Lombok Post
Headline Selong

LPA : Lotim Tak Ramah Bagi Anak

BUTUH PENGAWASAN: Sejumlah anak saat mengikuti kegiatan Temu Anak Lombok Timur Sabtu (29/4) lalu di Pendopo Bupati Lotim. TONI/LOMBOK POST

SELONGA�– Tingginya angka kasus kekerasan terhadap anak di Lombok Timur (Lotim) menjadi perhatian bergagai pihak. Mulai dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Lotim, Dinas P3AKB, hingga Forum Anak Lombok Timur. Sejumlah persoalan yang melilit anak ini pun dibahas dalam kegiatan Temu Anak Lombok Timur Sabtu (29/4) lalu.

a�?Hampir tidak ada ruang yang aman bagi anak di Lombok Timur ini. Kenapa saya bilang demikian, itu karena melihat kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi hampir di semua lini,a�? beber Ketua LPA Lotim, Judan Putra Baya.

Maksud A�Judan, sejak tahun 2016 lalu, sejumlah kasus kekerasan terhadap anak terus terjadi. Mulai dari kekerasan seksual, kekerasan fisik hingga kekerasan verbal. Dimana kasus kekerasan tersebut malah terjadi di lingkungan yang seharusnya aman bagi anak-anak. a�?Bayangkan saja, ada orang tua memperkosa anaknya, ada guru yang mencabuli siswanya, ada ibu yang membuang bayi di lingkungan sekitarnya dan banyak lagi lainnya. Semua ruang ini padahal seharusnya menjadi ruang yang aman bagi anak,a�? sesalnya.

Lingkungan keluarga harusnya menjadi lingkungan yang paling aman bagi anak-anak. Kemudian lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar dan bermain bagi anak justru tak bisa bebas dari predator anak.

A�a�?Ada guru yang mencabuli puluhan siswanya di Pringgabaya selama puluhan tahun. Namun itu malah terkesan ditutup-tutupi. Ini ada apa?a�? tanyanya.

Kemudian, lingkungan masyarakat yang harusnya ikut berperan aktif mengawasai anak-anak justru kian tak peduli dan acuh terhadap kondisi anak-anak saat ini. Baik pengawasan dalam pergaulan hingga perilaku anak-anak seolah tidak dipedulikan.

Dari hasil kajian dan berdasarkan kasus di lapangan, persoalan ini dikatakan Judan bermuara pada satu hal. Yakni lemahnya pengawasan dan pembinaan orang tua terhadap putra-putri mereka. a�?Kami melihat fenomena saat ini nyaris 12 jam orang tua ini tidak bisa memberikan pengawasan terhadap anak-anaknya sendiri. Dengan siapa mereka bergaul, apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka bergau itu lepas dari pantauan orang tua,a�? ungkapnya.

Masih minimnya pengawasan keluarga terhadap anak-anak dikatakan Judan tidak terjadi pada keluarga dengan wanita karir. a�?Tetapi ibu-ibu petani juga kondisinya seperti itu. Mereka lalai memberikan pengawasan terhadap anak-anak mereka karena sibuk bekerja,a�? ungkapnya.

Sementra itu Ketua LPA NTB Sahan juga menyoroti sejumlah persoalan terkait anak yang terjadi di Lotim. Ia mengungkapkan Lotim sebagai daerah dengan penyumbang angka perkawinan usia dini tertinggi di NTB. Selain itu, sejumlah anak-anak di Lotim saat ini juga banyak yang belum memiliki akta kelahiran. a�?Jadi persoalan-persoalan ini yang kita harapkan nanti bisa disampaikan duta anak Lotim saat kegiatan temu anak di Provinsi kepada gubernur,a�? harapnya.

Kegiatan temu anak merupakan wadah bagi anak bersama semua elemen baik pemerintah dan lembaga pemerhati anak untuk memetakan persoalan yang dihadapi anak di masing-masing daerah. Kegiatan hari ini merupakan kegiatan rutin tahunan kabupaten Kota, Provinsi, hinga nasional.

a�?Melalui kegiatan temu anak ini, anak-anak dipersiapkan melakukan pemetaan melakukan potret wilayah masing-masing. Itu akan disampaikan untuk kemudian bisa dicarikan solusi A�oleh pemerintah melibatkan semua pihak,a�? ujarnya.

Kepala Dinas P3AKB H Surot membantah anggapan bahwa Lotim tidak aman bagi anak. Sebaliknya ia menilai Lotim sebagai tempat yang sangat aman. Karena semua tempat umum untuk anak baik di lembaga pendidikan, pelayanan kesehatan, tempat bermain semuanya tak ada masalah.

a�?Kalau toh masih ada kasus kekerasan anak, itu menunjukkan keberanian dan kesadaran masyarakat lebih baik. Sehingga kasus itu bisa ditindaklanjuti,a�? terangnya.

Semua laporan menurut Suroto selalu ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum, teramsuk oleh P2TP2A dan LPA. a�?Kalau jumlah kasus lebih banyak wajar karena jumlah anak di Lotim sekitar 410 ribu lebih,a�? jelasnya.

Pemkab saat ini dikatakan Suroto semakin gencar melakukan sosialisasi pemenuhan hak anak. Konsekuensinya keberanian dan kesadaran masyarakat akan meningkat dan berani lapor saat melihat kasus kekerasan anak. a�?Pernikahan dini juga harus dilihat sebagai sesuatu yang bijak dari berbagai aspek. Data atau kondisi kita 10 atau 15 tahun yang lalu bagaimana? Upaya kita untuk pendewasaan usia perkawinan melibatkan berbagai pihak. Mulai dari PKK, GOW, Dharmawanita, ormas agama, LSM bahkan beberapa ponpes dan desa sudah mulai membuat awik-awik,a�? pungkasnya. (ton/r2)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost