Lombok Post
Selong

Potret Buram Buruh Migran di Lombok (2-habis) : Ditelantarkan setelah Cacat, Berharap Memiliki Kaki Palsu

CACAT PERMANEN : Mantan buruh migran Jon Mariyono tetap beraktivitas seperti biasa. Sehari-hari dia menjadi tukang cukur untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Fathul/Lombok Post

Kisah Jon adalah potret buram penanganan buruh migran yang mengalami kecelakaan kerja. Dia dipulangkan begitu saja tanpa jaminan kesembuhan, apalagi jaminan hidup setelah cacat seumur hidup.

***

Ketika siuman Jon sudah berada di rumah sakit. Sendiri. Hanya perawat yang mengganti infus, memberikan obat, dan mengantarkan makanan yang pernah masuk ke ruangan itu.

Tak ada sesama pekerja yang datang menjenguk, tak ada bos tempat bekerja yang melihat kondisinya. Mungkin mereka sadar, Jon masuk ke Malaysia tanpa selembar dokumen. Takut jika berurusan dengan polisi.

Jon tidak merasakan kaki kanannya. Tapi dia melihat hanya tinggal tulang, dagingnya hancur. Setiap hari kondisi kaki itu semakin buruk, hingga akhirnya pada suatu malam dokter di rumah sakit memintanya untuk menandantangani berkas : persetujuan amputasi.

a�?Jam dua malam saya tanda tangan, saya pasrah saat itu,a��a�� kenang Jon. Ketika siuman dan sadar dari bius operasi, Jon pasrah dengan kaki satu.

Pemulangan Jon ke Indonesia tidak segampang ketika dipulangkan paksa saat ditangkap Polisi Diraja Malaysia. Seorang pemuda dengan kaki buntung dan belum sembuh tentu saja menyulitkan pemulangan. A�Jon dibuatkan paspor untuk kepulangan. Itu kali pertama Jon memegang paspor.

Isak tangis pecah ketika Jon sampai di rumahnya. Sonah tak henti-hentinya menangisi kondisi putranya itu. Dia tidak menyangka, putranya itu pulang dalam kondisi kaki teramputasi.

A�Setiap kali dia melihat perban di kaki kanan yang terpotong itu, Sonah tak bisa menahan perasaan sedihnya. Berminggu-minggu, berbulan-bulan. Hingga akhirnya dia sudah terbiasa dengan kondisi putranya itu. Selama masa penyembuhan Jon hanya dirawat di rumah sederhananya. Tidak ada biaya membawa ke rumah sakit.

a�?Dulu dikasi Rp 3 juta saat dibawa pulang ke rumah,a��a�� kata Sonah menyebutkan satu-satunya bantuan yang pernah diterima Jon.

Namun Jon tidak mau larut dalam kesedihan. Tuntutan ekonomi keluarga memaksaknya harus bekerja. Dengan kaki buntung, Jon merantau ke Batam. Di Batam dia menjadi tukang cukur. Dia sempat menikah, hingga kemudian cerai. Jon kembali ke kampung halamannya menjadi tukang cukur.

Jon pernah dibawa ke Selong, ibukota Kabupaten Lombok Timur. Jon tidak ingat dia masuk ke kantor apa. Dia hanya ingat saat itu dia didata untuk diberikan bantuan. Bantuan yang tidak kunjung tiba.

a�?Tongkat ini saja pemberian dari Malaysia, sudah beberapa kali saya ganti alasnya. Sudah rusak,a��a�� kata Jon menunjukkan tongkat penyangga tubuhnya.

Jon tidak tahu harus kemana meminta bantuan. Dia tidak minta uang. Jon hanya ingin meminta bantuan kaki palsu. Dengan kaki palsu setidaknya Jon bisa melakukan pekerjaan yang lain.

Dia ingin merantau ke Batam. Ingin bekerja di restoran, sekadar menjadi tukang cuci piring. Setidaknya dengan kaki palsu, dia bisa lebih gesit berjalan,walaupun akan tetap memakai tongkat penyangga.

a�?Saya tidak tahu kemana harus minta bantuan, tapi Kadus dan Kades tahu kalau kaki saya buntung. Setiap hari mereka melihat saya jalan,a��a�� kata Jon.

Dengan kaki buntung, Jon berangkat menyusuri lorong rumah tetangganya. Jalan di jalur utama desa menuju tempatnya bekerja. Hari itu dia berharap ada warga yang memotong rambutnya di kios cukur tempatnya bekerja. Jon ingin pulang membawa 20 angka A�token listrik prabayar. Dia tidak ingin tidur dengan suara tit..tit…tit…titttttttttttt dari meteran listrik yangA� terus mengiba minta diisikan pulsa. (Fathul Rakhman a�� Lombok Timur)

Berita Lainnya

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

Ditilang, Siswa Madrasah Nangis Minta Pulang

Redaksi LombokPost

SKD Selesai, Banyak Formasi CPNS Lowong

Redaksi LombokPost

Waspada Calo PNS !

Redaksi LombokPost

Cegah Kematian Ibu Hamil dan Bayi

Redaksi LombokPost

ADBMI Sosialisasikan Migrasi Aman Dengan Drama Rudat

Redaksi LombokPost

Sukiman Ungkap Kekecawaan di Hari Pahlawan

Redaksi LombokPost