Lombok Post
Feature Headline

Jejak Maulanasyaikh (6) : Inisiator Penyerangan Markas Tentara Belanda di Selong

TGKH M Zainuddin Abdul Madjid

Sejak pulang dari Makkah (1934), Kiai Hamzanwadi telah meniupkan genderang perjuangan membangun bangsa dan negara Indonesia. Jauh sebelum kemerdekaan RI, ia sudah memulai kiprahnya berjuang membangun masyarakat yang madani. Dengan prinsip amar ma’ruf nahi munkar berbagai tantangan dan rintangan ia tempuh.A�A�A�A� A�A�A�A�A� A�

***

Pada tanggal 18 Maret 1946, sekutu Inggris yang bertugas menggempur kekuatan Jepang di Indonesia mendarat di Ampenan. Kedatangan sekutu ini awalnya disambut gembira oleh rakyat, tetapi hal itu berubah menjadi rasa was-was karena sekutu datang membawa NICA-Belanda.

Sebelum datang ke Lombok NICA sudah menguasai Sumbawa untuk memonitor situasi di Lombok, kala itu NICA tidak berani mendarat karena sepanjang pantai di Lombok Timur dijaga pemuda pejuang kemerdekaan.

Tanggal 19 Maret 1946, pimpinan tentara sekutu Pitter Kamm melakukan pertempuran dan menyatakan pemerintah di Lombok sudah diambil alih sekutu. Pernyataan itu mendapat penentangan dari para pemimpin pro-Republik saat itu.

NICA kemudian menunjukkan kekuasaannya dengan menangkap para pemimpin pejuang, dan tanggal 27 Maret mendaratkan tentara NICA di Lembar. Pada hari itu bendera Belanda dikibarkan kembali, serta larangan-larangan kembali diberlakukan.

Masuknya NICA membuat para pejuang khawatir. Untuk itu mereka secara sembunyi-sembunyi melakukan koordinasi dan menyiapkan kekuatan untuk penyerangan.

Di Selong, Lombok Timur para pejuang tidak menampakkan aktivitasnya dan menyebar ke desa-desa. Untuk menghindari pengawasan NICA, para pemuda mengadakan rapat di Selong.

Mereka membahas tentang keberangkatan ke Jawa dan Makkasar untuk mendapatkan bantuan senjata. Esok harinya, Muhammad Syah dan Maidin dan beberapa utusan berangkat melalui Labuan Lombok tetapi ditangkap tentara NICA saat menaiki perahu.

Selanjutnya, diadakan pertemuan di rumah Misbah Masbagik, tanggal 27 Mei 1946, dalam pertemuan itu para pejuang mendesak agar serangan segera dilakukan sebelum NICA melalukan penangkapan. Para pelajar Lombok Timur yang sekolah di Mataram juga ikut membantu.

Melihat pergerakan ini, NICA menjadi resah, indikasi perlawanan rakyat terharap Belanda sudah mulai ditunjukkan, misalnya di Pancor, di depan madrasah NWDI dikibarkan bendera merah putih.

Menurut pengakuan TGH Nursaid, yang saat itu diperintahkan TGKH M Zainuddin Abdul Madjid untuk menjaga bendera Indonesia yang dikibarkan di madrasah (sekarang MTs Muallimin).

Pada saat itu Maulanasyeikh memerintahkan Nursaid dan Sayyid Hasim menjaga bendera merah putih agar tetap berkibar sebagai tanda kemerdekaan, dan tidak diturunkan tentaa NICA Belanda.

A�Karena situasi yang makin genting, para pejuang satu per satu ditangkap, maka Maulanasyeikh mengajak para pejuang yang ada di barisan Mujahidin untuk mengambil inisiatif menyerang markas NICA di Selong.

Ia pun mengajak beberapa tokoh pejuang untuk mengadakan pertemuan. Ada beberapa hal yang disampaikan TGKH M Zainuddin Abdul Madjid dalam pertemuan itu. Pertama, melakukan penyerangan lebih awal ke markas NICA, sebelum tentara penjajah itu menangkap para pejuang, terutama mereka yang aktif mengajar di madrasah.

Kedua, perkuat iman dan niat dalam berjuang, bahwa perjuangan ini adalah dalam rangka menegakkan agama Allah dan mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamirkan bangsa Indonesia. Ketiga, TGKH M Zainuddin Abdul Madjid meminta agar strageti perang dirancang dengan tepat.

Dalam upaya penyerangan markas tentara NICA ini, Maulanasyeikh berperan penting dalam mengerahkan para pejuang. Ia menjadi otak penyerangan dan mengobarkan semangat pejuang untuk bertempur mempertahankan kemeredekaan.

Dan pada tanggal 7 Juni 1946 dini hari dengan suara takbir yang bergemuruh a�?Allah hu Akbara�? para laskarA� perjuang yang hanya bersenjatakan keris, golok, kelewang, dan bambu runcing menggempur markas NICA.

Pertempuran itu membuat delapan orang tentara Belanda tewas, tapi beberapa pejuang juga gugur menjadi syuhada.

Akhirnya sejak pertempuran itu, NICA menghasut rakyat untuk berdemonstrasi memojokkan para pejuang. Banyak pejuang yang ditangkap, ada yang dipenjara di Selong dan sebagian dikirim ke penjara Denpasar dan Ambon.

Kejadian ini berlangsung sampai penyerahan kedaulatan tanggal 27 Desember 1949. (bersambung/r7/SIRTUPILLAILI)

Berita Lainnya

Kepala OPD Akan “Dikocok” Ulang

Redaksi LombokPost

Cegah Aksi Para Spekulan, Polisi-Pemprov Pantau Pasar

Redaksi LombokPost

KPU NTB Gelar Cerdas Cermat Pemilu bagi Pemilih Pemula

Redaksi LombokPost

Jaksa SP3 Kasus Izin Hutan Sekaroh

Redaksi LombokPost

Pengerukan Dermaga Labuhan Haji Terancam Molor

Redaksi LombokPost

Zul-Rohmi Perlu Banyak Sosialisasi

Redaksi Lombok Post

Mengejar Mimpi Jadi Daerah Industri

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post