang bisa menghapus kecuali Tuhannya dia. Atas perintah Tuhannya dia,a�? tambah mantan Kapolres Sumbawa ini.

Menurut Muhammad, indikasi jawaban-jawaban yang diberikan Nababan menunjukkan bahwa ada yang tak beres dengan laki-laki yang sehari-hari bekerja sebagai dosen di Fakultas Teknik Universitas Mataram ini.

Keterangan yang diberikan Nababan kata Muhammad, mengindikasikan pria umat nasrani asli Batak ini mengidap penyakit kejiwaan. Namun, polisi tidak memiliki kewenangan untuk mengambil kesimpulan tersebut.

Kondisi kejiwaan Nababan kata Muhammad harus dinilai langsung oleh dokter jiwa. Karena itu, mereka akan berkoordinasi dengan pihak RSJ Mutiara Sukma, untuk mengecek kejiwaan yang bersangkutan.

Kemarin, Polres Mataram memang kata Muhammad telah ada surat keterangan dari RSJ kalau Nababan mengidap penyakit Skizofrenia. Namun, Polres Mataram butuh hasil pemeriksaan terbaru yang mengindikasikan surat keterangan dari RSJ itu telah dibuat dalam waktu yang lampau. a�?Kita butuh kondisi kejiwaan dia yang terbaru,a�? jelas Muhammad.

Dia memastikan, kasus deklarasi agama ini memang ditangani Polres Mataram saja. Sejak heboh di media sosial akhir pekan lalu, kepolisian baru satu kali meminta keterangan Nababan.

Terlepas dari itu, karena telah menjadi atensi masyarakat, kepolisian terus melakukan monitoring terhadap aktivitas Nababan. Termasuk mengawasi rumahnya. a�?Di rumahnya kita tidak lakukan penjagaan, hanya patroli biasa saja,a�? ungkapnya.

Sementara untuk Sabar, kata Muhammad, pihaknya mewajibkan dia untuk melakukan wajib lapor ke kantor polisi. a�?Nantinya dia akan tetap kita panggil. Tapi sementara ini dia dikenakan wajib lapor setiap hari,a�? tandasnya.

Sementara itu, kemarin Nababan mengirimkan surat elektronik ke redaksi Lombok Post. Nababan menyampaikan banyak terima kasih atas pemberitaan dirinya pada Lombok Post edisi Selasa, 21 Maret 2017. Namun, Nababan meluruskan penuturan tetangganya yang kerap mendengar Nababan teriak-teriak.

a�?Yang sebenarnya terjadi adalah saya menyanyi dengan suara keras saat kebaktian,a�? tulis Nababan.

Dia juga mengoreksi kalimat dalam berita yang menyebut dirinya bertarung 39 kali dengan roh. a�?Yang saya lakukan adalah bertarung dengan jin,a�? demikian Nababan dan menutup surat elektroniknya dengan menyampaikan salam hormat kepada jajaran redaksi Lombok Post.

Tak Ada Agama BaruA�A�A�A�A�A�A�A�A�

Sementara itu, seperti polisi, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Wilayah NTB juga bergerak mendalami kasus agama baru Angkasa Nauli yang dideklarasikan Nababan. Selama proses pendalaman, masyarakat diharapkan tenang dan tidak melakukan tindakan anarkis.

Pelaksana Tugas Kepala Kanwil Kemenag NTB Jaelani Ibrahim kepada Lombok Post mengatakan, ia sudah membentuk tim untuk mempelajari kasus ini dan didapatkan informasi bahwa yang bersangkutan dalam kondisi sakit kejiwaannya. Apalagi sebelumnya ia pernah dirawat di rumah sakit jiwa. Sehingga pihak Kemenag bisa memahami apa yang dilakukannya tidak sepenuhnya dilakukan secara sadar.

a�?Kalau kesehatannya terganggu, tentu saja ini bisa kita maklumi, karena dia belum sehat betul,a�? katanya.

Tapi agar tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, maka ia sudah meminta jajarannya mendalami kasus tersebut. Apapun hasilnya nanti, itu akan menjadi dasar tentang kebijakan apa yang akan diambil.

Mengenai surat yang dikirimkan Nababan ke Kemenag yang menginformasikan agama baru yang dia deklarasikan, Jaelani mengatakan tidak ada kewenangan Kemenag menerbitkan izin atas suatu agama. Jelas hal itu tidak pernah dilakukan. Di Indonesia hanya ada enam agama yang diakui yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Kalaupun ada sempalan dari agama masing-masing, maka akan dikembalikan menjadi masalah intern agama tersebut.

a�?Kita juga belum tahu agama baru ini seperti apa, apakah sempalan dari agama lamanya, atau dia mendirikan ajaran baru,a�? katanya.

Terhadap kasus ini, ia berharap tokoh-tokoh agama Kristen membantu untuk menyelesaikan persoalan ini. Terhadap masyarakat ia berharap tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi dengan hal-hal semacam ini. a�?Saya kira kita semua harus tetap tenang,a�? katanya.

Sementara itu, Pembimas Kristen Kemenag NTB Antonius Lopis mengatakan, Sabar Nababan merupakan anggota gereja HKBP di Mataram, dan dia tercatat aktif sebagai anggota jamaat, sering membatu pelayanan ibadah umat Kristen di gereja pada hari Minggu. Apakah menjadi MC, membantu menyediakan persembahan dan sebagainya. Sehingga sangat kaget dengan apa yang dilakukan Sabar Nababan, tiba-tiba mendeklarasikan agama baru bernama Angkasa Nauli.

Tapi dari kesaksian istrinya, Sabar Nababan mulai sakit tahun 2007, dia aktif beribadah di gereja, tetapi karena penyakitnya itu ia sering memiliki halusinasi. Ia juga pernah menempuh pendidikan S3 di Denmark, tetapi akhirnya dipulangkan karena kondisi kesehatannya yang terganggu.

Terkait, agama baru yang dideklarasikannya menurut Antonius tidak ada kaitannya dengan agama Kristen, hanya saja ia menggunakan istilah-istilah yang ada di dalam agama Kristen. Seperti seluruh umat Kristen meyakini bahwa Tuhan Yesus yang akan menjadi Juru Selamat, tetapi di dalam facebook Nababan menyebut dirinya sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

a�?Sebenarnya kita marah juga, para pendeta marah, tapi kita kembalikan lagi, kan orangnya ini sakit,a�? katanya.

Ketika para pendeta sudah mengetahui kondisi sakit yang dialami Sabar Nababan, maka para pendeta bisa memaklumi. Maka langkah yang akan dilakukan ke depan adalah berupaya menyembuhnya secara total sampai pulih betul.

Meski demikian, ia menyarankan agar Sabar Nababan menghapus akun facebooknya, sebab status-status itu yang justru menimbulkan keresahan. Bagi orang yang tidak tahu kondisi kesehatannya maka dia akan marah, dan sudah banyak orang yang marah.

a�?Dalam pertemuan dengan Kesbangpoldagri salah satu rekomendasinya adalah meminta akunnya dihapus,a�? kata Antonius.

Selain itu, rekomendasi lainnya adalah kawan-kawan Nababan harus membantu agar ia kembali kepada ajaran yang semula. Tapi itu semua dalam proses, sebab tidak bisa serta merta dilakukan, apalagi berhadapan dengan orang yang sakit.

Respon Unram

Terpisah, Universitas Mataram (Unram) sebagai institusi tempat Nababan bekerja, mengaku telah mengetahui gangguan mental Sabar Nababan. Hal itu pun bukan baru, tapi telah lama diketahui.

Nababan diketahui mengalami gangguan jiwa ketika dipulangkan dari Thailand saat menyelesaikan studinya 2007 lalu. a�?Tahun 2007 dia menjadi penerima beasiswa Dikti Kemndiknas,a�? kata Wakil Rektor (WR) III M Natsir pada Lombok Post, kemarin (21/3).

Nababan kata Natsir dikenal sebagai dosen cukup pintar. Ia tidak pernah menunjukkan hal yang aneh-aneh ketika mengajar di hadapan mahasiswa. Bahkan, ia selalu tepat prosedur. Memberikan materi sesuai kurikulum hingga memberikan nilai kepada mahasiswa. Namun, kadang-kadang saat melakukan diskusi sesama dosen, tiba-tiba Nababan melakukan hal yang aneh.

Karir Nababan sebagai dosen Fakultas Teknik (FT) Unram cukup cemerlang. Tahun 2007, ia mendapat beasiswa S3 ke Thailand. Namun, ia tidak bisa menyelesaikan studinya dan dipulangkan. Di tahun 2012 ia secara diam-diam tanpa diketahui lembaga mendaftar kembali beasiswaA� S3 ke Aalborg University Denmark dan lulus. Namun, lagi-lagi tidak selesai.

Dalam lampiran surat KBRI pada 10 Februari 2012 bersama pihak Aalborg University yang salinannya didapat Lombok Post Nababan diketahui telah diperiksakan ke Rumah Sakit Aalborg. Secara fisik Nababan dalam surat itu disebut terlihat sehat. Dalam kunjungan tersebut KBRI melakukan pembicaraan ringan dengan Nababan guna mengetahui perkembanganA� kondisi dan rencana kelanjutan studi di Denmark.

Nababan menyampaikan dirinya mendapat kiriman black magic dari Indonesia, namun sudah membaik karena mendapatkan kesembuhan dari surga. Nababan juga menyampaikan harapan untuk meneruskan program belajar di Aalborg University. Selama pembicaraan, Nababan terlihat tidak fokus dan terkesan berpandangan kosong.

KBRI secara rutin berkomunikasi dengan pihak universitas, RS Aalborg, mahasiswa , dan istri Nababan untuk saling menginformasikan perkembangan terakhir. Menurut istri Nababan kepada KBRI, sebelum berangkat ke Denmark, Nababan menolak membawa obat-obatan yang biasa dikonsumsinya. Ada dua jenis obat yang selama ini dikonsumsi sebagai refrensi pihak RS Aalborg.

Pada 19 Maret 2012 akhirnya Kementerian Luar Negeri memulangkan Nababan dengan alasan sakit. Berita acara serah terima Nababan di Bandara Soekarno-Hatta juga dibuat.

Di tahun 2015, Nababan kata Natsir pun pernah dibawa ke RSJ Mutiara Sukma. Dan waktu itu RSJ meminta Nababan dirawat di Puskesmas Pagesangan.

Kini langkah Unram akan memproses Nababan. Unram kata Natsir akan mengambil langkah strategis untuk memberikan peluang kepada Nababan melakukan pengobatan. a�?Kita akan menghormati dia,a�? kata Natsir.

Unram akan mengupayakan Nababan sembuh dulu agar bisa mengajar kembali. Jika memang tidak bisa sembuh dalam waktu lama, maka akan menjadi pertimbangan pihak Unram. Tapi sejauh ini, tidak ada laporan yang menyimpang dari mahasiswa yang diajar oleh dirinya. Kata Natsir, kabar terbaru Nababan dulunya seorang petinju. Ia menyimpulkan, bisa saja dulu kena gegar otak. Sehingga membuat luka mengenai syarafnya. (dit/ili/jay/r8)

Berita Lainnya

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost