Lombok Post
Feature Headline

Ke Genting Highlands, Menikmati Pariwisata Malaysia (1) : Petir Menggelegar, Kereta Berhenti, Untung Ada Sanusi

RASAKAN SENSASINYA: Kereta gantung Awana Skyway, salah satu sarana transportasi menuju Genting Highlands. Jony/Lombok Post

Malaysia sangat serius membangun pariwisatanya. Itu terlihat dari dukungan sarana dan prasarana untuk destinasi Genting Highlands. Berikut catatan wartawan Lombok Post Jony Marthadinata yang sempat berkunjung ke sana usai mengikuti WAN IFRA Publish Asia 2017 di Kuala Lumpur.

***

BANYAK orang keluar dan masuk melalui pintu yang buka tutup otomatis. Mereka berjalan tergesa-gesa. Di bagian dalam, semakin banyak orang. Ada yang berjalan bergerombol maupun sendiri-sendiri. Sebagian besar menuju lantai bawah yang terhubung eskalator dan anak tangga.

Inilah Stesen Sentral (Stasiun Sentral) di jantung kota Kuala Lumpur, ibu kota Malaysia. Semua angkutan publik dari dan menuju Kuala Lumpur berhenti di stasiun ini.

Angkutan publik menuju Genting Highlands ada di stasiun ini. Turun satu lantai lagi dari bangunan yang lebih mirip mall tersebut. Penulis bersama dua orang rekan; Haliludin (direktur Lombok Post) dan Marlon Sumaraw (direktur Manado Post) sempat sedikit terperanga melihat terminal yang ada di lantai dasar Stesen Sentral.

Kondisinya mirip area parkir di lantai dasar hotel-hotel yang ada di Indonesia, khususnya di Lombok. Tidak banyak orang yang menawarkan naik bus ini, bus itu. Yang banyak hanya penumpang yang sangat tertib.

Di sana hanya ada tiga unit bus dengan rute berbeda-beda. Bus tujuan Genting berada paling belakang. Warnanya merah.

a�?Mau ke mana?a�? tanya seorang pria dengan bahasa Melayu Malaysia. Ketika dijawab hendak ke Genting, pria itu segera mengarahkan ke loket penjualan tiket.

Saat itu, Kamis (20/4) sekitar pukul 12.00 Wita (waktu Kuala Lumpur sama dengan waktu Indonesia tengah) bus tujuan Genting baru saja berangkat. a�?Jadwal berikutnya pukul 12.30,a�? kata wanita berjilbab dari balik kaca loket. Ya, jadwal keberangkatan bus di terminal ini memang setiap setengah jam sekali. Waktunya sangat tepat, yang berangkat maupun yang datang.

Tiket bus jurusan Awana Genting seharga RM 4.30A� setara Rp 13 ribu (kurs RM 1 = Rp 3.031). Untungnya kami membeli tiket lebih awal, sehingga dapat duduk di kursi bagian depan, tepatnya di baris kedua.

Stesen Sentral atau biasa disebut KL Sentral menuju Awana, terminal tujuan di Genting ditempuh dalam waktu satu jam. a�?Wah, bersih sekali ya. Padahal ini sudah masuk hutan. Jalannya juga mulus,a�? kata Haliludin mengomentari kondisi jalan yang mulai menanjak dengan pemandangan bukit dengan rimbunnya pepohonan. Marlon mengangguk sambil tersenyum, tanda sependapat.

Tiba di stasiun Awana, ternyata perjalanan belum sampai tujuan. Genting Highlands berada di puncak gunung dari pegunungan Titiwangsa yang berada di perbatasan negara bagian Pahang dan Selangor. Dari Awana, perjalanan harus dilanjutkan dengan kereta gantung Awana Skyway. Terus, di mana keretanya? Ternyata lokasinya di lantai empat bangunan stasiun Awana yang nampak masih baru.

Sama dengan KL Sentral, tiap lantai stasiun Awana dihubungkan eskalator. Untuk menuju lantai di atas, pengunjung harus melewati lorong-lorong yang sisi kiri dan kanannya masih ditempeli gambar dengan bahan dasar vinil. Dari kondisinya, bangunan ini memang belum jadi 100 persen.

Nah, di lantai empat ada tempat penjualan tiket kereta gantung. Ada yang manual di loket, dan tersedia di mesin-mesin mirip ATM. Kami mencoba membeli tiket di loket, tapi ditolak petugas. Ternyata, loket itu hanya melayani penumpang rombongan.

Untuk individu dilayani dengan mesin. Harga tiket untuk sekali perjalanan RM 8 per orang. Masukkan uang, pencet menu pilihan, tiket dan uang kembalian pun keluar dari mesin.

Perjalanan menegangkan dimulai. Setelah menempel tiket di scaner, pintu masuk menuju kereta gantung langsung terbuka.

Boks-boks kereta gantungA� terus bergerak perlahan. Satu boks kereta gantung maksimal memuat 10 orang dewasa. Saat itu, boks yang yang kami naiki berisi enam orang. Kami bertiga dan tiga orang lainnya; dua pria dan satu wanita berjilbab. Kami tidak kenal mereka.

Pintu boks kereta yang kami tumpangi mulai tertutup otomatis. Bergerak pelan diiringi bunyi a�?gruduka�? seperti kereta api, tapi halus. Semakin lama semakin kencang.

Sunyi. Sepi. Dari dalam boks terlihat boks yang ada di depan dan belakang maupun yang menggantung, bergerak ke arah berlawanan. Gerakannya halus dan menambah kesunyian di atas boks yang tergantung pada tali sling baja seukuran lengan orang dewasa. Semakin jauh, tali sling itu nampak tipis. Mirip kabel listrik SUTET.

Rada-rada ngeri. Jujur, ini pengalaman pertama yang membuat jantung berdegup kencang. Semakin ke atas, menuju Genting Highlands yang berlokasi di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, awan semakin tebal. Stasiun Awana pun terlihat semakin kecil di bawah. Tiba-tiba petir menggelegar. Kereta terhenti. Kami bertiga panik.

a�?Tenang saja, tidak apa-apa,a�? kata pria yang duduk di tengah menghadap kami. Dari papan nama yang terpampang di dada sebelah kirinya, pria tadi diketahui bernama Sanusi.

Tidak sampai 10 detik, kereta kembali bergerak. Menurut Sanusi, kereta yang kami tumpangi baru setahun ini beroperasi. Masih baru. a�?Ini sudah melalui uji coba ratusan kali,a�?A� tutur karyawan Resort World Genting ini. Setiap hari, Sanusi selalu naik kereta gantung ini menuju tempat kerjanya yang berlokasi di Genting Highlands.

a�?Duarrrra��.,a�? petir kembali menggelegar diiringi cahaya kilat yang membelah awan hitam. Hujan pun semakin deras. Kali ini, jantung kami tidak berdegup kencang. Penjelasan Sanusi sudah membuat kami cukup tenang.

Kereta sempat berhenti di Shin Swee Station. Pintu boks terbuka. Kami sempat akan turun. a�?Belum, masih di atas sana,a�? kata Sanusi pada kami yang semakin akrab berbincang dengannya.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, kami menginjakkan kaki di Genting Highlands, kawasan yang dibangun pria asal Fujian, Cina, Lim Goh Tong tahun 1960 silam. Suasananya tidak menggambarkan kita sedang berada di puncak gunung. Yang ada itu adalah pusat perbelanjaan. Ya, pusat perbelanjaan yang ada di puncak gunung. Kami pun baru sadar berada di puncak gunung begitu terpapar udara luar yang sangat sejuk. a�?Wow, dingin,a�? kata Marlon.

Saat nongkrong sambil minum kopi di salah satu gerai, penulis teringat dengan wacana Pemkab Lombok Tengah yang akan membangun fasilitas kereta gantung menuju Gunung Rinjani. Terbayang betapa indahnya danA� berjubelnya pengunjung yang menggunakan fasilitas itu. Namun, selain mewujudkan kereta gantung, harus juga dipikirkan fasilitas-fasilitas pendukung yang perlu dibangun di Gunung Rinjani. Sehingga pengunjung tidak hanya menaiki kereta gantung, tanpa tujuan yang jelas ke Gunung Rinjani. (*/bersambung/r1)

Berita Lainnya

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Jalan di Tempat

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost