Lombok Post
Giri Menang

MUI Lobar Belum Memberikan Putusan

SIDANG MAJLIS: Suasana pertemuan anggota MUI Lobar saat membahas terkait postingan oknum anggota DPRD Lobar yang diduga menistakan agama Islam di Kantor Baznas Lobar, kemarin (30/3). ZAINUDDIN/LOMBOK POST

GIRI MENANGA�– Postingan salah satu oknum anggota DPRD Lobar di media sosial yang diduga menistakan agama berbuntut panjang. Kemarin (30/3), Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lombok Barat menggelar sidang majelis pertama membahas persoalan tersebut.

Pertemuan MUI itu merupakan tindaklanjut perihal permohonan fatwa oleh fraksi Partai Nasdem DPRD Lobar.

Sekitar lima jam sidang berlangsung menyimpulkan dua poin. Pertama, secara umum postingan oknum wakil rakyat berinisial S dianggap ada mengandung unsur penistaan agama. Kedua, MUI perlu melakukan tabayyun (minta klarifikasi) terhadap yang bersangkutan, sebelum akhirnya memutuskan mengeluarkan fatwa.

Ketua MUI Lombok Barat TGH Safwan Hakim usai sidang menjelaskan, apapun bentuk penodaan terhadap agama, baik secara lisan maupun tulisan, tidak dibenarkan. Pihaknya dengan tegas menolak apapun bentuk penistaan.

Namun terkait persoalan oknum anggota DPRD itu, ia mengatakan perlu mengkroscek lebih dalam lagi sebelum memutuskan dan mengeluarkan fatwa.

“Tindaklanjutnya dibentuk tim lima, nanti itu yang akan melanjutkan dengan yang bersangkutan (oknum DPRD Lobar),a�? terangnya.

Tim lima yang dibentuk oleh MUI Lobar secara khusus akan meminta keterangan kepada yang bersangkutan. Tim lima tersebut diketuai oleh Ketua Majlis Fatwa MUI Lobar.

Nantinya, data yang diperoleh oleh Tim Lima akan menjadi bahan pertimbangan untuk memutuskan arah keputusan MUI terhadap persoalan itu.

Sidang majelis kemarin berlangsung alot. Sekitar 15 anggota yang hadir masing-masing mengeluarkan pendapat dan pandangan soal postingan S. Tentunya, pendapat mereka dikuatkan dengan hadist dan firman Allah.

Salah satu anggota MUI Lobar TGH Khusairi dalam kesempatannya mengatakan, segala macam bentuk penistaan agama, ulama sedunia telah sepakat tidak dibenarkan alias haram.

Beliau pun melihat dalam postingan S di Facebook ada unsur penistaan. Meski dalam foto yang diunggah terpisah alias tidak menyatu.

a�?Kalau menurut tafsiran saya (foto) babi menuju tanah suci (Mekkah). Bagaimana mungkin suatu hal yang mulia dikaitkan dengan salah satu binatang yang diharamkan agama. Apakah itu suatu yang dibenarkan atau tidak?a�? ujarnya.

Selain itu, TGH Khusairi juga meragukan gangguan penglihatan yang bersangkutan. Alasannya, bagaimanapun sebagai anggota dewan pastinya memiliki persyaratan harus sehat jasmani maupun rohani.

a�?Menjadi anggota dewan itu kan ada tes fisik. Tapi apapun itu nanti ahli yang membenarkan,a�? ujarnya.

Secara umum, Anggota MUI yang hadir dalam kesempatan itu menyayangkan postingan S. Tapi sebagian anggota juga menilai ada unsur ketidaksengajaan oleh S. Karena jika memandingkan tulisan dengan foto yang diunggah, tidak ada bentuk menistakan agama (tulisan).

a�?Dengan permohonan maaf di media, dan kata-kata yang ditulis (dipostingan) ada keinginan baik. Cuman salahnya kenapa menggunakan babi,a�? ungkap TGH Muharrar Mahfuz, anggota MUI Lobar lainnya.

TGH Muharrar melihat apa yang dilakukan S adalah sebuah kekeliruan. Karena itu, ia meminta S dihadirkan untuk mengklarifikasi lebih jelas. Tapi jika memang ada unsur kesengajaan, tidak bisa ditolerir. a�?Sejauhmana betul a��betul bermasalah, hadirkan dia,a�? pintanya.

Hal senada juga diungkapkan oleh TGH Zubaidi. Menurutnya, dilihat secara teliti tulisan yang diposting oleh yang bersangkutan tidak ada menyinggung agama islam. Unsur yang menodai agama tidak ditemukan dalam tulisan tersebut. Akan tetapi menjadi persoalan saat ini adalah dua gambar yang diunggah. Dimana antara binatang yang diharamkan agama islam dan tempat yang sangat dimuliakan. a�?Itu bukan wajah S (posting),a�? tegasnya.

Karena itu, ia menyarankan persoalan ini diselesaikan secara kekluargaan. Yang bersangkutan diminta diberikan saksi berupa teguran. Serta membuat surat pernyataan bahwa tidak akan mengulangi perbuatan.

Ia meminta Badan Kehormatan Dewan dan MUI memberikan saksi teguran. Langkah itu dilakukan guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan ketika MUI nantinya mengeluarkan fatwa. a�?Jangan sampai (fatwa) dianggap sebuah ‘pesanan’ dari lawan politik maupun oknum lainnya,a�? sarannya.

Sementara Kepala Kemenag Lobar H Muslim yang turut hadir menyarankan sebelum mengambil langkah lebih jauh, S dihadirkan saat sidang kedua nanti. Yang bersangkutan perlu diminta klarifikasi sehingga bisa menjadi bahan pertimbangan.

Sidang kemarin, MUI Lobar belum memutuskan apakah terhadap persoalan ini akan mengeluarkan fatwa atau tidak. Atau hanya sekadar menyarankan agar yang bersangkutan diberikan teguran keras. Dan meminta maaf kepada seluruh umat islam. Khususnya umat islam di Lobar. Rencananya, sidang kedua akan dilanjutkan paling lambat Selasa (4/4) mendatang.

Sebagaimana diketahui, oknum anggota DPRD Lobar berinisial S diduga menistakan agama setelah mengunggah foto salah seorang kakek menarik salah satu binatang yang diharamkan agama islam. Sementara foto disampingnya, ada umat muslim melakukan wukuf di Kaa��bah. Postingan itu tertanggal 16 Februari pukul 12.34 Wita. (zen/r5)

Berita Lainnya

PJU di PLTU Jeranjang Segera Dibangun

Redaksi LombokPost

Pemancing Diduga Hanyut di Perairan Labuan Poh

Redaksi LombokPost

Sinyal Mutasi Makin Menguat

Redaksi LombokPost

Sekolah Terdampak Gempa Belum Diperhatikan

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Butuh Lebih Banyak Huntara

Redaksi LombokPost

HUT SMAN 1 Gerung Meriah

Redaksi LombokPost

Pariwisata Senggigi Diyakini Pulih Lebih Cepat

Redaksi LombokPost

9.345 Orang Tertahan di Pengungsian

Redaksi LombokPost

Bupati Bela PT Tripat

Redaksi LombokPost