Politika

Lebih Kuat Pengaruh Figur

MATARAM – Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) TGH Hazmi Hamzar menilai faktor nilai jual figur yang ada di pasangan calon menjadi penilaian penting bagi masyarakat. Artinya, masyarakat lebih melihat figur dari pada parpol pengusungnya.

a�?Figur jadi pilihan utama masyarakat, parpol hanya sebagai pintu masuknya,a�? kata Hazmi, kemarin (5/4).

Menurutnya, parpol sebagai alat dukung politik di atas kertas. Meski banyak partai pendukung dan pengusung tidak akan menjamin calon tersebut dipilih rakyat. Partai pun tidak bisa memaksa konstituennya memilih calon dari partainya, jika tidak sesuai hati masyarakat. Karena pada kenyataannya masyarakatlah yang akhirnya memilih.

a�?Jika dipaksakan masyarakat memilih si A atau B, C, konstituen bisa keluar, pilih yang lain, sisi lain wibawa partai turun,a�? katanya.

Kepada figur-figur yang akan maju dalam Pilkada NTB, kata dia, untuk dipilih maka harus rajin turun ke masyarakat. Tidak cukup hanya menyebar baliho dan spanduk. Bahkan, jika figur ini merasa hebat bakal dipilih rakyat karena rajin turun, maka tidak perlu memasang baliho dan spanduk.

A�a�?Siapa yang bisa mendekati masyarakat, dia yang dipilih,a�? kata anggota Komisi II DPRD NTB ini.

Diakuinya figur yang turun ke masyarakat masih dinilai sebagai pencitraan, tapi itulah figur. Kata dia, jika sebagai kepala daerah di wilayah masing-masing seperti bupati/wali kota saja susah menghadiri undangan warga, bagaimana ketika jadi gubernur.

a�?Kalau jabatan sekarang saja susah datang, gimana jadi gubernur, gak dipilih lah,a�? tegasnya.

Selain rutin turun ke masyarakat, ketenaran dan prestasi figur juga harus dilihat. Jika figur kandidat berasal dari kepala daerah, masyarakat harus melihat sebelum jadi gubernur, bagaimana prestasi mereka di daerah masing-masing. Sejauh ini, kepala daerah masih dikenal di daerah sendiri. Belum menjadi pembicaraan di daerah lain.

a�?Harusnya yang mau maju ini tunjukkan prestasi, kehebatannya saat jadi bupati/wali kota. Apa yang sudah mereka berikan kepada warganya di sana,a�? terang Hazmi.

Perlu menjadi perhatian lain bagi figur, lanjutnya, adalah bagaimana cara mereka turun ke lapangan. Tidak asal turun tanpa memperhatikan atau memperhitungkan siapa yang menjadi imam di masyarakat tersebut. Sebab, kondisi masyarakat di NTB masih fanatik dan kental terhadap pemimpin. Baik secara organisasi masyarakat, kepemudaan, dan lainnya.

a�?Pengaruh tokoh masyarakat, agama, kepemudaan, pemimpin adat juga diperhitungkan,a�? pungkasnya. (ewi/r4)

Related posts

Partai Demokrat Laris Manis

Iklan Lombok Post

PDIP Belum Mau Bermanuver

Redaksi Lombok post

Berkas Kandidat Tak Lengkap, KPU Berikan Batas Waktu Perbaikan

Redaksi Lombok Post