Lombok Post
Giri Menang Headline

Inovasi TTG NTB : Luas Kolam Satu Meter Bisa Hasilkan Satu Ton Ikan

MENJANJIKAN: Kepala Litbang Kota Mataram Miftahurrahman menunjukkan kolam bio flok hasil karya Hariadi saat pameran TTG tingkat provinsi di halaman kantor bupati, kemarin (26/4).( ZAINUDDIN/LOMBOK POST )

Selama ini masyarakat banyak memanfaatkan lahan luas untuk budidaya ikan. Namun dengan teknologi bio flok karya Ahriadi, kebiasaan itu bisa ditinggalkan. Berikut laporannya.

 

————————————-

Setelah resmi dibuka Wakil Gubernur NTB H M Amin Selasa (25/4) lalu, pameran Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat provinsi ke XV cukup menyita perhatian masyarakat. Ratusan masyarakat dari berbagai penjuru datang ke halaman kantor Bupati Lobar, kemarin.

Mereka ingin melihat langsung sejumlah teknologi canggih dan unik hasil karya warga NTB. Salah satu karya yang dipamerkan di TTG dan cukup menyita perhatian pengunjung adalah teknologi bio flok. Teknologi budidaya ikan dengan mengedepankan penggunaan sistem teknologi modern.

Berbeda dengan budidaya ikan konvensional yang membutuhkan lahan luas, serta biaya tak sedikit. Budidaya ikan menggunakan teknologi bio flok ini tidak memerlukan lahan luas, lebih efisien, dan menghasilkan produk berkualitas.

Teknologi ini diklaim sangat mudah dan menjanjikan. Selain itu sangat efektif dan mampu A�mendongkrak produktivitas.

Dengan ukuran kolam yang sempit mampu memproduksi ikan lebih banyak. Keunggulan lainnya, biaya produksi lebih sedikit dan waktu relatif lebih singkat dibanding budidaya secara konvensional.

Kepala Litbang Kota Mataram Miftahurrahman menjelaskan, dengan sistem bio flok, per meter persegi bisa menghasilkan ikan satu ton. Hasil yang sangat fantastis dan menjanjikan di tengah keterbatasan lahan bagi masyarakat yang ingin budidaya ikan.

Dengan teknologi ini, juga bisa mengetahui kondisi ikan setiap waktu. “Kalau ada penyakit, juga bisa dideteksi langsung,a�? jelasnya.

Program budidaya ikan teknologi bio flok menjadi program unggulan Kota Mataram di TTG tingkat provinsi 2017. Hasil kreasi Hariadi ini, kata Miftahurrahman belum bisa dipasarkan. Bio flok ini juga tidak boleh terkena air hujan.

a�?Insya Allah ke depan bisa diterapkan luas di masyarakat,a�? tandasnya.

Teknologi bio flok memang membutuhkan pengetahuan lebih. Sisitem ini menggunakan bakteri pengurai, sehingga masyarakat perlu diberikan pelatihan terlebih dahulu sebelum merasakan manfaatnya.

Keunggulan lain teknologi ini, lahan yang sudah tidak produktif bisa dimanfaatkan sebagai tempat budidaya ikan. Bahkan bisa dilakukan di pekarangan rumah. Satu unit kolam bio flok, harganya sekitar Rp 8 juta. (M Zainuddin/r5)

 

Berita Lainnya

Menelusuri Penyebaran Islam di Pulau Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (2)

Korban Gempa Dikadali, BPBD Terima Laporan Bahan Rumah Korban Gempa Tak Sesuai Spek

Menelusuri Penyebaran Islam di Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (1)

Kedubes Prancis Kunjungi Poltekpar Lombok

Zohri Spektakuler! Genggam Tiket ke Tokyo 2020

BNI Tebar 100 Ribu Bingkisan Ramadan

Disperindag Cek Kecurangan SPBU

Hearing Buntu, Aldi Tempuh Jalur Hukum

Progres RTG Belum Sesuai Harapan