Lombok Post
Headline Metropolis

Penghina TGB Mulai Diproess Hukum, TGB: Perlu Kejelasan Siapa Sesungguhnya Steven

Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi SIRTU/LOMBOK POST

MATARAMA�– Aparat penegak hukum bergerak cepat dan mulai memproses dugaan tindak pidana ujaran kebencian yang dilakukan oleh Steven Hadisuryo Sulistyo terhadap Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi. Kemarin, orang nomor satu di NTB tersebut dimintai keterangan oleh penyidik Polda Metro Jaya.

Kepada penyidik Polda Metro, TGB sapaan akrab Gubernur NTB tersebut memberikan keterangan selangkap-lengkapnya, atas apa yang telah terjadi terkait penghinaan dengan kata-kata yang sangat kasar yang dilontarkan Steven kepada dirinya bersama istri Hj erica Zainul Majdi, di tengah antrean konter check in Bandara Changi, Singapura.

Kata-kata kadsar Steven terlontar karena menilai TGB menyerobot antrean. Padahal, TGB hanya meninggalkan antrean sebentar untuk bertanya ke petugas, dan meninggalkan istrinya masih berada dalam antrean.

Kasus ini sendiri telah menjadi perhatian khalayak luas di Indonesia karena mengandung tendensi rasisme. Akhirnya, banyak elemen yang mengadukan peristiwa itu ke kepolisian baik melalui Polda Metro Jaya maupun Polda NTB.

Tercatat bahkan beberapa tokoh nasional dari etnis Tionghoa seperti Jusuf Hamka dan Lieus Sungkharisma juga melaporkan kejadian ini. Mereka menganggap ini sebagai penghinaan tidak hanya terhadap TGB pribadi namun juga kepada seluruh bangsa Indonesia.

Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo sebagai Ketua Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia dalam komunikasinya dengan Gubernur TGB juga bereaksi keras dan memastikan melayangkan surat ke Kapolri untuk meminta penuntasan kasus ini.

Melalui keterangan tertulis dari Jakarta tadi malam, TGB menyampaikan bahwa dirinya dan istri sebetulnya sudah memaafkan sang pelaku. “Kami sudah maafkan karena bagaimanapun kami menghargai pernyataan maaf bermaterai yang disampaikan oleh saudara Steven,a�? kta TGB.

a�?Ajaran agama juga mendorong kita untuk memberi maaf kepada orang yang salah,” tambahnya.

Namun demikian, TGB menegaskan, karena banyak masyarakat yang mengadukan penghinaan ini ke kepolisian, maka tentu menjadi kewajiban kepolisian untuk menindaklanjutinya dengan baik dan menuntaskannya.

Perlu ada kejelasan, kata TGB, siapa sesungguhnya Steven. Banyak spekulasi tentang pribadi yang bersangkutan termasuk informasi yang beredar di tengah masyarakat bahwa yang bersangkutan memiliki KTP yang aspal, bermasalah atau bahkan palsu. Kalau informasi ini benar, menurut ulama kharismatik ini, berarti ada potensi pemalsuan dokumen negara. Dan yang bisa menginvestigasi secara tuntas adalah kepolisian agar semua hal terkait peristiwa ini menjadi jelas.

TGB juga menjelaskan kepada penyidik, selain surat permohonan maaf yang telah dimuat media juga ada surat pernyataan yang juga ditandatangani yang bersangkutan dan seorang lainnya bernama Jones Djatisasmito yang juga menyaksikan peristiwa di Changi serta mengaku sebagai keluarga pelaku. “Saya yakin apabila kepolisian serius, maka yang bersangkutan akan dapat segera ditemukan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya,” ujar TGB.

Sekadar mengingatkan, merujuk hasil tabayyun sejumlah ulama pada TGB atas kasus ini, saat Steven melontarkan kata-kata yang sangat kasar kepada TGB, orang nomor satu di NTB ini secara santun telah mengingatkan agar Steven tidak mengucapkan kalimat-kalimat yang berbau SARA. Bahkan, TGB kala itu mengalah dengan cara berpindah dan menjauh demi memberikan keleluasaan kepada Steven seperti yang dia sukai dalam antrean.

Tetapi Steven tetap meluahkan kata-kata kotor sekalipun sudah berjauhan, sehingga orang banyak yang mengantre mendengarkan umpatan-umpatannya. Di antara peringatan yang TGB berikan adalah, jangan menyebut-nyebut kata pribumi, namun yang bersangkutan sambil berkacak pinggang dan menantang tetap melontarkan umpatan-umpatannya.

Dengan situasi itu, TGB kemudian berkoordinasi dengan kepolisian Bandara Soekarno-Hatta dan menyampaikan kalau dirinya akan melaporkan seseorang yang melanggar hukum agar mendapatkan penanganan sesuai hukum yang berlaku. Merespon hal ini, petugas kepolisian kemudian menunggu di pintu pesawat sesaat setelah mendarat.

Namun, yang bersangkutan kembali menunjukkan ulah yang sangat arogan dan menantang-nantang. Bahkan terlontar kata-kata yang tak semestinya pula terhadap aparat penegak hukum.

Pada akhirnya kemudian, muncullah kommitmen antara kedua pihak yang disaksikan juga oleh petugas kepolisian bandara bahwa akan ada pernyataan permohonna maaf secara terbuka melalui tiga media nasional selama tiga hari berturut-turut. (kus/r8)

Berita Lainnya

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Masih Banyak Warga Loteng Buang Air Besar Sembarangan

Redaksi LombokPost

Pemkab dan ITDC Raih Penghargaan ISTA

Redaksi LombokPost

Ahli: Penangkapan Muhir Bukan OTT

Redaksi LombokPost

Pola Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf Serupa

Redaksi LombokPost