Lombok Post
Headline Sumbawa

Sapugara Bree Jadi Desa Santri

RESMIKAN : Bupati Sumbawa Barat Dr H Musyafirin memukul beduk sebagai tanda ditetapkannya Desa Sapugara Bree sebagai Desa Santri, kemarin (29/3). FARUK/RADAR SUMBAWA

TALIWANGa��Desa Sapugara Bree, Kecamatan Brang Rea resmi dicanangkan sebagai Desa Santri. Pencanangan ini dilakukan Bupati Sumbawa Barat Dr H Musyafirin bersamaan pelatakan batu pertama pembangunan ruang belajar dan asrama santri Pondok Pesantren Himmatul Ummah, kemarin (29/3).

“Ini adalah janji politik yang pernah saya sampaikan saat kampanye lalu. Janji itu saya realisasikan tahun ini,” kata bupati seraya tersenyum.

Penetapan Desa Sapugara Bree sebagai Desa Santri bukan tanpa alasan. Salah satunya, Desa Sapugara Bree saat ini menjadi tempat dibangunnya Ponpes Himmatul Ummah.

” Siapa yang tidak kenal Sapugara zaman dulu, semua ada di sini. Karenanya saya harap, dengan penetapan sebagai desa santri, image Sapugara dan umumnya Desa Sapugara Bree bisa berubah. Minimal setiap hari, kalau yang laki-laki pakai peci, perempuan pakai jilbab,” harapnya.

Orang nomor satu di KSB ini juga meminta, masyarakat Sapugara Bree untuk dapat mematuhi apa yang disampaikan alim ulama. Menurut bupati, tidak mungkin alim ulama akan membawa ummatnya ke jalan yang salah.

“Biar pun bupati, camat dan kadesnya tidak dihargai, tidak ada masalah. Tapi jangan sampai tidak menghargai alim ulama. Apa yang disampaikan ulama tidak mungkin menjerumuskan kita ke jalan yang salah,” katanya.

Karenanya, untuk mendukung Desa Sapugara Bree sebagai Desa Santri, masyarakat diharapkan taat dan mengikuti apa yang disampaikan alim ulama.

“Tidak mungkin akan bisa dihargai orang lain, kalau orang kita sendiri tidak bisa menghargai,” katanya.

Keberadaan ponpes diharapkan dapat menjadi pusat untuk menempa spiritual. Bukan saja untuk santri, tapi juga untuk masyarakat setempat.

“Pondok pesantren juga harus menjadi pelopor perdamaian, bukan malah menciptakan keraguan-keraguan ditengah masyarakat,” katanya.

Pemerintah juga menyatakan kesiapannya untuk mendukung pengembangan pondok pesantren. Termasuk keberadaan Pondok Pesantren Himmatul Ummah. Bupati meminta agar masyarakat tidak keberatan menghibahkan lapangan sepak bola desa setempat untuk pengembangan pondok.

” Pemerintah akan mencari ganti lapangan tersebut. Anggap saja, itu adalah amalan kita untuk hari akhir nanti,” ujarnya.

Sementara itu, pengasuh Ponpes Himmatul Ummah KH Samsul Ismain mengatakan, kebijakan pemerintah menjadikan Desa Sapugara Bree sejalan dengan apa yang menjadi visi misi Ponpes Himmatul Ummah sejak terbentuk 11 tahun lalu.

” Kami berharap, generasi yang lahir dari ponpes ini mampu menjadi harapan masyarakat KSB,” katanya..

Ponpes Himmatul Ummah sendiri akan berupaya maksimal mewujudkan Sapugara Bree sebagai Desa Santri. Indikator-indikator untuk bisa mewujudkan itu diakuinya masih perlu dibenahi.

“Kami akan berusaha untuk bisa sampai kesana. Dan saya juga minta dukungan semua masyarakat Sapugara Bree,” pungkasnya.. (far/r4)

Berita Lainnya

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Masih Banyak Warga Loteng Buang Air Besar Sembarangan

Redaksi LombokPost

Pemkab dan ITDC Raih Penghargaan ISTA

Redaksi LombokPost

Ahli: Penangkapan Muhir Bukan OTT

Redaksi LombokPost

Pola Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf Serupa

Redaksi LombokPost

Kades Jangan Alergi Diperiksa!

Redaksi LombokPost

Surya Paloh Road Show ke Lombok

Redaksi LombokPost