Lombok Post
Headline Metropolis

Masa Jaya Lapangan Pacuan Kuda Selagalas (2-Habis) : Puas Meski Hanya Melihat Patung

KIAN PUDAR: Patung kuda di tembok Lapangan Selagalas catnya mulai pudar. Ini menandakan salah satu ikon Kota Mataram itu tidak diperhatikan lagi. Lalu Mohammad/Lombok Post

Beberapa orang mendekati patung kuda itu. Mereka berniat membongkar patung yang merekam banyak sejarah keemasan lapangan Selagalas. Lalu apa respons warga? Berikut laporannya.

***

ABDUL Satar berdehem beberapa kali. Kopi hitam di hadapannya di seruput nikmat, hingga mengeluarkan bunyi berdesis. Pandangannya lurus, menatapi titik-titik hujan yang makin deras.

Rekaman-rekaman masa kecil, saat lapangan Selagalas kesohor ke berbagai pelosok daerah, mulai diputar.

Dulu, kenangnya, kalau ada orang yang bertanya di mana rumahnya, mereka selalu mematok dari lapangan pacuan kuda. a�?Mereka tanya, a�?dimananya lapangan pacuan kudaa��, begitu biasanya, tapi sekarang yang justru jadi ikon, justru rumah sakit jiwa,a�? cetus Satar, sembari tersenyum ringan.

Kepala Lingkungan Selagalas Lama ini mengenang masa-masa kecil, selalu bermain di sana. Tempat itu, lebih asyik dari wahana rekreasi nasional. a�?Dufan kalah, hehehe,a�? kekehnya.

Jika ada turnamen balap kuda, tidak hanya mereka yang punya lapak-lapak PKL dapat menikmati hasilnya. Tetapi, pengangguran bisa dapat pekerjaan dengan penghasilan lumayan.

“Kalau anak-anak bisa jadi joki, sedangkan orang tua bisa jadi pekatik (perawat kuda),a�? tuturnya.

Lahan-lahan kosong di sepanjang jalan pertanian Selagalas pun berubah jadi kawasan parkir. Mulai tempat parkir kuda, mobil, motor dan truk. Hasil dari parkir pun kembali dinikmati masyarakat.

“Pokoknya semua hidup, karena olahraga pacuan kuda ini olahraga rakyat,a�? ujarnya.

Karena itu, sebenarnya warga Selagalas, sampai saat ini masih menyimpan harapan. Suatu ketika, Lapangan Selagalas yang saat ini dijadikan sebagai arena sepak bola dan balap motor, kembali lagi jadi arena pacuan kuda.

a�?Semua masyarakat di sini, lebih memilih itu bisa kembali jadi arena pacuan kuda lagi,a�? ungkapnya.

Pernah suatu ketika, datang beberapa orang. Mereka berniat membongkar patung kuda di tembok sebelah timur. Tetapi, baru saja patung akan dibongkar, beberapa warga berdatangan. Mereka bertanya mau diapakan patung itu.

“Setelah warga tahu, langsung semua menolak patung itu dihancurkan,a�? tuturnya.

Kecintaan masyarakat pada ikon lapangan kuda itu tidak diragukan lagi. Kadang kala, jika ada warga, khususnya generasi yang hidup di masa keemasan lapangan kuda, mereka menyempatkan diri berkunjung. Sekedar untuk melihat patung, lalu pergi.

a�?Sekedar untuk melepas rindu, cukup dengan lihat patung,a�? ujar Satar lalu terawa lebar.

Sebab, jika rindu, Satar juga melakukan hal serupa. Tetapi, kenangan tinggal kenangan. Sampai saat ini, Satar mengaku belum mendengar jelas, seperti apa nasib lapangan Selagalas itu. Kecuali, semakin masifnya dibangun sirkuit-sirkuit di sebelah barat lapangan.

“Lapangan itu juga jadi tempat pertama, artis Nike Ardila manggung di Lombok, saat itu ada turnamen balap kuda,a�? kenangnya.

Tidak hanya itu, Abdul Gafur Tengku Idris, Menteri Pemuda dan Olah Raga Republik Indonesia era Presiden Suharto, menunjukan kekagumannya. Melihat olah raga ekstrim pacuan kuda di Lombok.

“Karena saat itu, baru pertama beliau lihat ada orang lomba pacuan kuda tanpa pengaman lengkap,a�? sambungnya.

Warga sampai saat ini, dikatakan Satar, masih menyisakan harapan lapangan pacuan kuda kembali ada. Tidak hanya akan memacu sektor pariwisata, jika disentuh program pembangunan, misalnya dengan menjadikan lapangan menjadi kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH), ia yakin kawasan itu akan jadi tempat favorit.

“Sekarang saja tanpa ada taman, pagi dan sore hari selalu ramai didatangi warga yang jogging, olah raga, atau sekedar cuci mata,a�? terangnya.

Taman di tengah, sementara di lingkaran pinggir adalah arena pacuan kuda, inilah yang menjadi harapan Satar dan warganya. Tetapi entahlah. Perhatian pemerintah masih luput saat ini pada lahan itu. Menyusul juga adanya sengketa soal siapa pemilik lahan yang sebenarnya. “Kita hanya bisa berharap dan semoga didengar,a�? tutupnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r5)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost