Lombok Post
Metropolis

Area Persawahan di Kota Mataram Terancam Punah

KERJA KERAS : Seorang petani tengah membersihkan sawahnya yang sudah dikelilingi perumahan. Ivan/Lombok Post

MATARAMA�– Palu pengesahan revisi Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) sudah diketuk. Tetapi sampai saat ini, poin pengesahan menyisakan banyak perhatian publik.

Setelah sebelumnya, rencana beberapa sekolah dipindah untuk kepentingan investasi. Lalu,A� Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam porsi tertentu ada yang digabung. Kini ekses dari semua itu, target pertanian bakal menurun drastis.

a�?Target (panen padi) sekitar 30 ton,a�? kata Mutawalli.

Tetapi kini, jangankan bermimpi untuk bisa swasembada beras. Target capaian untuk panen dalam satu tahun bahkan sulit tercapai. Apalagi, menurut keterangan Dinas Penanaman Modal Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), para pengembang yang mengajukan izin alih fungsi lahan saja sebanyak 10 pengembang.

Namun, Mutawalli yakin, direvisinya perda RTRW 2011-2031 tidak serta merta melenyapkan persawahan di kota. Pihaknya akan berupaya sekuat tenaga untuk menggenjot hasil pertanian daerah. Setidaknya, untuk menambal kebutuhan pangan di daerah.

a�?Kita akan upayakan capai target itu,a�? cetusnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi II Bidang Perekonomian DPRD Kota Mataram Misban Ratmaji menyebut, LP2B ditetapkan diangka 643 Ha. Sejauh ini luas lahan yang masih tersisa 1.973 Ha.

a�?Mau tidak mau, ini konsekwensi dari pembangunan, sebab kalau tidak direvisi, pembangunan di kota diam di tempat,a�? kata Misban.

Senada dengan Mutawalli, ia juga menyebut taget produksi pertanian 30 ton dalam satu tahun ke depan masih realistis. Walaupun, dengan disahkannya revisi perda RTRW yang baru, memungkinkan untuk beberapa izin yang diajukan pengembang bisa dieksekusi tahun ini.

a�?Saya rasa masih bisa (pertanian kejar taget), 643 ha itu kan kondisi di akhir tahun 2031,a�? cetusnya.

Pada akhirnya nanti, ketika laju investasi sudah tidak terbendung, kota harus siap kehilangan sawah. Ia menilai swasembada pangan sudah tidak mungkin lagi terwujud.

a�?Tapi dengan alih fungsi itu, daya beli masyarakat bisa meningkat, sehingga tidak perlu tanam padi,a�? tandasnya. (zad/r3)

Berita Lainnya

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost