Lombok Post
NASIONAL

Tanam Investasi USD 2,6 Miliar

SETELAH 31 TAHUN: Presiden Joko Widodo menerima Presiden Prancis Francois Hollande di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (29/3). AFP

JAKARTAA�a�� Terorisme dan Toleransi menjadi bagian dari pembicaraan antara Presiden Prancis Francois Hollande dengan Presiden Joko Widodo kemarin (29/3). Hollande menyatakan Prancis ingin belajar lebih banyak mengenai toleransi yang tumbuh di Indonesia. Juga, memperkuat kerja sama di bidang penanganan teror di samping memberikan komitmen investasi.

Kemarin, Presiden Hollande mengadakan kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Sebagaimana kunjungan kenegaraan lainnya, Hollande disambut dengan upacara militer yang dikombinasikan dnegan parade budaya Indonesia. Sesi veranda talk di beranda belakang Istana Merdeka juga tidak ketinggalan, ditemani kicauan burung-burung betet yang bertebaran di pucuk-pucuk pohon.

Keduanya pun tampil sama-sama formal. Jokowi mengenakan setelan jas berwarna kelabu, sementara Hollande mengenakan Jas warna biru. Beberapa kali gestur tubuh Hollande menunjukkan kalau dia tertarik dengan suasana kompleks Istana kepresidenan Indonesia.

Hollande menuturkan, Indonesia dan Prancis merupakan dua kekuatan besar demokrasi. Dia memberi catatan khusus kepada Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. a��a��Kita tahu bahwa Indonesia mampu mengamankan kebhinnekaan yang bersifat toleran, dan harus menjadi ilham bagi kami, tentu saja,a��a�� ujarnya dalam sesi joint press statement.

Hollande menyatakan negaranya memiliki model lain yang pada pinsipnya sama seperti Indonesia, yakni kebebasan dan saling toleransi. Dia akan mempelajari konsepsi Islam di Indonesia. a��a��Bagaimana hidup bersama, tapi harus sama-sama kuat menghadapi ancaman terorisme tanpa diskriminasi apapun terhadap agama,a��a�� lanjutnya.

Di luar itu, kedua negara menjalin kerja sama pada bidang pertahanan dan ekonomi, termasuk di dalamnya pariwisata, industri kreatif, dan industri penerbangan. Prancis akan meningkatkan kerjasama berkaitan dengan pembelian pesawat Airbus untuk memenuhi kebutuhan sektor transportasi udara Indonesia.

Presiden Joko Widodo sendiri menilai kunjungan tersebut bersejarah. Sebab, sudah hampir 31 tahun tidak ada kunjungan Presiden Prancis ke Indonesia. Kunjungan terakhir dilakukan oleh Presiden Francois Mitterrand yang datang ke Indonesia pada medio 1986.

Senada dengan Hollande, Jokowi menyatakan pembahasan mengenai toleransi menjadi salah satu fokus kedua pemimpin. a��a��Kami sepakat mengenai pentingnya penyebaran nilai-nilai toleransi dan penghilangan xenophobia, sebagai bagian upaya memberantas ekstrimisme dan terorisme,a��a�� ujarnya.

Selain itu, keduanya sepakat memperjuangkan perdamaian Palestina-Israel melalui konsep two state solution. Kemudian, sebagai sesama negara penyumbang terbanyak pasukan perdamaian, Indonesia merasa perlu membekali para prajurit kemampuan bahasa Prancis.

Di bidang ekonomi, Indonesia meminta kerja sama ekspor produk kayu melalui lisensi FLEGT juga bisa dilakukan untuk produk kelapa sawit. Khusunya, setelah terjadi diskriminasi terhadap produk sawit Indonesia dan prancis dinilai telah membantu melawan tindakan diskriminatif tersebut.

Jokowi juga mengapresiasi komitmen investasi Prancis senilai USD 2,6 miliar ke Indonesia. Rencananya, investasi itu akan masuk ke daam sejumlah bidang, antara lain energi, infrastruktur, dan retail. Kemudian, ada lima kerja sama yang ditandatangani di Istana Merdeka antara para menteri Jokowi dengan Menteri Hollande. Di antaranya, kerja sama pertahanan, pembangunan perkotaan berkelanjutan, riset, kemitraan Prancis-Indonesia Nusantara, dan MoU Pariwisata.

Menlu Retno Marsudi menjelaskan, selain lima kerja sama, ada sedikitnya 11 kerja sama lain yang ditandatangani di luar Istana salah satunya di Kementerian Kelautan dan Perikanan. a��a��Itu di luar kerja sama bisnis yang dilakukan antara pengusaha kita dengan pengusaha Prancis,a��a�� jelasnya.

Mengenai kerja sama penanggulangn teror, Retno menyebut bahwa itu berkaitan dengan kondisi di Prancis yang beberapa waktu belakangan cukup sering mendapat serangan teror. Di sisi lain, Prancis melihat Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar mampu mengembangkan demokrasi dengan baik dalam kondisi yang plural.

Dalam diskusi, ujarnya, Presiden Jokowi menjelaskan bagaimana mengelola sebuah negara dengan penduduk yang beragam. Memang tidak mudah mengelola negara yang plural. a��a��Tapi ketahanan masyarakat terhadap isu-isu yang terkait toleransi ini tergolong kuat,a��a�� tambah Retno.

Kegiatan kunjungan Presiden Hollande ke Indonesia terbilang cukup padat. Kemarin, sebelum melakukan pertemuan dengan Presiden Jokowi, Hollande melakukan ziarah ke Taman Makam Pahlawan Kalibata untuk memberikan penghormatan bagi para pahlawan nasional. Setelah itu, dia diterima Presiden Jokowi untuk melakukan pertemuan empat mata yang dilanjutkan dengan pertemuan konsultasi bilateral dan jamuan makan siang.

Dalam rombongannya, Hollande juga mengajak serta cukup banyak delegasi. Mulai dari Menteri Pertahanan Prancis Jean-Yves Le Drian dan Menteri Muda urusan Industri, Digital dan Inovasi, Christophe Sirugue. Rombongan dari Prancis tersebut juga didampingi oleh belasan anggota parlemen dan sekitar lima puluh orang pemimpin perusahaan Prancis, dari grup perusahaan besar, perusahaan menengah maupun kecil.

Selanjutnya Presiden Republik Prancis akan mengikuti acara kolaborasi Prancis- Indonesia di bidang ekonomi kreatif, ekonomi digital, dan industri budaya dalam dunia digital. Pada kesempatan tersebut, Indonesia dan Prancis mengumumkan kemitraan mereka di sektor ekonomi kreatif. Kemitraan tersebut bertujuan mengawal transformasi ekonomi dan masyarakat yang berkaitan dengan perkembangan dunia digital, dengan bertumpu pada pertukaran dinamis yang telah ada antara Prancis dan Indonesia.

Selain bidang ekonomi kreatif, Prancis dan Indonesia juga menjalin kerja sama di bidang kemaritiman yang mendukung pembangunan berkelanjutan. Kerja sama bilateral di bidang kelautan mencakup banyak sektor, seperti infrastruktur (terutama pelabuhan), pengelolaan sumber daya perikanan berkelanjutan, kerja sama ilmiah dan teknologi, meteorologi, keamanan dan kedaulatan wilayah laut, serta energi laut.

Berbagai kesepakatan di bidang pertahanan, kemitraan maritim, ekonomi kreatif, pembangunan perkotaan berkelanjutan, pembiayaan proyek-proyek infrastruktur bagi Indonesia, menunjukan betapa kaya dan beragamnya lingkup kerja sama antara Indonesia dan Prancis, termasuk sebagai anggota G20.

Di saat yang bersamaan, sepuluh kesepakatan kemitraan di berbagai sektor strategis antara perusahaan Prancis dan Indonesia akan ditandatangani. Total investasi yang terkait dengan kemitraan tersebut mencapai lebih dari 2,6 miliar dolar, terbagi ke berbagai sektor. Seperti lebih dari 1 miliar diinvestasikan dalam sektor energi, lebih dari 1,1 miliar dolar dalam infrastruktur terutama infrastruktur transportasi dan pariwisata, dan 500 juta dolar dalam bisnis ritel.

Jumlah tersebut belum mencakup investasi sebesar ratusan juta dolar maupun komitmen pengembangan kompentensi serta sejumlah realisasi investasi lebih dari lima puluh perusahaan Prancis di bidang kosmetika, pengolahan karet, pertanian, serta kedirgantaraan yang ikut dalam rombongan Presiden. Sektor-sektor lain yang tercakup dalam sejumlah kesepakatan tersebut adalah Internet of things (IoT) kerja sama maritim, industri kreatif, dan pertahanan.

Di antara kerja sama yang diteken antara Indonesia dengan Perancis, ada yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta pendidikan tinggi (dikti). Sekjen Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Ainun Naim mengatakan, ada dua tanda tangan kerja sama yang terkait dengan urusan iptek-dikti.

Dua dokumen perjanjian bidang iptek-dikti itu adalah, kesepakatan kerjasama iptek-dikti yang lebih komperhensif. Wujudnya mulai riset kolaboratif antara peneliti Indonesia dengan Perancis. Wujud lainnya adalah kemudahan akses mobilitas bagi para peneliti dua negara. a��a��Dokumen kerjasama yang kedua terkait dengan pengembangan penelitian untuk pembangunan ekonomi,a��a�� katanya.

Dirjen Sumber Daya Iptek-Dikti (SDID) Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti mengatakan, salah satu wujud kerja sama dua negara adalah melanjutkan program nusantara. Program nusantara ini adalah pengajuan proyek riset yang dibuat oleh peneliti Indonesia dengan Perancis.

a��a��Untuk pendanaan risetnya dibagi rata kedua negara,a��a�� jelasnya. Dia mencontohkan ada usulan proposal riset yang bernilai Rp 400 juta. Untuk pendanaannya dibagi menjadi dua sumber, yakni pemerintah Indonesia Rp 200 juta dan pemerintah Perancis Rp 200 juta. Uang riset dari pemerintah Indonesia dibayarkan ke peneliti Indonesia dan sebaliknya dana dari Perancis untuk peneliti negeri kota mode itu.

Ghufron mengatakan saat ini ada sekitar 40 judul usulan proposal riset gabungan Indonesia-Perancis yang sudah masuk ke Kemenristekdikti. Selanjutnya akan dinilai oleh tim gabungan antara kedua negara. Untuk kuota proposal yang akan didanai, sampai kemarin belum ditetapkan.

Dari parlemen, Ketua DPR RI Setya Novanto kemarin juga menerima kunjungan Ketua Grup Kerjasama Bilateral Parlemen Perancis-Indonesia Jean Jacques Guillet. Kunjungan yang bersamaan dengan kunjungan Presiden Perancis Francois Hollande di Istana Negara. Dalam pertemuan itu, Setnov didampingi Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah dan sejumlah anggota Komisi I DPR.

Setnov dalam sambutannya menyatakan, sejak penandatangan kemitraan strategis Indonesia a�� Perancis, hubungan bilateral kedua negara terus mengalami peningkatan. DPR menyambut positif kunjungan kali ini bisa berdampak pada peningkatan hubungan bilateral kedua negara.

a�?Sebagai bagian dari Diplomasi Parlemen, saya mendorong kedua negara perlu terus meningkatkan kerja sama sesuai potensi masing-masing negara,a�? kata Setnov.

Setnov membeberkan, di bidang ekonomi, nilai perdagangan bilateral kedua negara pada tahun 2016 mencapai 2,34 miliar US dollar. Sementara investasi Perancis di Indonesia pada tahun 2016 mencapai 109 juta US dollar, tersebar di 424 proyek. a�?Saya berharap nilai ini akan terus meningkat, seiring peningkatan hubungan baik kedua negara,a�? ujarnya.

Dalam pertemuan itu, Setnov menyatakan telah berbicara kepada Guillet, agar Perancis bisa terus memberikan kemudahan bagi industri Indonesia, untuk memasarkan sejumlah komoditas disana. Sehingga, nilai ekspor Indonesia ke Perancis yang mencapai USD 972 juta, meliputi mesin elektronik, alas kaki, karet dan produk karet, furniture, pakaian dan aksesoris, kopi, serta teh dan rempah-rempah, bisa terus mengalami peningkatan.

Selain membahas isu ekonomi, pembicaraan terkait isu global, salah satunya isu terorisme juga masuk dalam agenda. Guillet dalam perbicangan terkait itu menyinggung dan memberi dukungan atas kebijakan hukuman mati yang berlaku di Indonesia. a�?Kami mendukung dan menghormati hukuman mati yang berlaku di Indonesia,a�? kata Guillet. (byu/and/wan/bay/JPG/r8)

Berita Lainnya

Lion Air JT 610 Bermasalah di Bali, Jatuh di Karawang

Redaksi LombokPost

16 Instansi Belum Umumkan Seleksi Administrasi CPNS

Redaksi Lombok Post

Jokowi Beri Sinyal Subsidi BPJS Kesehatan

Redaksi LombokPost

Tes CPNS Baru untuk Instansi Pusat

Redaksi LombokPost

Pendaftar CPNS Segera Lapor Dukcapil Kalau Data NIK Tidak Muncul Saat Daftar

Redaksi Lombok Post

Separo Kuota CPNS untuk Pendidik

Redaksi Lombok Post

Sampai Jumpa di Guangzhou 2022

Redaksi Lombok Post

Tiga Jamaah Haji NTB Meninggal di Tanah Suci

Redaksi Lombok Post

Busana Adat Warnai Peringatan HUT RI di Istana

Redaksi Lombok Post