Lombok Post
Headline Selong

Kampanye Anti Rentenir (2) : Buruh Migran Sasaran Empuk Bank Rontok

KISAH PILU : Sabrun, 26 tahun, yang bermain sebagai Khadam menjadi pintu masuk kisah pilu keluarga Amaq Kelor. Kisah yang sebenarnya mirip dengan kehidupan Sabrun sebenarnya. (Fathul Rakhman/Lombok Post)

Buruh tani, petani miskin, dan keluarga buruh migran terjerat rantai kemiskinan. Kehadiran rentenir lekas memberi solusi namun dengan bunga tinggi. PerluA� terobosan dari pemangku kebijakan agar tak selamanya mereka terjebak dalam jerat siklus kemiskinan itu.

——————————————————

Sabrun, 26 tahun, tersenyum melihat riasan wajahnya dari balik cermin. Bibir dower dengan make up tebal membuat Sabrun tampak lucu. Kain dililitkan di kepala seperti surban, bertelanjang dada, mengenakan sarung yang di pinggangnya terselip telepon genggam.

Ia menari lincah. Tampangnya yang konyol dalam riasan bedak tebal membuat penonton terpingkal. Baru naik panggung saja, warga yang menyaksikan langsung tertawa. Anak-anak memanggil namanya.A� Sabrun, warga Penyonggok, Desa Tetebatu Selatan, Kecamatan Sikur tempat pentas berlangsung Sabtu malam (9/4) mampu menghibur penonton.

Celetukan-celetukan ringan dari tokoh Khadam yang diperankannya terlihat mengalir alami. Saat dialog bersama Jongos, Khadam bicara berbagai hal. Mulai soal bebalu (janda), buruh migran hingga A�gosip-gosip A�tetangga terbaru.

Sabrun bukan pemain teater, bukan anggota sanggar seni, nampak membawakan naskah dengan serius. A�Ketika dia membaca naskah, dia merasa naskah itu hidup. Naskah Kepeng Benang Bunut Jengkang itu tak jauh dari kehidupannya sehari-hari di A�Desa Tetebatu Selatan.

a�?Saya sudah dua kali jadi TKI, dan gagal,a��a�� kata Sabrun bercerita pada Lombok Post sebelum dia naik pentas.

Sabrun muda menamatkan pendidikannya di sebuah madrasah aliyah swasta di kampungnya. Tidak ingin menganggur lama, Sabrun memilih menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.

Sebenarnya tidak ada niat awal menjadi buruh migran. Tapi para pemuda di kampungnya banyak yang pergi. Sebagian berhasil membangun rumah dari hasil menjadi TKI. Sabrunpun A�tertarik. A�Sabrun memang tahu ada juga cerita pilu. A�Tapi bayangan tumpukan uang yang akan dibawa pulang, membuat Sabrun muda berangkat ke Malaysia.

Dia bekerja di perkebunan kelapa sawit. Saat gajian tiba menjadi hari paling bahagia. Sebagian gaji itu untuk kebutuhan hidup sehari-hari, sebagian dikirim ke kampung halaman untuk melunasi utang keluarga. Ya hutang yang dia tinggalkan sebagai modal ke Malaysia. Ongkos itulah yang harus dicicil.

Karena bosan dan merasa gaji tidak ada kenaikan, Sabrun pulang kampung. Tabungan selama menjadi TKI tidak banyak. Ini dipakai membiayai pernikahan itu, dan biaya hidup keluarga baru itu.

Sebagai keluarga baru, kebutuhan hidup bertambah. Sabrun memutuskan kembali ke Malaysia. Kali ini dia ditawarkan bekerja di lapangan golf. Sabrun awalnya berat hati, istrinya sedang hamil tua. A�Tapi bayangan kebutuhan melahirkan dan membesarkan anak, Sabrun akhirnya berangkat melalui seorang tekong (calo) yang masih kerabatnya.

Sesampai di Malaysia barulah Sabrun sadar. Dia menjadi korban perdagangan orang. Dia memang bekerja di perusahaan lapangan golf, tapi bukan lapangan golf seperti bayangan awalnya.

Pekerjaan Sabrun membuka hutan, membabat semak untuk lapangan golf. Gajinya hanya 300 ringgit Malaysia. Paspornya ditahan. Dari mulut bosnya dia tahu jika tekong yang memberangkatkannya mendapatkan uang jauh lebih besar dari gajinya. A�Sabrun A�akhirnya sadar jika dia ditipu, dan sadar menjadi korban perdagangan manusia.

a�?Saya mengancam makanya bisa dapat paspor saya dan langsung pulang,a��a�� tuturnya.

Sabrun pulang dengan tangan hampa. Di kampung halaman, dia disambut istri dan anaknya. Sabrun menjadi bapak. Kini Sabrun bekerja sebagai buruh tani.

Sial, A�cabai yang dia tanam pada musim tanam baru-baru ini pun tak banyak memberikan keuntungan. Saat harga cabai melambung, angin besar dan hujan merusak tanaman itu.

a�?Untung saja tidak rugi,a��a�� katanya.

Kisah hidup Sabrun mirip dengan naskah yang dia pentaskan malam itu. Bedanya, kisah Amaq Kelor dalam naskah Kepeng Benang Bunut Jengkang itu dikisahkan gagal panen lalu berangkat ke Malaysia. A�Pinjaman dari rentenir itulah yang harus dia lunasi.

Sementara Sabrun karena gagal di Malaysia kemudian kembali ke kampung halaman bertani. Karena pengalaman pahit menjadi korban penipuan/perdagangan manusia jua yang membuat Sabrun berpikir berkali-kali untuk kembali ke Malaysia.

Petani miskin yang modal pas-pasan dan para buruh migran adalah dua kelompok sasaran empuk rentenir (bank rontok). Tapi para petani miskin dan buruh migran itu tidak punya pilihan. Seperti penuturan Inaq Kelor, jika meminjam di bank apa yang harus dia jaminkan. Sementara di bank rontok cukup modal kepercayaan. Apakah perbankan yang teregulasi bisa melakukan seperti itu ?

Daya jelajah perbankan memang tidak setangguh para pekerja lapangan bank rontok. Mereka door to door. Dia menjadi solusi meski dengan bunga tinggi.

a�?Kami memang ada program pendampingan pengaturan uang kiriman,a��a�� kata Direktur Advokasi Buruh Migran Indonesia (ADBMI) Lombok Timur Roma Hidayat.

Jika dikelola dengan baik, uang kiriman (remitance) itu sebenarnya bisa menjadi modal usaha. Baik modal bagi istri yang tinggal di rumah. Dan kelak ketika suami kembali di Malaysia ada hasil yang dilihat, baik berupa uang tabungan maupun usaha.

Saat ini ADBMI Lotim mengadvokasi para keluarga buruh migran dan eks buruh migran di desa-desa yang berbatasan dengan hutan. Ada kekhawatiran, eks buruh migran bisa menjadi pelaku illegal logging. Karena itulah ADBMI Lotim mendampingi agar mereka memiliki usaha produktif.

a�?Kampanye dengan Rudat ini memang selalu kami gunakan. Sambil menghibur, pesannya juga sampai,a��a�� katanya.(Fathul Rakhman/r2)

 

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost