Lombok Post
Headline Metropolis

WASWAS UNBK

PAKSA DIRI: Modem bolt menggelantung di bawah jendela ruang komputer SMKN 1 Sekotong, Lombok Barat, untuk mencari jaringan pada uji coba persiapan UNBK, Sabtu (25/3). Ivan/ombok Post

Mendapat giliran Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) pertama kali, para Sekolah Menengah Kejuruan di NTB dag dig dug. Persiapan yang mepet, perangkat yang terbatas, dan simulasi bagi para siswa yang minim, menjadikan sekolah-sekolah kejuruan ini tidak percaya diri sama sekali. Sekolah waswas, tapi Kemendikbud yang punya hajat terus minta sekolah tancap gas.

***

MUHTAR, Kepala SMK Negeri 1 Sekotong benar-benar puyeng. Makan dan minum dilakoninya serba tak enak. Kalau sedang berjalan, dia bergegas-gegas. Kalau sedang duduk, sebentar-sebentar dia hendak berdiri. Seperti orang berpikir, dia lalu akan mondar-mandir dengan langkah pendek-pendek. Mudah ditebak, suasana hatinya tengah gundah gulana. Serasa ada yang mengimpit-impit di dada.

Angka tiga pada selembar almanak bulan April 2017 di ruang kerjanya dilingkari besar-besar. Macam hari sakral, kian dekat dengan hari itu, dadanya kian berdebar-debar. Darahnya mendesir-desir.

Ya. Pada Senin, 3 April 2017 itulah, kali pertama Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) pada 2017 ini akan digelat. Dan kali ini, SMK menjadi sekolah paling pertama yang harus menjajal kebijakan baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut. a�?Kita di SMK wajib melaksanakan UNBK,a�? kata Muhdar ditemui Lombok Post akhir pekan lalu.

Mendapat giliran pertama kali untuk menggelar UNBK bukannya menjadikan para sekolah ini merasa terhormat. Rasa itu dipinggirkan jauh-jauh. Paling tidak untuk sementara waktu. Sebab, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi setelah penyelenggaraan UNBK di hari pertama. Setelah segala ikhtiar ditempuh, lantunan doa mengharap peruntungan terbaik, menjadi benteng terakhir.

SMK 1 Sekotong berdiri pada 2007, yang berarti pada tahun ini SMK yang berdiri di Dusun Empol, Desa Cendimanik, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat ini sudah berusia 10 tahun. Semenjak berdiri, SMK ini membuka dua jurusan yakni Multimedia dan Mekanika Otomotif.

Meski punya jurusan mentereng, jangan kira sekolah ini lantas punya fasilitas yang turut mentereng pula. Justru sebaliknya, fasilitasnya masih tergolong serba minim untuk sebuah SMK negeri yang dihajatkan melahirkan tenaga-tenaga terampil dan siap diterima pasar kerja.

Jangankan fasilitas UNBK yang tak langsung tampak kasar mata dari luar sekolah. Fisik sekolah yang terlihat sehrai-hari pun kondisinya butut. Ketika musim hujan, halaman sekolah tergenang. Soalnya bahu jalan raya di depannya lebih tinggi dari halaman sekolah. Kalau menengok ke bagian samping dan bagian belakang, sekolah belum dipagar. a�?Ini saja keramik banyak yang retak-retak,a�? sebut Muhtar.

Berbincang dengan Lombok Post, Muhtar membebarkan minimnya perhatian pada kondisi sekolah negeri tersebut. Dan kini, sebelum hal-hal tersebut ada jalan keluarnya, datang pula hal lain dari Kemendikbud yang mewajibkan SMK menggelar UNBK. Membuat Muhtar dan koleganya di sekolah tersebut tambah puyeng.

Bayangkan, perintah menggelar UNBK wajib itu datang di tengah minimnya sarana komputer di sekolah. Belum lagi mempertimbangkan kondisi jaringan internet yang tak stabil, mengingat posisi SMK 1 Sekotong yang memang jauh dari pusat kota di Lombok Barat.

TapiA� mau apa? Karena wajib, maka Muhtar tak bisa berkutik. Pria yang sudah dua tahun menjadi Kepala SMK 1 Sekotong ini akhirnya memutar otak, demi menunaikan kewajiban SMK untuk menggelar UNBK.

Maka Muhtar pun mencari dana talangan. Ini kata lain dari dia mencari utang. Totalnya Rp 40 juta. a�?itu untuk beli komputer dan alat-alat untuk UNBK,a�? kata Muhtar. Setelah dana didapat, maka segera alat-alat yang dibutuhkan tersebut dibeli.

Cuma, karena komputer yang dipyunyaidipunyai sekolah terbatas, maka Muhtar tak bisa seperti sekolah-sekolah lainnya yang menggelar simulasi bagi para siswanya. Siswa hanya diminta mempersiapkan diri untuk UNBK secara otodidak. Belajar sendiri-sendiri.

Kini, setelah perangkat komputer lengkap, muncul lagi masalah baru. Yakni masalah jaringan. Yang namanya UNBK ini, jaringan internet memang menjadi nyawanya. Komputer lengkap akan menjadi percuma, kalau tak ditopang jaringan internet yang memadai.

Padahal, sebetulnya proses UNBK di SMKN 1 Sekotong ini sudah dimodifikasi. Sekolah ini bisa dikatakan akan menggelar UNBK semi online. Ini lantaran jaringan komputer di sekolah tersebut tidak langsung terhubung secara real time dengan server di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Yang bisa terhubung langsung begitu hanya sekolah-sekolah di kota dengan jaringan internet yang memadai baik dari sisi kecepatan akses maupun bandwith. Sekolah-sekolah di kota ini biasanya tinggal menunggu A�naskah soal dari server pusat secara online melalui jaringan (sinkronisasi) ke server sekolah. Dan setelah itu siswanya dilayani oleh server sekolah dengan jaringan internet yang memadai.

Tapi, di SMKN 1 Sekotong, tidak bisa sinkronisasi semudah yang dibayangkan. Karena terkendala jaringan.

Karena itu, untuk mensinkronkan naskah soal dari pusat ke server sekolah, Muhtar harusA� minjam fasilitas ke SMAN 1 Lembar. Ke sanalah Muhtar mensinkronkan soal dari pusat ke se server sekolah miliknya. Setelah itu, server itu balik kembali ke sekolah. Langkah ini akan dijalankan satu hari sebelum ujian digelar. Itu berarti pada Minggu, 2 April 2017.

Setelah itu beres, untuk bisa dijalankan di sekolah, siswa tetap harus membutuhkan jaringan internet. Karena itu, pihaknya harus menyiapkan modem agar para siswa bisa mengakses naskah soal yang ada di server sekolah.

Mengoperasikan modem dengan memanfaatkan jaringan telepon seluler di Sekotong juga bukan perkara mudah. Karena kondisi geografis wilayah yang terhalang gugusan pegunungan, area blank spot memang banyak dijumpai di Sekotong.

Maka penempatan modem pun menjadi kunci. Tak bisa sembarang. Sebab risiko tak ada jaringan sangat besar. Sementara ini, modem-modem ditempatkan di dekat jendela yang terbuka. Modem tersebut kemudian dihubungkan dengan kabel-kabel panjang ke komputer.

Bereskah semua? Muhtar tak berani memberi jaminan. Kekhawatiran lain justru ada di benaknya kini. Yakni jaringan listrik. Jika mati lampu saat penyelenggaraan UNBK, maka seluruh persiapan yang dilakukannya dipastikan tak akan berarti apa-apa. a�?Jangankan komputer, jaringan pun tidak akan ada jika mati lampu,a�? terangnya.

Tertekan

Soal penyelenggaraan UNBK ini, Muhtar tanpa tedeng aling-aling mangakui kalau sekolah merasa mendapat tekanan luar biasa untuk menggelar UNBK. Mestinya kata Muhtar, Kemendikbud harus melihat dulu kondisi sekolah di masing-masing daerah jika diminta menerapkan UNBK.

Sesungguhnya, SMKN 1 Sekotong Lobar ini salah satu sekolah yang belum siap melaksanakan UNBK. a�?Sebenarnya kita lebih baik melaksanakan ujian pakai kertas,a�? kata Muhtar.

Toh, apapun keluhan sekolah, Dinas Pendidikan Kebudayaan NTB sudah punya jawabannya. Kepala Dikbud NTB H Muhammad Suruji di luar masih ada proses yang belum sempurna betul, partisipasi sekolah melaksanakan UNBK boleh dibilang cukup tinggi. Hal ini dilihat dari jumlah penyelenggara ujian online tersebut meningkat dibandingkan tahun lalu. a�?Di SMA/SMK hampir seribu persen peningkatannya,a�? akunya.

Setelah UNBK di SMK pada 3-6 April 2017, kemudian akan dilanjutkan dengan UNBK untuk SMA/MA pada 10-13 April 2017. Setelah itu baru dilanjutkan ke jenjang SMP/MTs.

Suruji menyebutkan, jumlah peserta UN tingkat SMA sederjat sebanyak 68.235 siswa dari 1.046A� SMA/SMK/MA di NTB. TercatatA� 461 sekolah menerapkan UNBK. Di amengatakan, fasilitas UNBK seperti komputer diusahakan pihak sekolah melalui berbagai cara.

Ada dari dana BOS, atau pun dari komite sekolah. Bahkan beberapa sekolah harus meminjam laptop guru dan siswa semata agar bisa melaksanakan UNBK. a�?Semangat sekolah melaksanakan UNBK cukup tinggi,a�? sebut dia.

Sementara untuk server lanjut dia, dibantu dari APBD. Pihaknya menyiapkan dana Rp 10 miliar untuk bantuan server kepada sekolah penyelenggara UNBK. Server diberikan sesuai kebutuhan sekolah. Jika dibutuhkan tiga maka diberikan tiga. a�?Kalau satu butuhnya kita berikan satu,a�? kata dia.

Ia memastikan, ujian online bukan hanya dilaksanakan sekolah di jantung kota. Namun juga sudah menyebar di sekolah pelosok.

Suruji bahkan menjamin, semua sekolah yang menggelar UNBK sudah melakukan uji coba. Latihan dilakukan bukan untuk melihat sejauh mana kemampuan siswa dalam menjawab soal, melainkan untuk melihat sejauh mana fasilitas UNBK. Seperti komputer, server, internet dan fasilitas lainnya. Apakah ada gangguan atau tidak. a�?Ini uji coba teknis saja,a�? sebut dia.

Dari laporan yang diterima dari sekolah sebut dia, tidak ada kendala yang cukup berarti dalam uji coba UNBK. Hanya saja ia meminta sekolah persiapkan genset agar siswa tidak telat melaksanakan ujian jika terjadi pemadaman listrik. a�?Kami juga sudah bersurat ke PLN agar tidak mematikan lampu,a�? ujar dia.

Terkait gangguan internet ia mengatakan tidak ada masalah. Sebab, UNBK ini tidak murni online, tapi adaA� pula yang offline. Artinya, peserta UN tidak langsung mengakses soal dari pusat, melainkan dari server sekolah. Yang mengakses soal dari pusat adalah guru. Para peserta UN tinggal mengambli naskah soal UN yang sudah diakses para pengawas atau guru di server sekolah. Setelah peserta selesai menjawab soal, maka hasilnya dikirim langsung ke pusat oleh pengawas atau pun guru.

Sementara untuk ujian menggunakan kertas ia mengatakan, naskah soal akan didistribusikan satu pekan sebelum ujian berlangsung. Naskah soal untuk NTB digandakan di Makassar di bawah tanggungjawab pusat. a�?Kalau soalnya lama mengendap di sini nanti bisa bocor,a�? sebutnya.

Dikritik

Sementara itu terpisah, Ketua Dewan Pendidikan NTB H Syamsuddin Anwar mengkritk ada sekolah yang diwajibkan UNBK, kendari sebetulnya sekolah tersebut belum siap.

Ditegaskannya, UNBK tidak bisa dipaksakan di semua sekolah. Sebab, tidak semua sekolah memiliki sarana dan prasarana pada ujian online tersebut. Ia mencotohkan jaringan internet saat ini tidak semua bisa menjangkau sekolah. Belum lagi kesiapan listrik.A� a�?Ini sama halnya dengan memanen buah yang belum pada waktunya,a�? katanya memberi tamsil.

UNBK ini membutuhkan proses cukup panjang dalam mempersiapkan diri. Entah itu teknisi, atau pun siswanya harus banyak melakukan latihan. a�?Sebaiknya kalau tidak bisa jangan dilakukan. Apalagi UN ini bukan penentu kelulusan,a�? ujarnya.

Karena munculnya keluhan dari sekolah-sekolah di sejumlah kecamatan di NTB, mestinya lanjut dia, terlebih dahulu Kemendikbud mendata sekolah mana yang siap dan yang belum. a�?Jangan hanya menyuruh saja,a�? tandasnya.

Sekolah Kemenang Minim

Sementara itu, sekolah di bawah naungan Kemenag NTB yang mengikuti UNBK masih minim. Dari 900 jumlah MTs dan MA yang ada, hanya 157 yang melaksanakan UNBK. A�Sekolah di bawah naungan Kemenag , terutama madrasah swasta kesulitan menerapkan UNBK karena tidak ada sarana prasarana disiapkan pemerintah. a�?UNBK ini mestinya harus dibarengi dengan bantuan sarana dan prasarana. Ini sarana dan prasarana madrasah yang harus menyiapkan,a�? kata Kabid Mapenda Kemenag NTB H Jalalussayuti.

A�Kendati demikian, jumlah madrasah mengikuti UNBK tahun ini meningkat dibandingkan tahun lalu. Tahun lalu, hanyaA� sembilan madrasah yang ikut UNBK, kini meningkat menjadi 157 madrasah.

Dijelaskan, madrasah yang siap melaksanakan UNBK ini sudah diitinjau Dikbud NTB. Sebanyak 157 madrasah ini sudah memiliki empat unsur dalam melaksanakan UNBK. Pertama kesiapan ruangan, server, jaringan, dan komputer. Sementara 900 lebih madrasah lainnya belum memenuhi empat kebutuhan UNBK itu.

Bukan hanya itu,A� uji coba UNBK sudah dilakukan.A� Dari pantauannya tidak ada kendala dalam ujia coba UNBK ini.

Dijelaskan, UNBK dilaksanakan di madrasah secara mandiri. Madrasah yang menyiapkan sebagian besar sarana dan prasarana pada ujian online tersebut.

Janji PLN

Terkait kesiapan pasokan listrik untuk UNBK, PLN memberi garansi. a�?Listrik NTB sedang surplus, jadi untuk pelaksanaan UN dari ketersediaan daya tidak ada masalah,” ungkap Manajer SDM dan Umum PLN Wilayah NTB Deddy Hidayat.

Saat ini kata dia sistem Lombok memiliki daya mampu 260 MW dengan beban puncak mencapai 218 MW, sistem Sumbawa memiliki daya mampu 46,5 MW dengan beban puncak sebesar 41,6 MW. Sementara sistem Bima dengan daya mampu 46 MW dan beban puncak sebesar 42,8 MW.

Dari sisi jaringan, PLN juga telah melakukan pemeliharaan rutin. Pada saat pelaksanaan UNBK nantinya, PLN menjamin tidak akan ada padam karena pemeliharaan. Selain itu, PLN juga akan mengoptimalkan jaringan listrik ke sekolah-sekolah yang melaksanakan UNBK. Sebagai upaya antisipasi, PLN juga meminta kepada sekolah-sekolah yang melaksanakan UNBK agar berkoordinasi dengan PLN.

Menurut Deddy, koordinasi penting agar PLN juga bisa bantu mengecek kesiapan listrik di sekolah. PLN akan memperhitungkan beban listriknya. Jangan sampai beban listrik lebih besar dari daya yang dimiliki sekolah.

Kendati pasokan listrik NTB aman, sebagai antisipasi, PLN berharap pihak sekolah juga tetap menyiapkan genset sebagaimana yang telah dipersyaratkan bagi sekolah penyelenggara UNBK. a�?Antisipasi saja, meskipun daya dan jaringan siap, gangguan eksternal, misalnya hujan angin atau gangguan binatang bisa saja menyebabkan aliran listrik terganggu,a�? kata Deddy. (jay/ili/r8)

Berita Lainnya

Pemkot Optimis Semua Formasi Terisi

Redaksi LombokPost

Lahan Belum Beres, Pemkot Usulkan Rusunawa Nelayan

Redaksi LombokPost

Bukan Gertak Sambal! Ormas Ancam Turun Tertibkan Tempat Maksiat

Redaksi LombokPost

Kades Jangan Alergi Diperiksa!

Redaksi LombokPost

Surya Paloh Road Show ke Lombok

Redaksi LombokPost

Lima Spa Abal-Abal Ditertibkan

Redaksi Lombok Post

Suka Duka Mahasiswa Bumi Gora Menuntut Ilmu di Benua Biru (2)

Redaksi Lombok Post

Bunuh Diri kok Hobi

Redaksi Lombok Post

Situs Tua Ambruk Lagi

Redaksi Lombok Post