Lombok Post
Praya

Kampung Wisata Adat Sengkoah, Desa Labulia (2-habis) : Juara Satu Desa Wisata Adat se Pulau Lombok

KERAJINAN TANGAN: Hasil kerajinan tangan Hendri Kiswan, di Kampung wisata adat Sengkoah Desa Labulia, Jonggat Lombok Tengah (Loteng), Sabtu (29/4) kemarin. dedi/Lombok Post

Ada lima desa di Pulau Lombok, yang mengikuti seleksi desa wisata adat. Kampung wisata adat Sengkoah Desa Labulia, Jonggat Lombok Tengah (Loteng) pun, terpilih menjadi juara satu.

***

Wajar saja, penghargaan itu diterima warga Dusun Sengkoah. Karena, ditempat itu terdapat sejumlah situs bersejarah. Sehingga, mereka tidak saja menjual kerajinan songket atau rumah adat, layaknya Dusun Sade Desa Rambitan, Pujut. Namun, lebih dari itu.

Awalnya, mereka bingung mengangkat nama dusunnya tersebut. Di satu sisi, potensi wisata adat, tradisi, sosial dan budayanya tinggi. Namun, berbekal ilmu dan pengalaman di Pulau Dewata Bali, penanggungjawab kampung wisata adat Sengkoah Siti Lathifah mencoba menjual kekayaan di wilayahnya.

Ia memulai langkahA� dari mengumpulkan para pemuda dusun setempat, guna menyatukan persepsi. Alhasil, kampung wisata adat Sengkoah pun resmi dibuka untuk para wisatawan, Sabtu (29/4) kemarin oleh Kepala Dinas Pariwisata Loteng HL Muhammad Putrie.

a�?Mohon arahan dan bimbingan Dinas Pariwisata. Kami ingin, kampung wisata adat Sengkoah dikenal,a�? harap Lathifah.

Terlebih, lanjut Lathifah kampung wisata adat Sengkoah berhasil menyisihkan kampung wisata adat desa lainnya di Pulau Lombok. Piagram penghargaannya sudah diterima dan diserahkan kembali ke pemerintah desa.

a�?Keberhasilan ini semua, tidak lepas dari campur tangan pemerintah desa. Terima kasih,a�? ujarnya.

Itu artinya, tekan Lathifah kampung wisata adat Sengkoah sudah selangkah lebih maju dengan yang lain, tinggal memperbanyak koneksi dan promosinya saja. a�?Kalau berbicara hasil kerajinan tangan, kami memiliki yang tidak dimiliki tempat lain,a�? sambung salah satu pengerajin pipa bekas Hendri Kiswan.

Pipa-pipa bekas itu, terang Hendri disulap menjadi buah tangan yang bernilai tinggi. Dari harga termurah Rp 100 ribu, hingga tertinggi Rp 250 ribu, tergantung motif dan ukuran pipa.

A�a�?Ini bisa ditemukan di kampung wisata adat Sengkoah. Mari datanglah,a�? serunya.

Selain kerajinan pipa bekas, di kampung wisata adat Sengkoah itu juga terdapat kerajinan anyaman rotan, bambu dan kain songket. Kualitasnya, tidak kalah dengan tempat lain. Agar dikenal luas mereka pun bersama-sama memanfaatkan media sosial. a�?Inilah perbuatan kecil, yang memberikan dampak besar,a�? tambah Kepala Dinas Budpar HL Muhammad Putrie.

Desa Sade misalnya, kata Putrie mereka hanya mengandalkan kearifan lokal. Namun, hasilnya mendunia. Untuk itulah, ia mengajak warga Desa Labulia kompak membangun, baik fisik maupun non fisik. a�?Kami atas nama Pemkab, memberikan aprisiasi kepada warga Labulia, yang mengangkat dan mempertahankan kearifan lokal,a�? ujarnya.(Dedi Shopan Shopian a�� Praya/r2)

Berita Lainnya

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost

Dewan Pertanyakan Penyedia Panel RISHA

Redaksi LombokPost

Kadis Baru Ditugaskan Perangi Calo

Redaksi LombokPost

PT Angkasa Pura I Salurkan Dana Pinjaman Mitra Binaan

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Bangun Pendeteksi Tsunami

Redaksi LombokPost