Headline Metropolis

Warga Mataram Mencibir Aksi Corat-coret Perayaan Kelulusan

MATARAMA�– Tepat pada perayaan Hari Pendidikan Nasional, pengumuman kelulusan SMA sederajat dilakukan. Di Mataram, aksi corat-coret tak terhindarkan.

Di berbagai sudut jalan tampak gerombolan anak-anak SMA sederajat dengan pakaian putih abu. Remaja laki-laki dan perempuan kompak saling mencoret seragam yang tiga tahun menemani mereka menempuh pendidikan.

“Corat-coret buat simbol kelulusan,a�? kata Pancagita, salah seorang siswi yang mencoret habis seragam di tubuhnya.

Pemerhati anak Kota Mataram Nyayu Ernawati menyayangkan kebiasaan tersebut. Dia mengatakan miris dengan pola dan tingkah laku para remaja Mataram dalam mengekspresikan kebahagiaannya. Apa yang dilakukan jelas salah dan tak bisa dibenarkan.

Bahkan, cara merayakan kelulusan seperti ini sudah dianggap ketinggalan zaman. Corat-coret baju saat kelulusan itu sangat kampungan. “Apa tidak ada cara lain untuk mengungkapkan rasa bahagia setelah lulus,a�? katanya penuh tanya.

Sindiran yang dilayangkan itu agaknya wajar, mengingat seragam tersebut secara tak langsung menjadi salah satu simbol menuntut ilmu. Ada lambang kebesaran SMA di dada yang ikut dicoret. Di bagian pundak, ada logo Kota Mataram dan nama sekolah yang juga ikut dicoret.

Makin membuat miris, aksi tersebut kerap diiringi perobekan baju dan celana bahkan rok pelajar putri. Ada juga aksi mewarnai rambut dengan cat semprot. Padahal selama bersekolah di jenjang SMA, mereka kerap dididik pentingnya sopan santun dan budi pekerti. Pelajaran terkait nilai, norma, dan moral juga diberikan.

Namun di hari kelulusan, siswa yang melakukan aksi-aksi tersebut seolah lupa dengan berbagai ajaran para guru yang mereka dapatkan. a�?Banyak hal bermanfaat lain yang bisa dilakukan,a�? sindirnya.

Aksi yang dilakukan para pelajar itu sontak mendapat cibiran dari berbagai kalangan warga Mataram. Zulfahmi, salah seorang warga mengatakan keprihatinannya. Sepanjang pagi kemarin, ia mendapati sejumlah kelompok pelajar saling mencoret baju seragam mereka sendiri. a�?Manfaatnya untuk apa coba,a�? tanyanya.

Di media sosial, sindiran juga mengalir deras untuk para pelajar. Akun instagram dedetzelth menulis kalimat selamat hari pendidikan disertai foto sejumlah siswa yang tengah berkonvoi dengan seragam penuh coretan. Di facebook, Rizal Paradeso mengatakan, “Wara wiri siswa kita tepat dihari pendidikan nasional. Ini revolusi mental.”

Pemkot Mataram tampaknya tak bisa berbuat banyak dengan aksi tersebut. Kasatpol PP Kota Mataram Chaerul Anwar mengatakan, pihaknya hanya bisa mengingatkan para pelajar tersebut. Sejak SMA sederajat dialihkan pengelolaannya pada provinsi, kota menurutnya tak bisa mengintervensi terlalu dalam hal tersebut.

“Kalau dulu jelas, kita ada perintah pelarangan diiringi sejumlah selebaran dan imbauan,a�? ujarnya.

Namun ia menegaskan tak tinggal diam. Khusus di kemarin, 25 personel yang tengah piket dikirim untuk berpatroli. Mereka diarahkan mencari titik-titik kumpul para elajar. Begitu kedapatan, langsung diberi arahan.

Bahkan jika berpotensi mengganggu ketertiban umum, personel diperintahkan tak segan membubarkan aksi tersebut. Mengantisipasi Mataram dijadikan titik perlintasan atau bahkan tempat kumpul oleh konvoi sejumlah pelajar dari berbagai daerah, pihaknya juga bersiaga di berbagai pintu pebatasan.

“Di ujung-ujung kita jaga, tegas kami halau mereka berkegiatan yang tak bermanfaat,a�? pungkasnya. (yuk/r5)

Related posts

Penggunanya juga Harus Ditangkap! Bayu Telusuri Praktik Prostitusi Online

Redaksi Lombok Post

Dukungan untuk Ahyar-Mori Mengalir dari Desa

Mohan: Ini Menyangkut Kewibawaan

Redaksi Lombok post