Lombok Post
Headline Jejak Langkah Metropolis

Jejak Maulanasyaikh (9) : Bina Ribuan Anak Yatim dan Fakir Miskin

PANTI ASUHAN: TGKH M Zainuddin Abdul Madjid (tengah) bersama pengurus dan anak asuh di Panti Asuhan Darul Aitam NW Pancor. DOKUMENTASI KELUARGA MAULANASYEIKH

Sebagai ulama dan pejuang kemerdekaan, TGKH M Zainuddin Abdul Madjid tidak hanya memberikan ceramah ilmu agama, tetapi juga memberikan contoh bagaimana membangun umat yang kuat dan mandiri. Dalam perjuangannya, ia menuntun masyarakat memecahkan berbagai persoalan sosial, termasuk membina ribuan anak yatim dan fakir miskin.A�A�

***

DI BIDANGA�sosial, TGKH M Zainuddin Abdul Madjid juga melakukan kerja-kerja nyata untuk memecahkan berbagai persoalan kemasyarakatan.

Melalui organisasi Nahdlatul Wathan (NW) yang didirikannya, ulama yang juga dijuluki HamzanwadiA� ini turut membantu umat mencapai kesejahteraan melalui kerja-kerja sosial.

Hal ini dilakukan sebagai responsnya terhadap berbagai problem sosial yang tengah dialami umat.Dalam menjalankan misi sosialnya ini, TGKH M Zainuddin Abdul Madjid memiliki konsep community development atau pengembangan masyarakat.

Dengan konsep ini ia berusaha membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap masalah-masalah yang dihadapi, ia mengajak masyarakat tumbuh aktif dan mandiri dalam memecahkan berbagai tantangan sosial yang dihdapi.

Di mana pada akhirnya, kesejahteraan yang dicapai merupakan hasil kerja keras warga itu sendiri.

Menurut Abullah Syarwani, dalam naskah TP2GD Provinsi NTB dijelaskan, ada empat peran utama dari agen pembangunan yang dikembangkan TGKH M Zainuddin Abdul Madjid, pertama sebagai katalisator.

Menggerakkan masyarakat agar mau melakukan perubahan, kedua sebagai pemberi pencerahan atas suatu persoalan, tiga sebagai pembantu masyarakat mencapai perubahan, dan keempat sebagai penghubung dengan sumber-sumber yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Dalam program nyata, NW yang dipimpin Kiai Hamzanwadi merealisasikan program kerja sosialnya dengan mendirikan panti asuhan dan asuhan keluarga. Di samping itu, mengalokasikan dana untuk program beasiswa bagi kader-kader potensial.

Selain itu, juga mendirikan klinik-klinik keluarga sejahtera untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, sekaligus mitra pemerintah dalam menyelesaikan program kependudukan dan lingkungan hidup.

Sehingga sejak tahun 1975, NW yang didirikannya telah bekerjasama dengan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) NTB, dari tahun 1979 hingga 1983 juga bekerjasama dengan Pathfinder Fund, Boston USA, bentuk kerja sama dalam pengadaan alat kontrasepsi.

Ia kemudian membentuk Badan Pengkajian, Penerangan dan Pengembangan Masyarakat (BP3M NW).A� Melalui badan ini, NW ditunjuk menjalankan salah satu program pemerintah yakni program kelangsungan hidup anak yang merupakan kerja sama Indonesia dengan UNICEF.

Dengan kerja sama antara pemerintah dan tokoh agama ini, maka lahirlah Pos Pelayanan Terpadu Asuhan Tokoh Agama (Posyandu ASTA) yang dibina oleh tokog NW yang membidangi kelahiran Posyandu ini.

Kiai Hamzanwadi kemudian mendirikan Pos Kesehatan Pondok Pesantren (Poskestren) yang didirikannya tahun 1988. Pada awalnya Poskestren NW hanya tiga unit yakni di Pancor, Wanasaba, dan Kalijaga.

Pada tahap selanjutnya ia mendirikan badan yang berbasis panti asuhan bernama Pusat Kesehatan Panti Asuhan (Puskespan). Kegiatan di bidang kesehatan ibu dan balita ini semakin meningkat. Kegiatan imunisasi juga digencarkan untuk kelangsungan hidup anak.

Kiai Hamzanwadi juga mengerahkan para dainya untuk mendorong kesadaran masyarakat akan kesehatan ibu dan balita. Bahkan dalam banyak pengajian umumnya, TGKH M Zainuddin Abdul Madjid sering mengikutsertakan program imunisasi masal.

Ia sering terlibat langsung dalam kegiatan dengan memberikan tetesan imunisasi. Upaya-upaya ini pada akhirnya turut membantu menekan angka kematian ibu dan balita di NTB.

Sementara untuk membantu masyarakat miskin, maka TGKH M Zainuddin Abdul Madjid melalui organisasi NW mendirikan sejumlah panti asuhan dan asuhan keluarga. Panti-panti ini menjadi tempat menampung anak-anak yatim, fakir miskin, dan anak-anak telantar.

Berdasarkan data Departemen Sosial NW, jumlah panti asuhan yang dikelola sebanyak 23 buah dengan jumlah anak yang diasuh mencapai 1.896 orang. Panti asuhan ini tersebar di Mataram, Lombok Timur, dan DKI Jakarta.

Tidak hanya itu, TGKH M Zainuddin Abdul Madjid juga membantu masyarakat dalam meningkatkan pendapatan ekonominya. Ia kemudian membentuk Koperasi Pondok Pesantren (Koppontren) dan pembinaan usaha kecil menengah (UKM).

Memberikan pelatihan dan sebagainya, sehingga masyarakat bisa lebih mandiri dalam membangun ekonominya. Semua kegiatan sosial yang dilakukan tersebut tetap berdasarkan ajaran-ajaran Islam. (bersambung/r7/SIRTUPILLAILI)

Berita Lainnya

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost