Lombok Post
Perspektif

Ragam Seragam

a�?SIAPAA� yang tak suka melihat kerapian, keseragaman putra putri kita yang bersekolah?a�? Pertanyaan macam ini berkali diucap sebagai pengantar acara rapat tahunan komite sekolah. Sebagian besar yang hadir biasanya terdiam.

Awalnya saya hanya mendengar cerita demikian, namun belakangan setelah ada anak yang kini duduk di bangku sekolah, dan mengikuti rapat komite wali murid akhirnya saya paham bahwa salah satu agenda rapat wali murid adalah juga untuk membahas mengenai seragam siswa. Selain mendengar penyampaian laporan penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Ngomong-ngomong soal seragam sekolah, di Indoenesia, siapa yang pertama kali mencetuskan ide ini dan siapa pula pendesainnya? Apa tujuan dari adanya seragam sekolah? Nampaknya hal ini luput dibahas sebagai tambahan informasi kilas balik sejarah, sebagai pengantar wali murid saat rapatA� komite sekolah. Setidaknya informasi itu penting menjadi satu pintu masuk untuk memahami tentang perlunya penyeragaman.

Tidak sekadar soal pembahasan mengapa penting pengadaan baju seragam bagi anak-anak. Dan imbasnya sudah barang tentu ada biaya lebih yang harus dikeluarkan para orang tua untuk pengadaan seragam sekolah bagi anak-anak mereka.

Siapa desainer seragam merah putih, pramuka, dan lainnya? informasi ini belakangan saya ketahui dari salah satu laman media internet. Adalah seorang lulusan seni rupa bernama Idik Sulaeman Nataanmadja yang lahir pada 20 juli 1933. Pada tahun 1960 Pak Idik lulus dari jurusan Seni rupa ITB. Sekaligus pada tahun yang sama memulai karirnya pada balai penelitian tekstil Indonesia.

Pada 1967 dipindahkan ke Departemen Pendidikan, dan pada November 1979 ditarik ke Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Antara tahun 1980-1983 secara bertahap Pak Idik mendesain seragam sekolah beserta logonya. Pada tahun 1982 dikeluarkanlah surat keputusan yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto untuk penggunaan seragam sekolah dari tingkat SD, SMP dan SMA pada masa itu. Hingga kini rancangan Pak Idik masih dipakai oleh hampir seluruh sekolah di Indonesia.

Mengenai seragam sekolah, saya pun punya cerita tersendiri mengenai hal itu. Ketika tahun 1990 saat duduk di bangku SD, sebagai anak bungsu saya pun pernah mengenal istilah a�?warisan seragama�? yaitu karena saya anak bungsu dari empat bersaudara yang beda jarak lahir dua tahun dengan kakak-kakak saya, maka ketika saya masuk di kelas I SD seragam sekolah yang saya gunakan adalah seragam bekas yang pernah dikenakan oleh kakak.

Pada era itu, anak SD hanya mengenal dua setel jenis seragam sekolah yaitu satu setel baju putih dan rok atau celana merah, dan satu setel lagi adalah seragam pramuka berwarna cokelat. Seragam merah putih dipakai dari hari Senin sampai Rabu, pramuka dipakai pada Kamis sampai Sabtu. Itupun jika tidak ada penambahan kegiatan ektrakulikuler pramuka pada Minggu sore, maka hari Minggu menjadi hari mencuci dua setel seragam.

Seiring waktu, belakangan mungkin generasi kekinian sudah sedikit sekali yang mengenal istilah a�?warisan seragama�? ini. Terlebih, jika diperhatikan kini jenis seragam sekolah sudah tidak lagi dua pasang, ada yang tiga atau bahkan sampai empat dan lima pasang tergantung kebijakan sekolah. Ada jenis yang namanya baju batik, baju safari, atau ada pula istilahnya baju takwa yang dipakai khusus pada hari Jumat.

Baden Powell yang disebut sebagai Bapak Pramuka sedunia menyatakan tujuan seragam adalah untuk menciptakan rasa persaudaraan, dan menutupi perbedaan status sosial. Pun di ruang bernama sekolah, itulah alasan seragam bagi siswa, para guru itu ada.

Lambat laun terasa ada pergeseran dari tujuan ini. Alih-alih untuk menutupi perbedaan status sosial, kini yang terjadi justru seragam menjadi identitas bagi sekolah karena keragamannya. Bahkan di salahsatu daerah, ada yang menerapkan seragam berupa pakaian adat daerah, ada batik yang digunakan pada hari tertentu dengan alasan untuk mendekatkan kecintaan siswa pada daerah, nusa dan bangsa. Dan menurut sebagian orang, ini termasuk inovasi di bidang pendidikan. Meskipun sebagian juga ada yang bertanya, apa hubungan antara keseragaman, beragaman pakaian seragam dengan kualitas pendidikan?

Namun, karena kita tengah membahas soal seragam sebagai pakaian yang tidak berkaitan langsung dengan kualitas pendidikan, maka tidak ada salahnya jika sedikit kita pun membahas soal seragam sebagai biang keluhan orang tua.

Di jenjang tingkat pendidikan tertentu misalnya, soal pengadaan seragam sekolah siswa yang dimonopoli oleh pihak sekolah hampir sering dikeluhkan oleh orang tua siswa, apalagi menjelang awal tahun ajaran baru. Biaya pendaftaran yang satu paket dengan pengadaan seragam misalnya, tak jarang membuat beberapa sekolah menjadi sasaran demo orang tua atau pelaporan karena biaya yang dirasa terlalu tinggi untuk paket bernama pengadaan seragam yang beragam jenis bagi siswa.

Alih-alih menjadi apa yang dihajatkan sebagai menutupi kelas sosial dalam dunia pendidikan, kini seragam sekolah menjadi serupa ladang bisnis pakaian, fashion penentu identitas sekolah yang satu dengan yang lain.

Rapat komite sekolah tidak lagi pada pembahasan bagaimana mensinergikan pendidikan pada lingkungan sekolah dengan pendidikan di luar sekolah khususnya di lingkup rumah tangga sebagai basis penguatan pendidikan terhadap anak. Tapi orang tua justru disibukkan oleh Pekerjaan Rumah untuk bagaimana memikirkan cicilan membayar seragam, harga sepatu, tas anak-anak mereka saat memulai tahun ajaran baru.

Apa guna pakaian seragam yang beragam jika pada akhirnya substansi nilai pendidikan semakin jauh dari harapan? Pertanyaan demi pertanyaan yang teramat sering diucapkan oleh kebanyakan orang tua dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, seolah membentur dinding-dinding bangunan megah bernama sekolah. (r8)

Berita Lainnya

Hari Kartini dan Wajah Pribumi

Redaksi Lombok Post

Job, Non Job and Jobs

Redaksi Lombok post

2017

Redaksi Lombok post

Musibah

Redaksi Lombok post

Mengulang Tahun

Redaksi Lombok post

Seratus Tahun Nyala Tungku

Redaksi Lombok post

Kopia�� Ah

Redaksi Lombok post

Mengerjakan Rencana

Redaksi Lombok post

Between

Redaksi Lombok post